JAKARTA, KOMPAS — Indeks Harga Saham Gabungan pada pekan kedua Juli masih membutuhkan katalis ekonomi yang positif untuk dapat bangkit ke level di atas 6.000. Beberapa analis menilai, pasar saham masih dalam bayang-bayang fluktuasi nilai tukar rupiah dan arus modal asing yang belum solid.
Pada perdagangan Senin (6/7/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di level 5.893. Sepanjang perdagangan sesi pertama, IHSG sempat naik menyentuh level 5.935 sebelum ditutup melemah di posisi 5.864. Nilai kapitalisasi pasar hingga tengah hari tercatat sebesar Rp 10.297 triliun dengan dana asing keluar mencapai Rp 425 miliar.
Pengamat pasar modal sekaligus pendiri WH Project, William Hartanto, menjelaskan bahwa tren perbaikan performa indeks masih berpeluang besar berlanjut. Keberhasilan IHSG mengamankan posisi di atas level 5.800 menjadi indikator teknikal yang cukup krusial.
"Ini adalah level yang cukup penting untuk menentukan potensi reversal," ujar William dalam laporan risetnya, Senin (6/7/2026).
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG menyentuh level 5.800 pada Jumat (3/7). Sepanjang minggu lalu, IHSG sedikit mengalami penurunan sebesar 0,35 persen ke level 5.875,7 dengan nilai kapitalisasi pasar Rp 10.287 triliun, merosot dari Rp 10.302 triliun pada pekan sebelumnya.
Pasar saham juga mengalami penurunan rata-rata frekuensi transaksi harian dalam sepekan lalu sebesar 16,71 persen menjadi 1,44 juta kali transaksi dari 1,73 juta kali transaksi pada pekan sebelumnya.
Meskipun terjadi penurunan nilai transaksi harian pada akhir pekan lalu, William menilai kondisi tersebut masih dalam batas wajar karena tidak merosot hingga di bawah 50 persen dari rata-rata historisnya.
Secara teknikal, selama level 5.800 mampu dipertahankan, IHSG berpotensi bergerak menguat. "Potensi penguatan lanjutan untuk IHSG terdukung secara teknikal di mana posisi 5.800 berhasil dipertahankan. Estimasi pergerakan IHSG hari ini berada di rentang 5.800 hingga 6.000," kata William.
Pandangan yang lebih konservatif diutarakan Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah. Ia menilai secara fundamental dan teknikal, IHSG sebenarnya masih berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan investor masih berhati-hati.
Walaupun tekanan jual mulai terkendali yang tecermin dari koreksi mingguan yang relatif tipis, kualitas dari pemulihan IHSG dinilai belum sepenuhnya kokoh. Hal ini disebabkan oleh volume transaksi yang menyusut serta akumulasi arus modal keluar investor asing (foreign outflow) yang masih cukup besar.
Pada pekan lalu, investor asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) di saham reguler sebesar Rp 2,95 triliun dan sepanjang tahun berjalan sebesar Rp 88,91 triliun.
Untuk perdagangan sepekan ke depan, 6–10 Juli 2026, Hari memproyeksikan batas terendah pergerakan IHSG di rentang 5.800–5.760. Jika tekanan terhadap mata uang rupiah kembali meningkat atau sentimen global memburuk, indeks berisiko menguji support lanjutan di level 5.650.
"Sementara itu, resistance (target batas atas) terdekat berada di 5.950, lalu area psikologis 6.000–6.050 yang perlu ditembus dengan volume yang lebih solid serta konfirmasi foreign inflow agar tren pemulihan menjadi lebih valid," jelas Hari.
Menurut Hari, pergerakan indeks pekan ini akan sangat bergantung pada stabilitas nilai tukar dan kebijakan moneter global.
Jika rupiah, yang hari ini masih senilai Rp 17.986 per dolar AS, mampu stabil di bawah Rp 17.900 per dolar AS dan asing mulai kembali melakukan aksi beli bersih (net buy) secara konsisten, Hari melanjutkan, IHSG berpeluang melanjutkan technical rebound ke 6.000–6.050.
Pergerakan nilai tukar rupiah dinilai akan menanti rilis data ekonomi pada pekan ini seperti FOMC Minutes dari Bank Sentral AS, data sektor jasa AS, serta sejumlah data domestik seperti cadangan devisa, Indeks Keyakinan Konsumen, dan Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia.
"Jika rupiah kembali menembus Rp 18.000 dan risalah rapat bank sentral AS (FOMC minutes) bernada hawkish, risiko menguji kembali area 5.800–5.650 masih terbuka," papar Hari.
Menghadapi kondisi pasar yang masih dibayangi ketidakpastian tersebut, Hari menyarankan investor untuk menerapkan strategi investasi yang defensif. Investor disarankan memprioritaskan keamanan portofolio terlebih dahulu dan menghindari aksi beli secara agresif pada saham-saham dengan likuiditas tipis atau lapis ketiga.
"Gunakan strategi masuk bertahap dan prioritaskan saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) yang memiliki likuiditas solid," katanya berpesan.





