KUPANG, KOMPAS - Riuh calon Taruna Akademi Kepolisian dari Nusa Tenggara Timur mendapat respons beragam dari sejumlah pihak. Sorotan itu seputar asal usul daerah para calon yang berjumlah enam orang. Polda NTT pun membuka nama semua calon Taruna Akpol dari Polda NTT tersebut.
"Belakangan ini Polda NTT mendapat sorotan. Demi transparansi publik, kami membuka identitas para calon agar diketahui," kata Kepala Bidang Humas Polda NTT Komisaris Besar Henry Novika Chandra pada Senin (6/7/2026). Ia pun memaparkan semua nama tersebut.
Pertama, Chelsea M Ahmadi lahir di Kupang, NTT, pada tahun 2007. Chelsea mengenyam pendidikan mulai SD sampai SMA di Kupang. Di Kupang ia tinggal bersama dengan kedua orangtuanya.
Kedua, Dobrimeka Wibowo yang lahir di Dompu, Nusa Tenggara Barat pada tahun 2008. Ia dibesarkan di Kupang sejak balita. Dobrimeka menjalani pendidikan dari SD sampai SMA di Kupang.
Ketiga, I Dewe Gede Yoga Krisnanda yang lahir tahun 2007 di Kupang. Ia menjalani pendidikan sejak SD sampai SMA di Kupang. Ia tinggal bersama orangtuanya.
Keempat, Ivano Garsing Karang lahir di Semarang tahun 2008. Ia menjalani pendidikan SD di Lampung, SMP dan SMA di Semarang mengikuti orangtuanya dengan latar belakang polisi sejak 2021. Berdasarkan data kartu keluarga, ia sudah berdomisili di Kota Kupang selama dua tahun lima bulan.
Serial Artikel
Polda NTT Bongkar Mafia BBM Bersubsidi, Dua Anggotanya Ditangkap
Potensi kerugian negara yang timbul diperkirakan Rp 10 miliar. Dua polisi di NTT yang terlibat mafia BBM bersubsidi terancam dipecat.
Kelima, Afandi Hidayat yang lahir di Kupang pada tahun 2006. Ia menjalani pendidikan dari SD sampai SMA di Kupang. Saat ini ia tinggal bersama orangtuanya di Kupang.
Keenam, Joel Ishak Silalahi yang lahir di Medan, Sumatera Utara, tahun 2008. Ia menjalani masa pendidikan sejak SD sampai SMA di Medan. Berdasarkan kartu keluarga, ia sudah berdomisili di Kota Kupang selama 3 tahun. Ia pindah mengikuti orangtuanya yang merupakan anggota polisi.
Menurut Henry, semua calon yang lolos mewakili NTT sudah mengikuti proses seleksi secara objektif dan memenuhi semua persyaratan yang ditetapkan. "Proses seleksi ini dipantau oleh tim internal maupun eksternal," katanya.
Sementara itu, media sosial riuh dengan nama-nama dimaksud yang menurut menurut mereka bukan "orang asli" NTT. Orang asli yang dimaksud adalah mereka yang menyandang bermarga khas NTT. Sementara itu, tidak ada aturan khusus mengenai hal itu.
Vinsen Bureni, anggota dari jaringan masyarakat sipil memahami jika publik bertanya tentang identitas para calon Taruna Akpol tersebut. "Mungkin karena tidak ada nama marga khas orang NTT jadi kesannya semua orang luar," ucapnya.
Namun, jika orang tersebut lahir dan dibesarkan di NTT, menurut Vinsen, orang itu sudah menjadi bagian dari putra atau putri NTT. Hal yang keliru ialah jika orang tersebut datang ke NTT sekadar untuk mengikuti tes taruna Akpol lalu melakukan rekayasa identitas.
Menurut dia, proses rekrutmen Akpol sangat ketat mulai dari tes psikologi, fisik, hingga kesehatan. Mereka yang lulus harus benar-benar berkualitas. Sebab, subjektifitas dalam seleksi tidak hanya merugikan institusi Polri semata, tetapi bangsa Indonesia.
Ia pun mendorong Polda NTT membentuk tim khusus untuk membantu mempersiapkan anak-anak NTT yang berminat mengikuti seleksi teruna Akpol. Mereka harusnya dibentuk sejak dini. "Banyak anak miskin yang punya kualitas namun mereka kurang persiapan. Polda bisa hadir," katanya.
Sementara itu, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena dalam video yang diperoleh Kompas mengatakan, akan mempelajari sorotan publik terkait rekrutmen calon Akpol di NTT. Ia berjanji akan akan mengecek fakta serta duduk perkaranya.
Serial Artikel
Kehidupan Taruna Akpol Difilmkan





