Jakarta: Pandemi covid-19 menjadi titik balik bagi Heru Wahyudi untuk memulai usaha kerajinan berbahan dasar paralon atau polyvinyl chloride (PVC). Berbekal modal sekitar Rp500 ribu, warga Jatimulyo, Tegalrejo, Yogyakarta, itu kini mampu meraih omzet hingga Rp10 juta per bulan saat mengikuti pameran.
Heru mengaku pendapatannya sempat tidak menentu selama pandemi karena pekerjaan yang dijalaninya kerap terhenti. Kondisi tersebut mendorongnya mencari peluang usaha baru yang belum banyak digarap di Yogyakarta.
"Saya kurang lebih merintis sampai 4-5 tahunan. Karena ada pandemi, kadang kerja, kadang nggak. Saya cari kerajinan yang belum ada di Yogyakarta," ujar Heru kepada Metrotvnews.com, saat ditemui di Jakarta Fair Kemayoran (JFK) 2026, Jakarta.
PVC merupakan material plastik sintetis yang ringan, tahan air, tahan karat, tahan terhadap bahan kimia, serta banyak digunakan dalam berbagai kebutuhan industri maupun rumah tangga. Melihat belum banyak pelaku usaha yang memanfaatkan paralon bekas sebagai produk kerajinan, Heru mulai bereksperimen dan mempelajari proses pembuatannya melalui kanal YouTube.
"Saya inovasi bikin dari paralon. Kenapa paralon? Karena bahannya mudah dicari. Kita juga masih bisa memanfaatkan bahan daur ulang. Kalau pesanan banyak baru beli bahan baru," katanya.
Dari bahan tersebut, Heru menghasilkan beragam produk, mulai dari asbak, tempat tisu, nampan, hingga dekorasi rumah.
Saat ini, omzet usahanya berkisar Rp3,5 juta hingga Rp5 juta per bulan. Nilai tersebut dapat meningkat hingga sekitar Rp10 juta ketika mengikuti pameran seperti Jakarta Fair.
Baca Juga :
Kain Tenun Bantarjo Khas Yogyakarta Dipamerkan di Jakarta Fair 2025Heru Wahyudi, pemilik kerajinan berbahan dasar paralon. Foto: Metrotvnews.com/Ade Hapsari.
Lolos seleksi pameran
Heru mengatakan keikutsertaannya di Jakarta Fair berawal dari informasi yang disampaikan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta mengenai seleksi peserta pameran.
Dari proses seleksi tersebut, hanya 10 pelaku UMKM yang terpilih untuk mengikuti pameran.
"Kita seleksi, dipilih cuma 10 orang. Alhamdulillah sudah tiga tahun berturut-turut ikut. Pendapatan otomatis naik dan kita juga bisa mencari buyer," ujarnya.
Usaha yang dijalankan bersama dua rekannya itu kini telah melayani pesanan dari berbagai daerah, seperti Nusa Tenggara Timur, Palembang, Sumatra, dan Kalimantan.
Produk kerajinan PVC miliknya juga dipasarkan di kawasan Malioboro serta Bandara Yogyakarta.
Berawal dari modal Rp500 ribu
Heru mengungkapkan usaha tersebut dirintis dengan modal sekitar Rp500 ribu.
Proses produksinya dimulai dari mengumpulkan bahan baku, memotong paralon sesuai desain, melakukan proses pembakaran untuk menghasilkan motif, menghaluskan permukaan, membentuk produk, merakit, hingga tahap pewarnaan sebelum dipasarkan.
Ke depan, ia berkomitmen terus menghadirkan produk baru agar usahanya tetap berkembang.
"Kita harus banyak produk-produk baru. Harus terus berinovasi dan mengikuti tren," kata dia.




