Beda Nasib 20% dan 100%: Kenapa Waktu Deteksi Menentukan Kesembuhan Kanker Leher Rahim

cumicumi.com
3 jam lalu
Cover Berita
































Peluang kesembuhan ternyata sangat bergantung pada kapan penyakit kanker leher rahim terdeteksi terdeteksi. Ketika hadir di acara podcast Special Interview, yang tayang di kanal Youtube Cumicumi, dr. Ngabila Salama mengungkap, jika kanker sudah terdeteksi di stadium lanjut, peluang sembuhnya tinggal sekitar 20 persen. Namun, peluang kesembuhan akan meningkat bilamana penyakit sudah  ditemukan sejak dini. Tepatnya saat masih berupa lesi prakanker, lantaran pada momen itu, kanker leher rahim bisa disembuhkan sepenuhnya.


"Sama seperti kanker payudara, kanker-kanker lain biasanya terdeteksi di stadium lanjut, stadium 3, 4, dan risiko untuk sembuhnya itu ya sudah tinggal mungkin 20-an persen," ujar dr. Ngabila dalam video yang tayang pada hari Minggu (05/07/2026)


Perbedaan antara 20 persen dan 100 persen memang terasa drastis, dan tentunya tidak hadir tanpa alasan. Pasalnya, hal itu berkaitan dengan sifat perkembangan kanker leher rahim yang secara bertahap. Dimulai dari infeksi virus HPV (human papillomavirus), lalu bisa berkembang menjadi lesi prakanker jika dibiarkan tanpa terdeteksi. Perkembangan lalu berlanjut menjadi kanker pada stadium awal, hingga akhirnya mencapai stadium lanjut jika terus tidak ditangani. Pada tahap lesi prakanker, penanganannya masih tergolong sederhana, menggunakan TCS atau krayo, yang bahkan bisa dilakukan lewat Puskesmas.


"Misal nih, 5 menit dikasih asam cuka, berubah tuh jadi lesi prakanker, ya bisa kita kasih TCA, bisa di krayo. Udah pada jago Puskesmas, atau kita rujuk ke dokter Obgyn. Intinya medikal banget lah, ya. Medik, cepat, dan langsung sembuh." sambungnya


Baca Juga: Bukan "Lebay", Ini Tanda Nyeri Haid yang Sebenarnya Tidak Normal

 

Ia menambahkan bahwa setelah penanganan itu, pasien tinggal rutin melakukan IVA setiap 6 bulan atau setahun sekali sebagai pemantauan. Karena menurut dr. Ngabila, tidak ada cara lain untuk memastikan status kesehatan selain melakukan pemeriksaan IVA dan HPV DNA PCR secara rutin.


Dokter Ngabila berharap, masyarakat melakukan itu dengan rentang waktu yang idealnya 1 tahun sekali. Apalagi, hal-hal tersebut sudah tersedia gratis di seluruh puskesmas Indonesia sebagai bagian dari program cek kesehatan gratis pemerintah. Untuk yang sudah pernah terdiagnosis positif HPV atau memiliki riwayat keluarga dengan kanker leher rahim, dr. Ngabila menyarankan pemeriksaan lebih sering.


"Kalau punya genetik cancer, genetik kanker layer rahim, atau pernah kanker layer rahim sebelumnya, ya lakukanlah IVA HPV DNA-nya lebih sering, 6 bulan sekali. Kalau orang biasa, 1 sampai 3 tahun sekali," jelasnya.


Dengan tegas, dr. Ngabila menjelaskan bahwa temuan-temuan di tahap awal ini bukan sesuatu yang perlu ditakuti. Bahkan, bisa sembuh total.


"Itu bisa sembuh total," katanya


Dokter Ngabila pun menambahkan bahwa penanganan pada tahap dini bisa berjalan sangat cepat dan tidak berisiko kambuh.



Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prediksi Skor Portugal vs Spanyol di Piala Dunia 2026: Susunan Pemain dan Head to Head
• 5 jam lalukompas.tv
thumb
Jelang Brasil vs Norwegia: Rivalitas Panas Gabriel dan Haaland Berlanjut di Piala Dunia 2026
• 22 jam lalumedcom.id
thumb
UAH Ungkap Rahasia Tetap Tenang Saat Dihina dan Diuji, Kuncinya Ada dalam Surah Ad-Duha
• 8 jam lalurepublika.co.id
thumb
Djokovic capai perempat final Wimbledon sembari lampaui rekor Federer
• 20 jam laluantaranews.com
thumb
CDC: Tren Melahirkan di Usia 40 Tahun Meningkat, Ini yang Perlu Dipahami
• 10 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.