Gelombang Panas di AS Tewaskan 25 Orang, 140 Juta Warga dalam Peringatan

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Gelombang panas ekstrem yang melanda Amerika Serikat (AS) telah menewaskan sedikitnya 25 orang. Lebih dari 140 juta warga juga masih berada di bawah peringatan cuaca panas ekstrem.

Mengutip The Guardian, sebagian besar korban jiwa tercatat di Negara Bagian New Jersey, dengan 22 kematian.

Korban lainnya dilaporkan berasal dari Illinois dan Mississippi.

Otoritas setempat menyebut sebagian korban ditemukan di rumah tanpa pendingin ruangan (AC), sementara lainnya meninggal setelah terpapar suhu ekstrem di luar ruangan maupun di dalam kendaraan.

Perayaan Kemerdekaan Terdampak

Gelombang panas turut mengganggu rangkaian perayaan 250 tahun Kemerdekaan AS pada Sabtu (4/7) lalu.

Di Washington DC, suhu mencapai sekitar 39,4 derajat Celsius, menjadi rekor tertinggi untuk tanggal 4 Juli. Cuaca ekstrem membuat sejumlah parade dan acara publik dibatalkan.

Ribuan orang yang hendak menghadiri pidato Presiden Donald Trump di National Mall juga sempat dievakuasi akibat badai petir sebelum akhirnya diizinkan kembali masuk setelah cuaca membaik.

Meski begitu, sebagian warga tetap bertahan menghadiri perayaan.

Seorang pensiunan pegawai negeri asal Washington, Randy Cole, mengatakan cuaca panas bukan alasan untuk melewatkan momen tersebut.

"Mengalami sedikit panas tidak seberapa dibanding pengorbanan banyak orang yang telah memberikan kebebasan bagi negara yang luar biasa ini," ujar Cole.

Panas Makin Ekstrem

Layanan Cuaca Nasional AS (NWS) menyebut lebih dari 140 juta warga Amerika masih berada di bawah peringatan cuaca panas ekstrem.

Para ilmuwan iklim menilai gelombang panas yang semakin sering dan intens dipengaruhi oleh perubahan iklim, sebagai dampak dari pemanasan global yang terus meningkat.

"Perubahan iklim membuat gelombang panas menjadi lebih sering terjadi, lebih intens, dan berlangsung lebih lama," kata Michael Mann, ilmuwan iklim dari University of Pennsylvania.

Selain suhu siang yang tinggi, suhu malam yang tetap panas membuat tubuh sulit mendingin sehingga meningkatkan risiko dehidrasi, kelelahan akibat panas (heat exhaustion), hingga sengatan panas (heat stroke) yang dapat berakibat fatal.

Otoritas kesehatan pun mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan, memperbanyak minum air putih, serta memanfaatkan ruangan berpendingin untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat cuaca ekstrem.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sejumlah Ruas Jalan Arteri di Jakarta Macet Pagi Ini
• 14 jam laludetik.com
thumb
Tak Lagi Garang, Ini Momen Bang Jago Pemukul Pemotor di Jaksel Ditangkap
• 9 jam laludetik.com
thumb
ATEEZ Ukir Sejarah di Billboard 200, Rekornya Kalahkan Stray Kids dan TXT
• 6 jam lalutabloidbintang.com
thumb
DPR Usul Bentuk Unit Khusus Buat Jaga Bandara Perintis di Papua, Ini Alasannya
• 12 jam laluviva.co.id
thumb
DSI hingga Royalti Bayangi Prospek Saham Batu Bara
• 16 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.