JAKARTA, KOMPAS.com - Pembeli barang bekas selama ini kerap dipandang hanya sebagai pelaku sektor informal yang berkeliling membeli rongsokan dari rumah ke rumah.
Padahal, di balik aktivitas tersebut, mereka memegang peran penting sebagai penghubung rantai ekonomi yang mengalirkan barang-barang bekas dari rumah tangga menuju pengepul, pasar barang bekas, bengkel reparasi, hingga industri daur ulang.
Di tengah meningkatnya volume sampah perkotaan dan berkembangnya ekonomi digital, profesi ini dinilai tetap memiliki fungsi ekonomi yang belum tergantikan.
Peneliti Ekonomi GREAT Institute, Adrian Nalendra Perwira, menilai pembeli barang bekas merupakan penghubung penting antara rumah tangga dengan berbagai pelaku ekonomi di hilir, mulai dari pengepul, pasar barang bekas, bengkel reparasi, hingga industri daur ulang.
Baca juga: Di Balik Rumah Mewah Menteng, Pembeli Barang Bekas Bertahan di Tengah Gempuran Marketplace
"Saya melihat pembeli barang bekas sebagai perantara yang menghubungkan rumah tangga dengan pasar barang bekas, pengepul, bengkel reparasi, dan industri daur ulang," kata Adrian saat dihubungi Kompas.com, Senin (6/7/2026).
Menurut dia, posisi pembeli barang bekas berbeda dengan sebagian besar pelaku sektor informal lainnya.
Jika pedagang umumnya menjual barang kepada masyarakat, pembeli barang bekas justru membeli barang dari rumah tangga.
Artinya, arus barang bergerak dari konsumen menuju pasar barang bekas. Dalam perspektif ekonomi, kondisi tersebut merupakan bagian dari reverse logistics, yakni aliran barang dari konsumen kembali ke pasar untuk dijual ulang, diperbaiki, diambil komponennya, atau didaur ulang.
"Rumah tangga menjadi pemasok, sementara pembeli barang bekas menjadi pihak yang mengambil nilai dari barang yang sudah tidak dipakai," kata dia.
Baca juga: Prabowo Hadiahi SD di Sukabumi yang Bermain Drumben dengan Barang Bekas
Adrian menjelaskan, fungsi utama pembeli barang bekas ialah menemukan nilai ekonomi yang masih tersisa pada barang yang oleh pemiliknya sudah dianggap tidak berguna.
Barang-barang seperti lemari lama, kulkas rusak, kipas angin mati, maupun berbagai perabot rumah tangga tidak selalu harus berakhir menjadi sampah.
Di tangan pembeli barang bekas, benda-benda tersebut masih dapat dimanfaatkan kembali, baik sebagai barang utuh, komponen, maupun material.
"Jadi mereka membantu memindahkan barang dari orang yang tidak lagi membutuhkan kepada pihak yang masih bisa memanfaatkannya," ujar Adrian.
Menurut dia, keberadaan jaringan pembeli barang bekas juga menjadi bagian dari infrastruktur informal kota yang selama ini bekerja tanpa dukungan anggaran pemerintah.
Baca juga: Terdampak Pelemahan Rupiah, Pengepul Barang Bekas di Pematangsiantar Kurangi Pekerja
Di tengah tingginya aktivitas konsumsi masyarakat perkotaan, mereka membantu mencegah barang-barang yang masih memiliki nilai ekonomi langsung masuk ke aliran sampah.
"Karena itu saya melihat pembeli barang bekas sebagai infrastruktur informal kota yang meskipun tidak dibangun negara dan tidak dibiayai APBD, tetap membantu kota bekerja lebih efisien," katanya.
Meski demikian, Adrian mengingatkan bahwa profesi tersebut tetap menghadapi kerentanan yang tinggi.
Pendapatan mereka bergantung pada harga barang bekas, jumlah barang yang berhasil dikumpulkan, hingga posisi tawar terhadap pengepul.
"Jadi meskipun kontribusinya besar, kesejahteraan pelakunya belum tentu sebanding dengan fungsi ekonomi yang mereka jalankan," ujarnya.
Baca juga: Manfaatkan Barang Bekas untuk Bersihkan Sampah, Siswi SMAN 40 Jakarta Bikin Sapu Teknologi
Digital belum mampu menggantikanPerkembangan marketplace dan platform jual beli daring ternyata belum mampu menggeser keberadaan pembeli barang bekas.
Menurut Adrian, digitalisasi memang mampu menekan biaya pencarian pembeli untuk barang-barang tertentu.
Namun, hal itu tidak berlaku bagi barang rumah tangga berukuran besar, berat, rusak sebagian, atau memiliki nilai ekonomi yang relatif kecil.
Ia mencontohkan seseorang yang ingin menjual kulkas lama atau lemari rusak secara daring harus memotret barang, membuat deskripsi, melayani percakapan dengan calon pembeli, hingga bernegosiasi harga.
Setelah itu, penjual masih harus mengatur proses pengangkutan barang.
Baca juga: Gudang Barang Bekas di Margaasih Bandung Terbakar, Petugas Berjibaku Padamkan Api
Seluruh proses tersebut membutuhkan waktu dan tenaga yang sering kali tidak sebanding dengan nilai barang yang dijual.
"Untuk barang bekas yang nilainya kecil, biaya waktunya sering lebih besar daripada manfaatnya," kata Adrian.
Di sinilah pembeli barang bekas tetap memiliki ruang dalam ekonomi perkotaan.





