Harga Minyak Kembali ke Level Sebelum Perang Iran, OPEC+ Tambah Produksi

idxchannel.com
13 jam lalu
Cover Berita

Harga minyak ditutup di sekitar level sebelum pecahnya perang Iran pada Senin (6/7), setelah Arab Saudi memangkas harga jual resmi (official selling price).

Harga Minyak Kembali ke Level Sebelum Perang Iran, OPEC+ Tambah Produksi. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Harga minyak ditutup di sekitar level sebelum pecahnya perang Iran pada Senin (6/7/2026), setelah Arab Saudi memangkas harga jual resmi (official selling price/OSP), OPEC+ menyetujui kenaikan target produksi mulai Agustus, dan ekspor melalui Selat Hormuz terus pulih.

Kontrak berjangka (futures) minyak mentah Brent, yang sempat menyentuh level tertinggi dalam empat tahun di atas USD126 per barel pada akhir April, ditutup melemah 0,2 persen menjadi USD71,99 per barel.

Baca Juga:
Prospek Bank Lebih Menantang, Dua Saham Ini Tetap Dijagokan

Sementara itu, futures West Texas Intermediate (WTI) AS turun 0,2 persen ke USD68,55 per barel. Tidak ada penyelesaian perdagangan WTI pada Jumat karena pasar AS libur nasional.

Sepanjang pekan lalu, kedua kontrak nyaris tidak berubah setelah sepanjang sebulan terakhir bergerak turun hingga kembali ke level yang terakhir terlihat pada akhir Februari, sebelum dimulainya perang selama empat bulan yang memicu gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah, menurut International Energy Agency (IEA).

Baca Juga:
Saham JELI dan JECX Bakal Debut Perdagangan di BEI Hari Ini

"Penurunan harga masih dipengaruhi oleh kapal tanker yang sebelumnya sempat tertahan dan kini berhasil keluar dari kawasan Teluk, sehingga meningkatkan volume minyak yang berada di laut," kata Analis UBS Giovanni Staunovo, seperti dikutip Reuters.

Investor juga terus mencermati pembicaraan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mengenai masa depan pelayaran melalui Selat Hormuz, sembari memantau pemulihan ekspor minyak dari kawasan Teluk.

Baca Juga:
Wall Street Ditutup Menghijau, Ditopang Saham-Saham AI

Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Senin, AS akan mencapai kesepakatan dengan Iran atau "menyelesaikan urusan tersebut", seraya kembali melontarkan ancaman aksi militer ketika Teheran menunjukkan sikap menantang setelah pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Perundingan tidak langsung antara AS dan Iran berakhir pekan lalu tanpa menunjukkan kemajuan menuju perdamaian yang berkelanjutan, meski sebelumnya kedua pihak menjalani gencatan senjata selama 60 hari yang dimaksudkan untuk membuka ruang bagi upaya diplomatik setelah serangan militer AS dan Israel.

Di sisi lain, Uni Emirat Arab (UEA) meningkatkan produksi minyak mentahnya hingga mendekati rekor tertinggi, yakni di atas 3,8 juta barel per hari pada Juni, setelah keluar dari OPEC guna terbebas dari pembatasan produksi, menurut dua sumber yang mengetahui data produksi.

Arab Saudi menetapkan harga jual resmi minyak mentah andalannya, Arab Light, untuk pasar Asia pada Agustus sebesar USD1,50 per barel di bawah rata-rata harga Oman/Dubai. Pemangkasan tersebut menjadi yang terbesar secara bulanan sejak Reuters mulai mencatat data pada 2003.

Sementara itu, Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) juga menjual minyak mentah melalui tender dengan harga diskon, menurut para pelaku perdagangan kepada Reuters. (Aldo Fernando)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menko Pangan Apresiasi Langkah Cepat Menhut Terbitkan Regulasi Karbon
• 17 jam lalumetrotvnews.com
thumb
7 Fakta Korupsi Batu Bara Picu Blackout di Sumatera Diusut Polri
• 12 jam laludetik.com
thumb
IHSG Ditutup Melesat 1,19% ke 5.986, Rupiah Ikut Menguat
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
BRI Insurance Bayarkan Rp 950 Juta Klaim Asuransi Property All Risk di Probolinggo
• 9 jam lalujpnn.com
thumb
Wawalkot Curhat Tak Diajak Urus Bandung oleh Walkot Farhan
• 9 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.