Bisnis.com, JAKARTA — PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS) resmi melepas seluruh kepemilikannya di PT Krakatau Osaka Steel (KOS) kepada Osaka Steel Co. Ltd. (OSC). Dari transaksi divestasi tersebut, emiten baja pelat merah itu memperoleh dana sebesar US$14 juta.
Plt. Corporate Secretary Krakatau Steel Rachman Hidaya mengatakan perseroan telah mengalihkan sebanyak 14.000 saham seri B di KOS yang mewakili 20% hak suara dan 14% dari seluruh saham ditempatkan dan disetor penuh di perusahaan tersebut kepada OSC.
Nilai transaksi pengalihan saham tersebut mencapai US$14 juta dan telah dibayarkan lunas oleh OSC pada tanggal penandatanganan akta jual beli saham. Mengacu pada kurs JISDOR Bank Indonesia per 29 Juni 2026 sebesar Rp17.856 per dolar AS, nilai transaksi tersebut setara sekitar Rp249,98 miliar.
"Terhitung sejak tanggal kejadian, pengalihan saham telah menjadi efektif dan karenanya seluruh saham milik Perseroan dalam KOS telah sepenuhnya beralih kepada OSC," ujar Rachman dalam keterbukaan informasi, Senin (6/7/2026).
Berdasarkan keterbukaan informasi, transaksi tersebut dituangkan dalam Akta Perjanjian Pengalihan Hak atas Saham Nomor 105 tertanggal 29 Juni 2026 yang dibuat di hadapan Notaris Humberg Lie di Jakarta Utara.
Manajemen menjelaskan harga yang wajib dibayarkan OSC kepada Krakatau Steel atas penjualan saham tersebut sebesar US$14 juta. Pembayaran telah dilakukan secara penuh pada tanggal penandatanganan akta jual beli saham.
Dengan efektifnya transaksi tersebut, Krakatau Steel tidak lagi memiliki kepemilikan saham di Krakatau Osaka Steel sehingga seluruh saham perseroan pada perusahaan patungan tersebut telah beralih kepada Osaka Steel Co. Ltd.
Dari sisi kinerja, KRAS tercatat membalikkan posisi rugi menjadi laba bersih pada kuartal I/2026 di tengah program efisiensi ketat yang dijalankan manajemen.
Berdasarkan laporan keuangan akhir Maret 2026, KRAS membukukan laba bersih sebesar US$2,58 juta (sekitar Rp43,60 miliar, dengan kurs Rp16.900 per dolar AS) pada kuartal I/2026. Capaian ini berbanding terbalik dari kuartal I/2025 yang mencatat rugi bersih US$46,90 juta (sekitar Rp793,61 miliar).
Pemulihan laba bersih ini didorong oleh pertumbuhan pendapatan sebesar 11,76% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi US$262,36 juta (sekitar Rp4,43 triliun).
Pendapatan tersebut ditopang oleh segmen produk baja yang membukukan US$256,64 juta (sekitar Rp4,34 triliun), segmen sarana infrastruktur menyumbang US$77,47 juta (sekitar Rp1,31 triliun), dan segmen rekayasa dan konstruksi berkontribusi senilai US$3,3 juta (sekitar Rp55,77 miliar).
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





