Menembus Ombak dengan Satu Kaki: Kisah Nelayan Gembong Bertahan Hidup di Laut Jakarta

kompas.com
5 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Gemuruh ombak yang memecah permukaan laut tak pernah membuat nelayan bernama Andi (41), yang akrab disapa Gembong, gentar.

Sejak berusia 10 tahun, Gembong sudah sering diajak melaut oleh kedua orangtuanya yang berprofesi sebagai nelayan.

Profesi itu kemudian diwariskan kepadanya hingga kini. Tak heran, laut telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidupnya.

Namun, puluhan tahun bersahabat dengan lautan tidak menjamin Gembong selalu pulang ke rumah dengan selamat.

Baca juga: Warga Mimika Keluhkan Limbah Tambang ke DPR: Sungai Rusak, Nelayan Kehilangan Mata Pencaharian

Sekitar 21 tahun lalu, ia harus menerima kenyataan pahit. Kecelakaan kerja di laut membuatnya kehilangan kaki kanan.

Gembong bercerita, peristiwa itu terjadi di perairan Marunda, Jakarta Utara, saat ia bekerja sebagai buruh pengangkatan bangkai kapal.

Ketika itu, Gembong sedang memotong besi kapal yang tenggelam untuk diangkat.

"Memang sedang memotong besi kapal yang tenggelam untuk diangkat. Dulu saya bekerja ikut orang sebagai kuli. Saat sedang memotong besi kapal yang karam, tiba-tiba terkena hantaman sling di kaki sebelah kanan," ujar Gembong saat ditemui Kompas.com, Senin (6/7/2026).

Baca juga: Genap Satu Bulan Hilang, Misteri Keberadaan Kapal Nelayan Entok di Sumenep Belum Terpecahkan

Harus Diamputasi

Dengan kondisi kaki bersimbah darah, Gembong dibawa rekan-rekannya ke darat dan dilarikan ke Rumah Sakit Koja, Jakarta Utara, karena lokasinya paling dekat.

Namun, karena keterbatasan fasilitas medis, ia kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat.

Sepanjang perjalanan, Gembong masih yakin luka di kakinya bisa diselamatkan meski darah terus mengalir.

Harapan itu pupus. Dokter memutuskan kaki kanannya harus diamputasi karena kondisinya sudah sangat parah.

"Dokter bilang kaki saya harus diamputasi karena kondisinya sudah parah, tinggal urat bagian belakang saja yang tersisa," ujarnya.

Baca juga: Nelayan Tetap Melaut di Tengah Status Siaga Gunung Anak Krakatau, Hasil Tangkapan Menurun

Meski berat menerima kenyataan tersebut, Gembong akhirnya menyetujui tindakan amputasi.

Vakum Setengah Tahun

Kehilangan satu kaki tentu bukan perkara mudah bagi Gembong.

Kaki yang selama ini membawanya mengarungi lautan kini tak lagi mampu menopang tubuhnya secara seimbang.

Ia pun sempat kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari. Saat itu, Gembong hanya mampu menyalahkan diri sendiri dan keadaan.

Ia tidak lagi bisa melaut untuk mencari nafkah, sementara di rumah istri dan seorang anak bergantung pada penghasilannya.

Baca juga: Yunani Akan Bayar Nelayan untuk Buru Ikan Buntal Invasif

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Meski sempat putus asa, setelah enam bulan berlalu Gembong mulai bangkit dan berusaha menerima keadaan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
ATEEZ Ukir Sejarah di Billboard 200, Rekornya Kalahkan Stray Kids dan TXT
• 20 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Pengacara di Depok Diduga Diteror, Drone Bawa Granat Replika Jatuh di Rumahnya
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Kemenko Pemberdayaan Masyarakat Melepas 41 Pekerja Migran Indonesia ke Korea
• 20 jam lalujpnn.com
thumb
NPD siapkan mekanisme akses layanan streaming tur konser mereka
• 10 jam laluantaranews.com
thumb
Warga Sebut Jalan Ambles di Pulo Gadung Semakin Meluas
• 14 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.