Jakarta: Sekretaris Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso menyebut pembentukan enam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) baru masih menunggu persetujuan lewat peraturan pemerintah (PP).
Menurut dia, pembahasan mengenai persetujuan badan pengelola KEK masih terus berjalan. Pemerintah juga dijadwalkan kembali menggelar rapat untuk membahas proses tersebut.
“Ada enam KEK yang masih menunggu persetujuan PP-nya, karena satu KEK harus satu PP,” kata Susiwijono kepada wartawan di kantor Kemenko Bidang Perekonomian di Jakarta, dikutip dari Antara, Selasa, 7 Juli 2026.
Ia mengatakan pemerintah mencatat adanya minat yang tinggi dari pelaku usaha untuk masuk ke KEK maupun mengajukan pembentukan KEK baru.
Susiwijono juga mengatakan antrean pengajuan tersebut menunjukkan bahwa iklim investasi di Indonesia masih dinilai menarik oleh investor.
“Hari ini juga ada satu grup besar yang mengajukan permohonan. Artinya memang sebenarnya investasi di Indonesia masih sangat menarik sekali,” ujar dia.
Minat tersebut terutama terlihat dari sisi penanaman modal asing langsung atau foreign direct investment (FDI), khususnya pada sektor industri manufaktur.
Baca Juga :
Realisasi Investasi KEK Rp353,5 Triliun, Serap 266 Ribu Tenaga Kerja(Ilustrasi KEK Batang. Foto: Dok istimewa) Realisasi investasi KEK Ia mengungkapkan realisasi investasi pada KEK secara akumulatif telah mencapai Rp353,5 triliun per kuartal I-2026. Secara bersamaan, aliran modal itu juga mendorong serapan tenaga kerja sebanyak 266 ribu orang.
Ia pun mengatakan tiga KEK berbasis industri mengajukan permohonan perluasan lahan serta pengembangan kawasan dengan rata-rata dua kali lipat dari luas eksisting, yang bertujuan untuk mengakomodasi permintaan investasi baru.
Ketiga KEK itu di antaranya KEK Gresik, KEK Kendal, dan KEK Galang Batang.
Seiring dengan rencana perluasan itu, Susiwijono menyebut terdapat potensi investasi baru sebesar Rp846 triliun dalam beberapa tahun ke depan. Ia meyakini peluang tersebut mengindikasikan iklim investasi di Indonesia masih menarik perhatian investor.
“Artinya, iklim investasi di Indonesia masih sangat kondusif dan masih sangat menarik bagi FDI, khususnya di industri manufaktur,” ujar dia.




