Beban Agrinas dan PTPN Memikul Swasembada Pangan-Energi

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Pemerintah semakin serius mewujudkan swasembada pangan dan energi. PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) dan PT Perkebunan Nusantara III (Persero) turut memikulnya. Bahkan, kedua badan usaha milik negara itu mendapatkan penugasan baru dari pemerintah di tengah beban internal perusahaan.

PT Agrinas Palma Nusantara (APN) tidak hanya bertanggung jawab pada satu komoditas. Sejak menanggalkan nama usaha PT Indra Karya (Persero) per 10 Februari 2025, Agrinas Palma Nusantara ditugasi mengelola perkebunan sawit, serta membudidayakan kedelai, jagung, dan singkong.

PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III juga bernasib serupa. Holding perusahaan-perusahaan perkebunan milik negara pengelola kelapa sawit, tebu, karet, teh, dan kopi tersebut mendapat penugasan baru untuk membudidayakan singkong, kedelai, jagung, dan bawang putih.

Kementerian Pertanian meminta kami menambah luas lahan sawit dan membudidayakan kedelai, jagung, dan singkong.

Direktur Utama PT APN Adul Ghani, Senin (6/7/2026), mengatakan, APN mengelola perkebunan di kawasan hutan seluas sekitar 4,1 juta hektar. Perkebunan tersebut merupakan hasil penertiban lahan di kawasan hutan oleh Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH)

Dari total luasan itu, sekitar 2,4 juta hektar dalam proses verifikasi dan 1,7 juta hektar sudah terverifikasi. Dari lahan yang sudah terverifikasi itu, sekitar 730.000 hektar berupa perkebunan sawit dan sisanya nonsawit.

“Dalam rangka swasembada pangan dan energi, Kementerian Pertanian meminta kami menambah luas lahan sawit dan membudidayakan kedelai, jagung, dan singkong,” ujarnya dalam rapat dengar perndapat (RDP) di Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang digelar secara hibrida di kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Merujuk materi paparan PT APN, program Swasembada Pangan dan Energi berlangsung pada 2025-2023. Untuk itu, perseroan bakal menambah pekebunan sawit seluas 400.000 hektar untuk menambah produksi minyak sawit mentah (CPO) dan minyak goreng masing-masing sekitar 1.884 ton dan 174.000 ton.

Perseroan juga akan membudidayakan kedelai, jagung, dan singkong masing-masing seluas 400.000 hektar, 250,000 hektar, 300.000 hektar. Produksi kedelai ditargetkan sebanyak 1.200 ton, jagung 2.500 ton, dan singkong 7.500 ton.

Baca JugaSawit RI Tergencet Sana-sini

Di sektor ketahanan energi, APN akan memproduksi biodiesel dengan target sebanyak 600.000 ton dan bioetanol 185.000 ton. Dalam skenario mandatari B50 dan E10, kontribusi APB terhadap total kebutuhan biodiesel dan bioetanol pada 2030 masing-masing sekitar 2-5 persen dan 15-20 persen.

Untuk menopang produksi bahan bakar nabati tersebut, Ghani menambahkan, APN akan mereaktivasi atau mengoperasikan kembali pabrik biodiesel berkapasitas 600.000 ton di Rengat, Riau. Biaya yang dibutuhkan sekitar Rp 300 miliar.

“Kami juga berencana membangun pabrik bioetanol berbahan baku singkong dengan kapasitas produksi sekitar 185.000 ton,” katanya.

Dalam RDP tersebut juga terungkap, tidak mudah bagi PT APN merealisasikan target-target itu. Dari sisi lahan, masih banyak lahan hasil sitaan Satgas PKH yang masih harus diverifikasi dan dilegalisasi.

Dari sisi keuangan, PT APN baru mencetak laba bersih senilai Rp 2,7 miliar pada 2025 dari total pengelolaan 4,1 juta hektar lahan sawit sitaan negara. Hal ini diakibatkan besarnya beban transisi operasional dan pembenahan tata kelola atas aset bermasalah warisan masa lalu.

Butuh Rp 140 triliun

Dalam RPD dengan Komisi VI DPR yang digelar secara terpisah, Holding PTPN III memaparkan realisasi dan target produksi CPO dan gula. Dalam rangka menopang program Swasembada Pangan dan Energi, Holding III juga mendapatkan penugasan baru untuk membudidayakan singkong, kedelai, dan bawang putih.

Pelaksana tugas Direktur Utama PTPN III Iswahyudi mengemukakan, pada 2025, realisasi produksi CPO Holding PTPN III sebanyak 2,69 juta ton atau meningkat 104 persen secara tahunan. Produktivitas CPO juga meningkat 104,43 persen secara tahunan menjadi 4,8 ton per hektar.

Baca JugaBUMN Terpincang-pincang Mengejar Swasembada Gula

Untuk produksi tebu pada 2025, realisasinya meningkat 119,36 persen secara tahunan menjadi 14,29 juta ton. Dari hasil giling tebu tersebut, realisasi produksi gula kristal putih mencapai 882.546 ton, naik 103,68 persen secara tahunan.

“Pada 2026, kami menargetkan produksi CPO sebanyak 2,89 juta ton dan gula 600.825 ton. Tingkat rerata pertumbuhan tahunan atau CAGR CPO dan gula selama tujuh tahun masing-masing sekitar 3,27 persen dan 1,77 persen,” katanya.

Khusus bisnis gula, Iswahyudi melanjutkan, bakal ditangani sepenuhnya oleh PT Sinergi Gula Nusantara (SGN). Bisnis gula SGN bakal semakin kuat terutama setelah resmi mengakuisisi enam pabrik gula PT Rajawali Nusantara Indonesia yang sebelumnya dikelola ID Food.

Sementara guna menopang program Swasembada Pangan dan Energi 2025-2030, PTPN menggulirkan strategi intensifikasi, ekstensifikasi, dan hilirisasi. Strategi intensifikasi bakal menyasar peningkatan produksi CPO dan gula.

“Untuk itu, pada 2025-2026, kami menargetkan produktivtas tandan buah segar (TBS) kelapa sawit akan ditingkatkan dari 20,63 ton per hektar menjadi 21,5 ton per hektar. Produktivitas tebu juga ditargetkan naik dari 66,6 ton per hektar menjadi 83,2 ton per hektar,” katanya.

Serial Artikel

Titiek Soeharto: Malu Kita Makan Tempe dari Kedelai Impor

Bangsa Indonesia merupakan bangsa pemakan tahu dan tempe. Semestinya, budidaya kedelai harus menjadi prioritas, bukan malah mendatangkannya dari negara lain.

Baca Artikel

Terkait strategi ekstensifikasi, Iswahyudi menjelaskan, perkebunan kelapa sawit dan tebu akan ditambah masing-masing seluas 270.000 hektar dan 500.000 hektar. Holding PTPN III juga mendapatkan penugasan baru dari pemerintah untuk membudidayakan singkong, jagung, kedelai, dan bawang putih.

Oleh karena itu, dalam kurun waktu enam tahun, Holding PTPN III akan menanam singkong di lahan seluas 104.000 hektar, jagung 4.200 hektar, kedelai 250.000 hektar, dan bawang putih 24.000 hektar. Komoditas-komoditas itu akan digunakan untuk menopang kebutuhan pangan sekaligus biodiesel dan bioetanol.

Menurut Iswahyudi, komoditas-komoditas tersebut akan dikembangkan menjadi produk bernilai tambah tinggi. Untuk mewujudkannya, pembangunan pabrik-pabrik penopang hilirisasi bakal dikembangkan dan dibangun.

Di sektor kelapa sawit, produk yang bakal dikembangkan adalah biodiesel, gas biometana terkonpresi (CBG), margarin, dan lemak nabati campuran sawit (CBE). Di sektor pengolahan tebu, PTPN bakal menambah tiga pabrik gula dan membangun enam pabrik bioetanol.

“Pabrik-pabrik bioetanol itu juga akan digunakan untuk memproduksi bioetanol dari singkong dan jagung,” katanya.

Holding PTPN III membutuhkan dana belanja modal (Capex) sekitar Rp 140 triliun untuk perluasan lahan sejumlah komoditas pangan dan energi serta pembagunan pabrik penopang hilirasi.

Iswahyudi menegaskan, kapasitas lahan dan pabrik yang bakal dikembangkan dan dibangun sangatlah masif. Hal itu perlu ditopang dengan pendaan dan kesiapan organisasi yang sangat fundamental.

“Untuk merealisasikannya hingga lima tahun ke depan, Holding PTPN III membutuhkan dana belanja modal (Capex) sekitar Rp 140 triliun. Tentu saja ini membutuhkan dukungan yang sangat besar,” katanya.

Pada 2025, Holding PTPN III membukukan laba konsolidasi sebesar Rp 6,39 triliun atau melonjak 81,3 persen dibandingkan dengan 2024. Capaian tersebut terutama ditopang kenaikan harga CPO dan minyak inti sawit (PKO). Namun, dari sisi liabilitas atau utang yang harus dibayar, justru meningkat 102 persen secara tahunan menjadi Rp 77,42 triliun.

Baca JugaTetes Tebu Petani Tertekan Minimnya Serapan dan Jerat AS


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sebagian Gugatan Praperadilan Dikabulkan, Roy Suryo: Ini Babak Baru Hukum Indonesia
• 4 jam lalucumicumi.com
thumb
Prabowo Terima Eks PM Inggris Tony Blair di Kertanegara Semalam, Bahas Apa?
• 8 jam laludetik.com
thumb
Lagu Bupati Purwakarta Disorot, Ini 5 Rekomendasi Komnas Perempuan
• 23 jam lalukompas.com
thumb
Susunan Pemain AS vs Belgia: Balogun Starter, De Bruyne Cadangan
• 11 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Arief R Pabettingi: Standar Kompetensi Bongkar Muat Jadi Fondasi Penguatan Logistik Nasional
• 2 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.