Pantau - Badan Karantina Indonesia (Barantin) bersama Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) memperkuat sistem biosekuriti nasional melalui program manajemen risiko karantina hewan terintegrasi guna menghadapi ancaman penyakit hewan lintas batas.
Kepala Barantin Abdul Kadir Karding mengatakan kerja sama tersebut difokuskan pada penguatan sistem karantina berbasis manajemen risiko, termasuk pengembangan peta hama dan penyakit yang terintegrasi dengan sistem peringatan dini (early warning system).
“Kita ingin memperkuat biosekuriti nasional kita agar terhindar dari banyak hal terutama keamanan pangan kita,” ungkap Karding di Jakarta, Selasa.
Perkuat Sistem Karantina Berbasis RisikoProgram bertajuk Strengthening Animal Quarantine Risk Management through Integrated Assessment and Response Toward Agri-Threats itu dilaksanakan melalui Technical Cooperation Programme (TCP/INS/4101).
Kegiatan diawali dengan Inception Workshop yang dihadiri lebih dari 50 peserta dari kementerian dan lembaga, akademisi, asosiasi profesi, serta pakar kesehatan hewan.
Karding menjelaskan penguatan biosekuriti menjadi penting karena ancaman penyakit hewan lintas batas, zoonosis, dan spesies invasif dapat memengaruhi ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, hingga perdagangan.
“Karena itu, kami terus membangun sistem karantina yang modern, berbasis risiko, berbasis data, dan selaras dengan standar internasional agar mampu melindungi ketahanan pangan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” ujarnya.
Kerja sama tersebut berlangsung selama dua tahun mulai 1 Juli 2026 hingga 30 Juni 2028 dengan dukungan hibah FAO sebesar 200 ribu dolar AS atau sekitar Rp3,59 miliar.
Digitalisasi dan Peningkatan Kapasitas SDMDeputi Bidang Karantina Hewan Barantin yang diwakili Sriyanto mengatakan proyek tersebut akan menghasilkan tiga keluaran utama, yakni penguatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan sistem karantina berbasis digital, serta peningkatan kesadaran dan komunikasi risiko.
“Selama dua tahun pelaksanaan proyek akan menghasilkan tiga keluaran utama, yaitu penguatan kapasitas sumber daya manusia dalam manajemen risiko penyakit hewan karantina, pengembangan sistem terintegrasi berbasis digital, serta peningkatan kesadaran dan komunikasi risiko,” ungkap Sriyanto.
Menurutnya, sistem digital tersebut akan mendukung pemetaan penyakit hewan karantina, analisis risiko, pelaporan hasil pemantauan, serta early warning system.
Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor Leste Rajendra Aryal mengatakan ancaman penyakit hewan lintas batas, zoonosis, dan spesies asing invasif memerlukan sistem biosekuriti yang semakin terintegrasi.
“FAO berkomitmen mendukung Barantin memperkuat kapasitas analisis risiko berbasis teknologi digital agar Indonesia semakin siap menghadapi berbagai ancaman,” ujarnya.
Rajendra menambahkan sistem karantina yang kuat tidak hanya mencegah masuknya penyakit, tetapi juga meningkatkan kepercayaan negara tujuan ekspor terhadap komoditas asal Indonesia.
Barantin menargetkan kerja sama tersebut mampu mewujudkan sistem perkarantinaan nasional yang semakin adaptif, terdigitalisasi, dan berorientasi pada pelayanan publik untuk mendukung ketahanan pangan serta daya saing perdagangan nasional.




