JAKARTA, KOMPAS.com – Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) mengungkapkan, layanan angkot JakLingko masih menghadapi berbagai persoalan di lapangan yang kerap dikeluhkan masyarakat sebagai penggunanya.
DTKJ mendapat laporan keluhan masyarakat terkait perilaku pengemudi hingga operasional armada masih terus berdatangan, meski layanan tersebut menjadi salah satu moda transportasi andalan di Jakarta.
"DTKJ banyak mendapat keluhan dari masyarakat. Contohnya Mikrotrans 62 rute PGC-Condet yang pengemudinya ngebut dan jalannya beriringan sehingga waktu tunggu penumpang lebih lama," ujar Ketua DTKJ periode 2026-2029 Sugihardjo kepada Kompas.com melalui pesan singkat, Selasa (7/7/2026).
Baca juga: DTKJ Bakal Benahi Layanan Angkot Jaklingko Sebelum Usulan Tarif Rp 2.000 Berlaku
Kondisi tersebut menjadi perhatian DTKJ dan akan terus disampaikan kepada PT Transjakarta serta Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta agar segera dilakukan pembenahan.
"Layanan Mikrotrans yang kurang baik memang menjadi perhatian DTKJ untuk mengingatkan PT Transjakarta dan Dishub agar meningkatkan pelayanannya," kata Sugihardjo.
DTKJ sebagai lembaga independen membutuhkan masukan masyarakat untuk mendorong peningkatan kualitas transportasi publik di Jakarta.
"DTKJ sebagai lembaga independen sangat membutuhkan masukan masyarakat guna meningkatkan kualitas layanan transportasi," ucap dia.
Warga minta pelayanan dibenahiKeluhan serupa juga disampaikan sejumlah pengguna JakLingko. Mereka mengaku tidak keberatan apabila layanan Jaklingko nantinya dikenakan tarif, asalkan diikuti dengan peningkatan kualitas pelayanan.
Reni (25), warga Jakarta Barat, mengatakan hal yang paling menjadi perhatian adalah perilaku pengemudi yang masih sering berkendara secara ugal-ugalan.
Baca juga: Tak Semua Penumpang Jaklingko Bayar Rp 2.000, 15 Golongan Tetap Gratis
"Enggak keberatan (JakLingko berbayar) asal sopir jangan ugal-ugalan," ujar Reni kepada Kompas.com, Sabtu (4/7/2026).
Menurut Reni, selain cara mengemudi, pengemudi juga diharapkan tidak lagi mengabaikan calon penumpang yang sudah menunggu di halte atau bus stop.
Ia mengaku beberapa kali mendapati Jaklingko tetap melaju meski kondisi kendaraan masih kosong.
Senada dengan itu, Juju (45) mengaku tidak mempermasalahkan apabila tarif Mikrotrans menjadi Rp 2.000, selama perubahan tersebut dibarengi dengan peningkatan kenyamanan perjalanan.
"Enggak masalah Rp 2.000 asal Transjakarta jangan naik lebih dari Rp 5.000," tutur Juju.
Ia berharap pengemudi dapat berkendara lebih nyaman, termasuk mengurangi kecepatan saat melintasi polisi tidur agar penumpang tidak merasa terguncang.
Baca juga: DTKJ: Penumpang Jaklingko Diusulkan Bayar Rp 2.000, tapi Tak Semua





