HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Program SALAMA (Sahabat Anak Lewat Afirmasi tentang Aman Bencana) yang dikembangkan BPBD Kota Makassar terus menunjukkan perkembangan. Hingga pertengahan 2026, program edukasi kebencanaan tersebut telah menjangkau 18.090 anak dan diterapkan di 30 sekolah pada tujuh kecamatan rawan bencana.
Program tersebut kini dipersiapkan sebagai salah satu inovasi unggulan dalam penilaian Innovative Government Award (IGA) 2026 melalui pendampingan intensif dari Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Makassar.
Dalam forum pendampingan, BPBD memastikan seluruh indikator penilaian inovasi terdokumentasi secara komprehensif, mulai dari aspek kebaruan, manfaat, efektivitas, dampak, keberlanjutan, hingga potensi replikasi di daerah lain.
Keberhasilan implementasi SALAMA sebelumnya juga telah mendapat pengakuan melalui penghargaan Innovative Mayor Award (IMA) 2025, yang menjadi motivasi untuk terus menyempurnakan program.
BPBD menargetkan perluasan implementasi SALAMA hingga menjangkau 100 sekolah sepanjang 2026 agar manfaatnya dirasakan lebih banyak anak dan keluarga di Kota Makassar.
Sementara itu, Tim Inovasi sekaligus Fasilitator Lapangan SALAMA, Nurmadia Syam, mengatakan pendampingan BRIDA menjadi momentum penting dalam meningkatkan kualitas inovasi.
“Serta memperkuat dokumentasi evidence sebagai salah satu aspek utama dalam penilaian Innovative Government Award (IGA) 2026,” katanya.
Menurut Nurmadia, evidence yang disusun tidak hanya berisi kelengkapan administrasi, tetapi juga harus mampu menunjukkan dampak nyata program di lapangan.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap bukti yang disajikan benar-benar merepresentasikan manfaat inovasi bagi masyarakat,” tuturnya.
Ia menjelaskan, setiap indikator dirancang untuk menggambarkan perubahan perilaku, peningkatan pengetahuan, dan kesiapsiagaan anak setelah mengikuti program SALAMA.
Nurmadia menambahkan, penguatan evidence juga menjadi bagian dari upaya agar inovasi tersebut tidak hanya kompetitif pada ajang IGA 2026, tetapi juga mudah direplikasi oleh pemerintah daerah lain.
“Yang kami tonjolkan bukan hanya jumlah sekolah atau peserta, tetapi bagaimana SALAMA mampu meningkatkan pemahaman anak tentang mitigasi bencana, membentuk karakter yang lebih tangguh, serta menumbuhkan budaya sadar bencana sejak usia dini,” jelas Nurmadia. (*/)





