Perlindungan terhadap sektor peternakan menjadi prioritas utama pemerintah dalam menjaga kesejahteraan perekonomian masyarakat akar rumput. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, tercatat sekitar 23 juta rumah tangga di Indonesia menggantungkan penghidupan mereka pada sektor tersebut.
Badan Karantina Indonesia (Barantin) selaku lembaga negara penanggung jawab pengawasan ancaman hama dan penyakit hewan lintas batas, menilai tantangan biosekuriti memicu kerugian ekonomi yang luar biasa besar jika tidak dimitigasi. Menghadapi tantangan itu, Barantin meluncurkan sistem pengawasan digital terintegrasi melalui kemitraan dengan FAO.
“Ancaman Hama dan Penyakit Hewan Karantina (HPHK), penyakit hewan lintas batas, penyakit zoonosis, hingga spesies asing invasif tidak hanya berdampak pada sektor peternakan, tetapi juga dapat mengganggu kesehatan masyarakat, menurunkan produktivitas, menghambat ekspor, bahkan menimbulkan kerugian ekonomi yang besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, sekitar 23 juta rumah tangga di Indonesia menggantungkan penghidupannya pada sektor peternakan,” jelas Karding dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Karding melanjutkan, penguatan biosecurity merupakan investasi jangka panjang bagi Indonesia. Sistem karantina yang kuat bukan hanya menjadi benteng pertama mencegah masuknya penyakit dan organisme pengganggu, tetapi juga meningkatkan kepercayaan negara tujuan ekspor terhadap komoditas Indonesia. Dengan demikian, perlindungan sumber daya hayati berjalan seiring dengan peningkatan daya saing perdagangan nasional.
“Barantin tidak ingin menjadi bottleneck di perbatasan. Namun, percepatan arus barang juga tidak boleh mengorbankan keamanan hayati Indonesia. Karena itu, kami terus membangun sistem karantina yang modern, berbasis risiko, berbasis data, dan selaras dengan standar internasional agar mampu melindungi ketahanan pangan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” tutur dia.
Pengembangan ekosistem digital ini dirancang untuk memetakan sebaran Hama Penyakit Hewan Karantina secara akurat dan berbasis ilmiah. Sistem ini juga dilengkapi dengan instrumen analisis risiko serta teknologi penunjang pengawasan di lapangan.
Baca Juga: Percepat Layanan Ekspor, Barantin Bakal Deregulasi 22 Aturan
Baca Juga: Kejar Target 5.000 Desa Ekspor, Kemendes Gandeng Barantin
Di sisi lain, Kepala Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Rajendra Aryal, menegaskan bahwa tantangan penyakit hewan saat ini tidak dapat diselesaikan oleh satu sektor saja. Menurutnya, pendekatan One Health menjadi kunci dalam menjaga kesehatan hewan, manusia, tumbuhan, dan lingkungan secara terpadu.
“Sistem karantina hewan merupakan garda terdepan dalam melindungi negara dari ancaman penyakit lintas batas. FAO berkomitmen mendukung Barantin memperkuat kapasitas analisis risiko berbasis teknologi digital agar Indonesia semakin siap menghadapi berbagai ancaman, sekaligus menjaga keamanan perdagangan, kesehatan masyarakat, dan keberlanjutan ekosistem,” terang Rajendra Aryal.
Penerapan pemantauan berbasis teknologi mutakhir ini diyakini bakal mempercepat proses pengambilan kebijakan oleh para pemangku kepentingan. Keberadaan sistem pertahanan hayati yang kokoh dipastikan akan menyelamatkan hajat hidup jutaan peternak lokal.





