China Berpeluang Dominasi Orbit Rendah Bumi

kompas.id
1 hari lalu
Cover Berita

Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) berhenti beroperasi pada 2030. Setelah itu, belum ada kepastian stasiun luar angkasa lain yang bisa beroperasi penuh di orbit rendah Bumi, kecuali Tiangong milik China. Amerika Serikat telah menyiapkan sejumah stasiun luar angkasa komersial, tetapi apakah stasiun itu bisa beroperasi sebelum ISS pensiun masih menjadi pertanyaan besar.

Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) memastikan akan mendeorbit ISS dan membuangnya ke selatan Samudra Pasifik pada akhir 2030 atau awal 2031. Sementara mitra terbesar mereka, Perusahaan Antariksa Negara Rusia (Roscosmos) sudah akan mendeorbit segmen mereka di ISS pada 2028. Infrastruktur yang menua dan tingginya biaya perawatan menjadi alasan utama.

ISS mengorbit Bumi di ketinggian sekitar 400 kilometer. Stasiun ini terdiri atas dua segmen, yaitu bagian Rusia dan AS beserta sekutunya yaitu Uni Eropa, Jepang, dan Kanada. Elemen pertama ISS, yaitu modul Zarya milik Rusia, sudah ditempatkan di orbit sejak 1998 dan tuntas dibangun pada pada 2011. Kerja sama internasional untuk mengoperasikan ISS ini selesai pada 2024, tetapi AS dan sekutunya sepakat untuk memperpanjang pengelolaanya hingga 2030.

Baca JugaStasiun Luar Angkasa Internasional Akan Dibuang ke Laut

Namun serangan Rusia ke Ukraina pada 2022 dan sanksi negara-negara Barat terhadap Rusia membuat kerja sama luar angkasa itu sempat menghadapi tekanan. Terlebih, pengurangan impor teknologi canggih Rusia oleh AS hingga lebih dari 50 persen turut mengganggu industri dan program luar angkasa Rusia. Ketegangan itu sempat membuat Roscosmos mengancam untuk mengakhiri kerja sama ISS lebih dulu dibanding waktu kerja sama yang telah ditentukan dengan mencabut modul-modul Rusia di ISS.

Namun, seperti dikutip dari DW.com, 17 Februari 2023, ketegangan itu bisa diredam mengingat AS dan Rusia sama-sama memiliki saling ketergantungan dalam pengoperasian ISS. Modul Rusia berfungsi sebagai pendorong utama ISS yang memastikan stasiun itu tetap berada di orbit mengingat ISS mengalami penurunan ketinggian hingga 70 meter per hari. Sedangkan segmen AS berperan sebagai penyedia daya dan sistem pendukung kehidupan.

Karena itu, segmen AS dan Rusia tidak bisa beroperasi sendiri-sendiri. Meski demikian, kerja sama tetap harus diakhiri hingga usia ISS sudah hampir mencapai tiga dekade. NASA pun telah meluncurkan Rencana Transisi ISS pada 2022 dengan mendanai dan mendorong sejumlah perusahaan AS untuk mengembangkan stasiun luar angkasa komersial. Namun tidak ada kepastian bahwa stasiun-stasiun luar angkasa komersial itu bisa beroperasi sebelum 2030.

China yang saat ini menjadi satu-satunya negara yang mengoperasikan stasiun luar angkasa secara mandiri, justru kian menunjukkan taringnya.

Pada saat bersamaan, China yang saat ini menjadi satu-satunya negara yang mengoperasikan stasiun luar angkasa secara mandiri, justru kian menunjukkan taringnya. Sejak beroperasi dan rutin ditempati taikonot atau antariksawan China mulai 2021, stasiun luar angkasa Tiangong kian berkembang. Saat ini, Tiangong terdiri atas tiga modul yang membentuk formasi huruf T dengan modul utama dinamai Tianhe.

Kini, seperti ditulis Space.com, 27 Juni 2026, China berencana menambah tiga modul lagi, yaitu dua modul eksperimen baru dan satu modul serbaguna. Dengan demikian, Tiangong nantinya akan memiliki enam modul dan membentuk formasi T ganda. Penambahan modul itu dilakukan untuk memperluas skala operasi Tiangong akibat terus meningkatnya kebutuhan untuk melakukan penelitian dan makin banyaknya misi berawak dan kargo yang sandar di stasiun tersebut.

Tak hanya itu, China juga tengah mengembangkan wahana antariksa atau kapsul baru untuk keperluan kargo maupun pengiriman taikonot ke Tiangong. Selama ini, pengiriman antariksawan dilakukan dengan menggunakan kapsul Shenzhou yang mampu mengangkut tiga antariksawan. Kapsul baru Mengzhou ditarget mampu membawa tujuh taikonot dan rencananya diluncurkan akhir tahun ini.  

Baca JugaLompatan Teknologi ”Sang Naga”

Selain itu, China juga tengah mengembangkan observatorium luar angkasa Xuntian yang diperkirakan datang di orbit lebih dulu dibanding ketiga modul tambahan Tiangong tersebut. Teleskop luar angkasa ini memiliki cermin utama berdiameter 2 meter atau sedikit lebih kecil dari teleskop luar angkasa Hubble, tetapi memiliki medan pandang 300 kali lebih besar dari Hubble. Teleskop itu rencananya akan diluncurkan pada 2027.

Xuntian akan berbagai orbit dengan Tiangong. Artinya, Xuntian dapat sandar atau berlabuh di Tiangong untuk menjalani pemeliharaan, perbaikan, pengisian bahan bakar, dan berpotensi untuk ditingkatkan kapasitasnya. Dengan berbagai kemajuan dan capaian tersebut, kekuatan China di orbit rendah Bumi tidak bisa dipandang sebelah mata lagi.

Stasiun komersial

Di tengah kemajuan yang dicapai China dalam pengembangan teknologi antariksa, dominasi AS di orbit rendah Bumi justru diliputi ketidakpastian. Sejak 2021, NASA telah menggelontorkan jutaan dolar atau triliunan rupiah untuk mendanai sejumlah perusahaan swasta untuk mendesain dan mengembangkan pembangunan stasiun luar angkasa komersial. Harapannya, setidaknya ada satu konsep stasiun luar angkasa komersial yang bisa diluncurkan sebelum 2030.

Beberapa konsep stasiun luar angkasa komersial itu antara lain stasiun luar angkasa Orbital Reef yang dirancang Blue Origin bersama Sierra Space, Boeing, Amazon, dan beberapa perusahaan lain untuk menjadi kawasan bisnis dan penelitian multiguna luar angkasa. Ada pula stasiun luar angkasa Starlab yang dibangun Nanoracks LLC bersama Lockheed Martin, Airbus, dan Northrop Grumman dalam konsorsium Voyager Space untuk melayani berbagai kebutuhan untuk penelitian komersial dan wisata luar angkasa.

Selain itu, ada stasiun luar angkasa Axiom yang dibangun oleh Axiom Space. Pembangunan stasiun ini dirancang menggunakan modul awal yang menempel pada ISS. Sebelum ISS dinoaktifkan, Axiom ditargetkan sudah berkembang menjadi stasiun komersial multi-modul yang mandiri. Saat ini, Axiom baru melayani penerbangan wisata ke luar angkasa yang sudah berlangsung empat kali. Pengiriman turis luar angkasa berikutnya akan dilakukan pada 2027.

Stasiun luar angkasa komersial yang cukup berkembang dibanding yang lain adalah Haven-1 yang dibangun oleh Vast Space. Modul Haven-1 direncanakan akan diluncurkan pada kuartal pertama 2027 menggunakan roket Falcon 9 milik SpaceX. Jadwal peluncuran ini sudah mundur setahun dari rencana awal karena proses integrasi bagian sistem penunjang kehidupan dan pengujian lingkungan belum tuntas dikerjakan tahun lalu.

Baca JugaSwastanisasi Industri Luar Angkasa Kian Menunjukkan Hasil

Jika rencana tersebut berjalan lancar dan Haven-1 mulai beroperasi beberapa minggu, maka kapsul Crew Dragon milik SpaceX direncanakan akan mulai mengirimkan astronotnya untuk keperluan riset. Stasiun Haven-1 dirancang mampu menampung empat astronot sekaligus dan dilengkapi dengan laboratorium sains, interior modul modern yang antroposentris, serta internet kecepatan tinggi dari Starlink. Jika Haven-1 sukses, maka Haven-2 yang lebih besar akan diluncurkan kemudian dan menggantikan peran ISS.

Selain perusahaan-perusahaan AS, Rusia juga berencana mengembangkan stasiun luar angkasa mandiri bernama Stasiun Orbital Rusia (ROS). Tahap pertama wahana ini berupa modul energi dan riset direncanakan akan diluncurkan pada 2027. Modul universal dan sejumlah modul lain akan dikirimkan pada 2030 dan dua modul khusus akan dipasang pada 2031-2033. Setelah itu selesai, ROS baru dapat ditempati.

Dikutip dari Kantor Berita Rusia Tass, 2 Juli 2024, proyek ROS dilakukan untuk menjaga keberlangsungan program penerbangan luar angkasa berawak Rusia setelah keluar dari ISS. Wahana ini juga akan mengerjakan berbagai tugas-tugas pengembangan ilmiah-teknis, ekonomi, dan keamanan negara yang sulit dilakukan di ISS akibat keterbatasan teknologi dan ketentuan dalam perjanjian internasional.

Meski secara konsep di atas kertas terlihat meyakinkan, namun tetap tidak ada jaminan bahwa program stasiun luar angkasa komersial dari sejumlah perusahaan AS maupun ROS milik Rusia akan beroperasi tepat waktu.

Meski secara konsep di atas kertas terlihat meyakinkan, namun tetap tidak ada jaminan bahwa program stasiun luar angkasa komersial dari sejumlah perusahaan AS maupun ROS milik Rusia akan beroperasi tepat waktu. Dari kasus penundaan peluncuran Axiom, uji kapsul berawak buatan Boeing Starliner yang bermasalah, hingga penundaan peluncuran misi Artemis II yang terbang melintasi Bulan, maka setiap misi dan penerbangan ke luar angkasa itu bersifat unik dan sulit diduplikasi.

Keberhasilan peluncuran sebelumnya, pengalaman yang baik di masa lalu, hingga kesuksesan perusahaan atau negara lain tidak bisa dijadikan jaminan bahwa penerbangan dan misi luar angkasa berikutnya juga akan berjalan lancar. Belum lagi, penerbangan berawak ke luar angkasa memiliki tantangan yang lebih besar karena keselamatan antariksawan adalah faktor utama yang tidak dapat ditawar.

Laporan Kantor Inspektorat Jenderal (OIG) NASA pada 30 November 2021 pun sudah mengingatkan bahwa taruhan penggantian ISS oleh stasiun luar angkasa komersial sangat tinggi. Setap masalah yang muncul dapat mengancam potensi ekonomi luar angkasa AS yang telah dibangun selama ini. Kekhawatiran itu juga muncul dari Kongres AS karena bisa mengancam dominasi AS dalam pengoperasian misi berawak di orbit rendah Bumi yang bisa dijaga selama beberapa dekade terakhir.

Baca JugaChina dan Ambisi Menjadi Kekuatan Antariksa Terkemuka 2045

Di sisi lain, saat ini NASA fokus menjalankan misi Artemis untuk mendaratkan kembali manusia di Bulan pada 2028 dan membangun koloni manusia di Bulan secara berkelanjutan setelah 2030. Misi ini memiliki banyak tahapan yang tidak mudah dan menguras sumber daya yang dimiliki NASA. Situasi ini bisa memecah konsentrasi NASA yang bisa membuat AS kehilangan dominasinya di orbit rendah Bumi.

Saat bersamaan, seperti ditulis SpaceNews.com, 2 Juni 2026, NASA telah menarik konsep modul inti yang menjadi syarat utama agar modul komersial bisa berfungsi. Modul ini akan menyediakan sistem propulsi, sistem pendinginan, sistem pendukung kehidupan dasar, dan kompatibel dengan wahana transportasi yang ada. Modul inti ini mirip ISS 2.0 yang menjadi penghubung dengan modul komersial ke ISS dan bisa memperpanjang masa pakai ISS hingga 2030.

Penarikan konsep modul inti itu dikecam keras perusahaan-perusahaan swasta yang tengah mengembangkan stasiun luar angkasa komersial. NASA beralasan bahwa penarikan konsep itu dilakukan karena pasar stasiun luar angkasa komersial nyatanya belum berkembang seperti yang diantisipasi NASA.

Selain itu, kini China pun makin terbuka dengan dunia luar. Meski China membangun Tiangong secara mandiri, China telah membuka pintu Tiangong bagi negara-negara lain untuk ikut berpartisipasi di stasiun tersebut. Saat ini, sudah ada taikonot asal Hongkong Lai Ka-ying yang terbang ke Tiangong. China juga tengah melatih dua antariksawan Pakistan untuk bisa menjadi spesialis muatan yang salah satunya akan terbang ke Tiangong pada akhir 2026.

Berbagai tantangan global yang muncul itu membuat Tiangong milik China berpeluang menjadi satu-satunya stasiun luar angkasa yang beroperasi setelah ISS pensiun. Jika China dapat memanfaatkan kesempatan itu, maka China bisa menguasai potensi ekonomi di orbit rendah Bumi untuk riset dan pengiriman misi berawak. Kondisi itu juga bakal menciptakan keseimbangan baru dalam pengembangan teknologi luar angkasa, bukan lagi antara AS dan Uni Soviet seperti di era perang dingin, tetapi menjadi antara AS dan China.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Viral Terduga Pembunuh Wanita ASN Bangkalan, Kuasa Hukum Sebut Pelaku Masih Diburu Polisi
• 5 jam lalurctiplus.com
thumb
FBI Selidiki Aliran Dana Rp5,4 Triliun Asosiasi Sepak Bola Argentina
• 1 menit lalucelebesmedia.id
thumb
Info Penting soal Nasib PPPK Paruh Waktu dan Downgrade, Alhamdulillah Positif
• 8 jam lalujpnn.com
thumb
BSI Perkuat Dana Murah dan Transformasi Sistem IT, Bukukan Laba Rp3,39 T dan Tumbuh Tumbuh 16,73 Persen Per Mei 2026
• 2 jam laluterkini.id
thumb
Kortastipidkor Dalami Isu Temuan Foto yang Diduga Jampidsus saat Geledah di Sentul
• 1 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.