REPUBLIKA.CO.ID, Sebagai pusat keilmuan Buddha di Asia Tenggara, Sriwijaya juga dikenal sebagai kerajaan yang terbuka terhadap berbagai bangsa. Bukti-bukti menunjukkan bahwa pelabuhan Sriwijaya telah ramai disinggahi kapal-kapal Arab dan Persia, sehingga terjadi interaksi awal antara masyarakat setempat dengan Islam.
Melalui kedatangan pedagang dan pelaut Arab serta Persia, penduduk kerajaan maritim itu mulai mengenal ajaran Islam, bahkan beberapa catatan mengisyaratkan adanya Muslim pribumi di lingkungan Sriwijaya.
Baca Juga
Program Doktor Perbankan Syariah UIN Jakarta Masuk Daftar Kampus Tujuan LPDP
Pembentukan Pusat Finansial Internasional, OJK Yakin Tarik Investasi Berkualitas
Satgas Haji Umrah Tetapkan 32 Tersangka yang Sudah Merugikan 3.550 Orang Jamaah
Buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII-VXIII menyebutkan, meski Sriwijaya terkenal sebagai pusat terkemuka keilmuan Buddha, kerajaan ini merupakan kerajaan yang kosmopolitan. Agamawan dan pengembara terkenal dari Cina, I-Tsing memberikan informasi bahwa ia menumpang kapal Arab dan Persia menuju Pelabuhan Sriwijaya.
Yuantchao dalam Tcheng-yuan-sin-ting-che-kiao-mou-lou yang ditulis pada awal abad ke-9, menyatakan bahwa pada tahun 99 H/ 717 M sekitar 35 kapal Persia sampai di Palembang. Seusai kerusuhan di Kanton, banyak Muslim Arab dan Persia yang diusir dari Kanton menuju Palembang untuk menemukan wilayah perlindungan yang aman.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Berdasarkan catatan-catatan I-Tsing, Prof Azyumardi Azra dalam buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII-VXIII menjelaskan ada isyarat penduduk Sriwijaya telah berinteraksi dengan kaum Muslim yang datang dari Timur Tengah. Dalam batas tertentu, mereka juga telah mengenal sebagian ajaran Islam.
Al-Ramhurmuzi dalam Aja'ib al-Hind mengisyaratkan adanya sejumlah Muslim pribumi di kalangan penduduk Sriwijaya sendiri. Riwayat al-Ramhurmuzi ini tampaknya diperkuat oleh Chau Ju-Kua yang menyatakan, "Sejumlah besar penduduk negeri ini (San-fo-chi) memiliki nama awal P'u." Sebagaimana dijelaskan Hirth dan Rockhill, istilah "P'u" berasal dari "Bu" singkatan dari "Abu" (bapak), yang terdapat dalam begitu banyak nama pribadi orang Muslim.
Pengunjung berwisata di Kawasan Candi Bahal, Portibi, Padang Lawas Utara (Paluta), Sumatera Utara, Kamis (13/10/2022). Candi Bahal yang dibangun sekitar abad ke-11 Masehi tersebut menjadi salah satu cagar budaya di Sumatera Utara dan merupakan peninggalan zaman keemasan Kerajaan Sriwijaya. - (ANTARA/Fransisco Carolio)