Pulang dari Turki, Donald Trump Mendadak Ganti Pesawat ke Air Force One Lama

metrotvnews.com
10 jam lalu
Cover Berita

Ankara: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memutuskan terbang kembali dari KTT NATO di Turki menggunakan pesawat lama Air Force One, alih-alih memakai jet Boeing 747-800 hasil modifikasi terbaru yang dihadiahkan oleh Qatar.

Pergantian mendadak tersebut memicu tanda tanya besar mengenai keandalan sistem keamanan pada jet baru tersebut, di tengah situasi AS dan Iran yang kembali saling melancarkan serangan militer setelah pasukan AS menggempur wilayah Iran sebagai respons atas gangguan terhadap kapal dagang internasional.

Trump sendiri tidak memberikan penjelasan yang mendetail terkait pergantian mendadak moda transportasi udara tersebut. Ia hanya berdalih ingin menggunakan pesawat lama demi bernostalgia dan mengindikasikan bahwa kedua pesawat kepresidenan itu akan melakukan pendaratan tidak terjadwal di pangkalan Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) Mildenhall di Inggris.

Melalui unggahan di media sosial, Trump menyebut jet baru sengaja transit di Inggris agar personel militer setempat dapat melakukan tur keliling di dalam pesawat, sementara dirinya pulang menggunakan pesawat lama.

Saat dicecar oleh awak media dalam konferensi pers mengenai kemungkinan adanya kekhawatiran faktor keamanan di balik keputusan tersebut, Trump enggan memberikan jawaban secara langsung. Ia justru mengaitkan situasi tersebut dengan ancaman dari Iran.

"Saya adalah orang nomor satu dalam daftar target pembunuhan," ujar Trump, seperti dikutip India Today, pada Kamis, 9 Juli 2026.

Ketika didesak kembali oleh jurnalis, ia hanya menambahkan bahwa dirinya akan pulang dengan metode normal sementara pesawat baru dipamerkan kepada pasukan militer.

Langkah pengalihan ini memicu sorotan tajam terhadap jet baru Qatar yang telah menghabiskan anggaran retrofit sebesar USD400 juta. Berbagai dokumentasi foto yang beredar sejak pesawat itu diluncurkan memperlihatkan hilangnya sejumlah sistem deteksi rudal dan sistem penangkal yang biasanya terpasang pada Air Force One versi lama.

Menanggapi absennya sistem pertahanan krusial tersebut, Angkatan Udara AS memilih melemparkan pertanyaan kepada pihak Gedung Putih, sementara Juru Bicara Gedung Putih Steven Cheung langsung memberikan pembelaan resminya.


Pesawat Air Force One baru yang dihadiahkan oleh Qatar. Foto: The New York Times

"Air Force One yang baru adalah pesawat mutakhir yang telah dilengkapi dengan protokol keamanan tingkat tinggi untuk menjamin keselamatan Presiden dan stafnya," tutur Steven Cheung.

"Seperti yang dikatakan Presiden baru-baru ini, ada banyak musuh Amerika yang mengincarnya, dan kami menggunakan setiap instrumen yang kami miliki termasuk taktik pengalihan dan penyesatan untuk mengatasi ancaman tersebut," tambah Cheung.

Trump akhirnya terpantau meninggalkan Turki menggunakan pesawat lama jenis Boeing VC-25A yang telah beroperasi selama lebih dari tiga dekade.

Sistem pelacak penerbangan sipil sempat kehilangan sinyal transponder pesawat tersebut sesaat setelah lepas landas, yang mengindikasikan kru sengaja mematikan transponder sebagai prosedur keselamatan standar saat presiden melintasi zona berisiko tinggi. Hal ini berbeda dengan pesawat para pemimpin negara lain seperti Jerman dan Inggris yang tetap dapat dilacak secara normal, sementara pelacak penerbangan mengonfirmasi pesawat baru hadiah Qatar telah lepas landas lebih awal pada hari Rabu dan mendarat dengan aman di RAF Mildenhall.

Secara geografis, Iran berbatasan langsung dengan Turki dan memiliki pasokan rudal balistik Shahab serta drone Shahed yang mampu menjangkau jarak sekitar 1.300 kilometer ke wilayah Turki.

Kendati demikian, merujuk pada analisis lembaga Center for Strategic and International Studies, Teheran dipastikan tidak memiliki sistem persenjataan yang sanggup menyerang wilayah Inggris secara efektif karena jaraknya yang sangat jauh mencapai 4.000 kilometer.

Sebelumnya, Angkatan Udara AS mengakui bahwa mereka terpaksa memprioritaskan beberapa peningkatan komponen saja agar jet transisi dari Qatar tersebut dapat segera beroperasi dalam waktu cepat.

Pihak militer mengklaim konversi kilat ini dilakukan tanpa mengambil risiko apa pun terhadap faktor keselamatan, keamanan, maupun jaringan komunikasi rahasia, walau mereka membenarkan bahwa beberapa modifikasi teknis yang sangat kompleks untuk standar final Air Force One sengaja dieliminasi dari pesawat tersebut.

Analis senior dari Teal Group, Jeremiah Gertler, berpendapat bahwa absennya sistem penangkal rudal serta minimnya antena komunikasi menunjukkan bahwa jet Qatar tersebut sebenarnya lebih ideal untuk kebutuhan penerbangan domestik saja, di mana Trump sendiri baru pertama kali menjajalnya saat kunjungan ke North Dakota pekan lalu. Sebagai informasi, armada Air Force One yang digunakan saat ini dirancang pada masa akhir Perang Dingin dengan lapisan pelindung khusus yang tahan terhadap dampak ledakan nuklir.

Pesawat ikonik tersebut juga dibekali sistem penangkal rudal, ruang operasi medis darurat, hingga kemampuan pengisian bahan bakar di udara meski fitur tersebut belum pernah diaktifkan saat presiden berada di dalam kabin.

Di sisi lain, proyek dua jet Boeing baru yang disiapkan sebagai pengganti permanen dilaporkan mengalami penundaan hingga tahun 2028, sehingga aksi tukar pesawat yang dilakukan Trump kali ini kembali memicu perdebatan mengenai peran dan kesiapan operasional jet transisi asal Qatar tersebut.

(Kelvin Yurcel)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Penampakan Koper Isi 74 Kg Emas Hasil Geledah Rumah Sentul Tiba di Polda Metro
• 9 jam laludetik.com
thumb
Prabowo Sebut Banyak Orang Pintar Menuduh Pemerintah Berbohong Soal Swasembada Pangan
• 2 jam lalujpnn.com
thumb
Mahasiswa UI hadirkan inovasi bra inklusif untuk lansia & disabilitas
• 10 jam laluantaranews.com
thumb
Cek Jadwal Lengkap Kereta Cepat Whoosh Bandung-Jakarta
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Laskar Rasulullah Tolak Eksekusi Lahan, Nilai PN Sungguminasa Terburu-buru dan Cacat Prosedur
• 12 jam laluterkini.id
Berhasil disimpan.