Pertamina dan Boeing Jajaki Peluang Pengembangan Ekosistem SAF Indonesia 

kompas.com
8 jam lalu
Cover Berita

KOMPAS.com – PT Pertamina (Persero) dan Boeing [NYSE: BA] menandatangani memorandum of understanding (MoU) untuk menjajaki pengembangan ekosistem sustainable aviation fuel (SAF) di Indonesia.

MoU tersebut merupakan bagian dari upaya mendukung dekarbonisasi sektor penerbangan dan percepatan transisi energi menuju Net Zero Emission (NZE).

Sejalan dengan visi Asta Cita Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, Indonesia terus mendorong pengembangan SAF sebagai salah satu solusi untuk mengurangi emisi karbon di sektor penerbangan sekaligus mendukung terciptanya industri penerbangan yang lebih berkelanjutan. 

Berdasarkan laporan ASEAN 2050 SAF Outlook, Indonesia menempati peringkat tiga besar di ASEAN dengan potensi surplus produksi SAF terbesar yang diproyeksikan mencapai 2,2 juta barel per hari pada 2050.

Baca juga: AHY: Penerbangan Indonesia Gunakan SAF 2027 untuk Tekan Emisi Karbon

Melalui kerja sama itu, Pertamina dan Boeing akan berkolaborasi dalam menjajaki berbagai aspek pengembangan ekosistem SAF di Indonesia.

Berbagai potensi itu, termasuk identifikasi potensi bahan baku (feedstock), pengembangan teknologi, serta dukungan terhadap pengembangan kebijakan yang diperlukan guna mempercepat implementasinya.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri mengatakan, bagi Pertamina, kolaborasi tersebut bukan sekadar pengembangan bahan bakar, tetapi merupakan investasi jangka panjang untuk membangun ekosistem industri SAF nasional. 

“Dengan potensi sumber daya domestik yang melimpah, kapabilitas pengolahan Pertamina, serta keahlian global Boeing di sektor aviasi, kami optimistis kolaborasi ini akan mempercepat pengembangan industri SAF,” ucapnya dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Kamis (9/7/2026). 

Baca juga: SAF Berbasis Limbah Sawit Diusulkan Masuk Kebijakan Mandatori

Simon menegaskan, kerja sama itu akan mempercepat pengembangan industri SAF yang berdaya saing, menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional, sekaligus mendukung dekarbonisasi sektor penerbangan.

Untuk diketahui, Boeing memperkirakan lalu lintas penumpang udara di Asia Tenggara akan tumbuh rata-rata 7 persen per tahun, dengan kebutuhan mencapai 4.885 pesawat baru hingga 2044. 

Di tengah pertumbuhan tersebut, pemanfaatan SAF menjadi salah satu solusi penting untuk menekan emisi karbon sektor aviasi. 

Dalam bentuk murni (neat SAF), bahan bakar ini berpotensi mengurangi jejak karbon penerbangan hingga 80 persen dibandingkan dengan bahan bakar jet konvensional.

Managing Director Boeing Indonesia Indra Duivenvoorde mengatakan, Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis untuk memimpin pengembangan penerbangan berkelanjutan di Asia Tenggara. 

Baca juga: Kapal Pertamina Pride Sudah Keluar dari Selat Hormuz, Menuju Cilacap

"Kami menyambut baik kolaborasi dengan Pertamina dalam berbagai inisiatif pengembangan SAF, mulai dari identifikasi potensi bahan baku hingga dukungan terhadap program edukasi dan pelatihan guna mempercepat pengembangan ekosistem SAF di Indonesia,” katanya. 

Indra berharap, kolaborasi tersebut dapat mendukung masa depan industri penerbangan Indonesia yang lebih berkelanjutan sekaligus memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi nasional. 

Sebagai bagian dari pengembangan ekosistem SAF nasional, Pertamina telah memulai berbagai inisiatif, mulai dari produksi dan sertifikasi Pertamina SAF yang diikuti dengan implementasi bersama Pelita Air.

Pertamina melalui PT Pertamina Patra Niaga juga mengembangkan proyek Cilacap Biorefinery untuk memproduksi SAF dan hydrotreated vegetable oil (HVO) berbahan baku used cooking oil (UCO) serta bahan baku berkelanjutan berbasis limbah lainnya.

Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, berkomitmen untuk mendukung target NZE 2060 dan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs). 

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Baca juga: B50 Resmi Berlaku, Sudah Siap Isi di SPBU? Begini Penjelasan Pertamina

Seluruh upaya tersebut sejalan dengan transformasi Pertamina yang berorientasi pada tata kelola, pelayanan publik, keberlanjutan usaha dan lingkungan, dengan menerapkan prinsip-prinsip environmental, social, and governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina, berkoordinasi dengan danantaraindonesia.co.id.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Penjelasan soal Penggeledahan 12 Titik oleh Polri dan Penjagaan TNI Bersenjata di Rumah Jampidsus
• 7 jam lalukompas.com
thumb
Profil Jessica Shally, Wakil Gen Z Pertama yang Dilantik Jadi Anggota DTKJ
• 2 jam lalumedcom.id
thumb
WNI Cerita Heatwave di AS: Baru 5 Detik di Luar, Sudah Terasa Menyesakkan
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Apa Itu PayPal? Panduan Lengkap Cara Daftar dan Menggunakannya untuk Pemula
• 3 jam lalumedcom.id
thumb
Perjalanan Menembus Waktu demi Mengungkap Kasus Besar, Inilah Sinopsis Drama China Mobius yang Dibintangi oleh Bai Jing Ting
• 10 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.