Presiden Direktur Pintu, Andy Putra, mengimbau investor pemula untuk memprioritaskan aset kripto yang memiliki fundamental kuat dan memahami karakteristiknya, alih-alih mengikuti tren atau fenomena fear of missing out (FOMO), agar mampu mengelola risiko investasi dengan lebih baik.
Sejauh ini, ada tiga aset kripto yang dikenal sebagai blue chip yakni Bitcoin, Ethereum, dan Solana. Ketiganya dikenal memiliki fundamental kuat dibandingkan aset kripto lainnya.
“Jadi tiga token itu yang biasa dikenal blue chip adalah yang pertama Bitcoin tentu saja. Dengan kapitalisasi itu mencapai 56% dari total market cap kripto. Total market cap kripto sendiri saat ini sudah 2,2 triliun USD di dunia. Jadi yang pertama itu Bitcoin dengan market cap yang sangat besar. Yang kedua itu Ethereum. Dan yang ketiga itu Solana,” ujar Andy dalam seminar Menangkap Peluang Investasi Saham, Kripto, dan Komoditas di Jakarta, Rabu (8/7/2026).
Ia menjelaskan, besarnya kapitalisasi pasar bisa menjadi salah satu indikator yang dapat dipelajari sebelum mengambil keputusan investasi. Namun, besarnya kapitalisasi bukan berarti menghilangkan risikonya. Maka dari itu, investor tetap harus memahami karakter setiap aset.
Andy mengingatkan investor agar tidak membeli aset kripto hanya karena mengikuti tren yang sedang berkembang di media sosial maupun rekomendasi dari lingkungan sekitar. Menurutnya, keputusan investasi sebaiknya didasarkan pada riset yang dilakukan secara mandiri.
Baca Juga: Investor Kripto RI Tembus 22,4 Juta, Transaksi Capai Rp23 Triliun
Baca Juga: Aturan Turunan UUP2SK Diharapkan Perjelas Peran Bursa dan Pedagang Kripto
“Jadi untuk teman-teman kalau mau mulai berinvestasi mungkin bisa mempelajari yang lebih dahulu ya. Jangan dengar orang bilang apa, hype, lalu FOMO. Tapi prinsip yang paling utama adalah do your own research. Jadi lakukan riset sendiri. Jangan cuma mendengar kiri, mendengar kanan,” katanya.
Lebih lanjut, Andy juga meminta investor untuk memahami profil risiko masing-masing sebelum berinvestasi agar bisa mengukur tingkat risiko yang sanggup ditanggung serta menerapkan diversifikasi aset sebagai salah satu cara untuk mitigasi risiko dalam membangun portofolio kripto.




