Tekanan Global dan Pasar Dalam Negeri Bawa IHSG Kembali Menjauh dari 6.000

kompas.id
9 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS– Indeks Harga Saham Gabungan diperkirakan masih akan belum melewati level 6.000 pada pekan ini. Sejumlah sentimen global dan domestik berkelindan menekan pasar modal dalam negeri, mulai dari ketegangan geopolitik, hingga rumor penurunan status kelas pasar modal Indonesia menjadi frontier market.

Kamis (9/7/2026), pasar saham cenderung melemah. Setelah dibuka di level 5.865, IHSG sempat berfluktuasi sampai ke level 5.904 jelang pukul 10.00 WIB, sebelum akhirnya kembali stagnan di sekitar 5.800 jelang penutupan sesi perdagangan pertama.

Kenaikan sesaat IHSG diperkirakan bersamaan dengan peresmian saham perdana keenam yang tercatat di Bursa Efek Indonesia tahun ini, yakni PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL). Harga saham tersebut melonjak 35 persen setelah diperdagangkan sehingga langsung menyentuh batas Auto Reject Atas (ARA).

IHSG dalam lima hari terakhir mencatatkan tren kenaikan setiap penutupan pasar dengan kenaikan lebih dari 2 persen mendekati level 6.000 poin. Namun, pada perdagangan Rabu (8/7/2026), IHSG tiba-tiba kembali parkir poin di level 5.873.

Tekanan utama yang memicu pelemahan ini menurut para analis adalah pengumuman lembaga penilaian kredit dan penyedia indeks global S&P Dow Jones Indices (S&P DJI), yang memasukkan Indonesia ke dalam watchlist evaluasi klasifikasi pasar.

Ini menyusul kebijakan lembaga penyedia indeks global lainnya, MSCI, yang akan mengumumkan perlakuan pada pasar Indonesia pada November mendatang.

Status pemantauan ini membuka risiko potensi penurunan kelas Indonesia dari emerging market menjadi frontier market. Menanggapi hal tersebut, Bursa Efek Indonesia (BEI) dikabarkan berencana menggelar pertemuan dengan S&P DJI guna mengonfirmasi dan meluruskan metrik evaluasi tersebut.

Baca JugaGiliran S&P Dow Jones Indices Ancam Turunkan Status Pasar Saham Indonesia

Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder WH-Project, William Hartanto, dalam laporannya hari ini, menilai penurunan tajam IHSG pada Rabu kemarin merupakan indikasi koreksi yang sehat secara teknikal.

William menggarisbawahi bahwa nilai transaksi IHSG pada saat terkoreksi hanya berada di angka Rp 9,7 triliun. "Nilai transaksi yang relatif mini ini menunjukkan bahwa tidak terjadi fenomena panic selling di kalangan investor meskipun isu (turun kelas ke) frontier market kembali mencuat," ujar William.

Ia menyimpulkan, posisi IHSG secara umum masih terbilang aman dengan peluang penguatan kembali menuju target batas atas atau resistance di level 6.000 yang tetap terbuka lebar.

Selain isu klasifikasi pasar, pergerakan IHSG juga dipengaruhi oleh dinamika makroekonomi. Phintraco Sekuritas dalam laporannya juga mencatat, meningkatnya ketegangan di Timur Tengah sempat memicu rebound harga minyak mentah dan memicu capital outflow jangka pendek karena berkurangnya kepercayaan investor asing.

Namun, ketegangan tersebut mulai mereda pascanegosiasi AS-Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Pasokan minyak yang kembali normal pun mengubah struktur pasar dari yang awalnya mengekspektasikan kelangkaan jangka pendek.

Baca JugaAS Kembali Serang Iran Saat Prosesi Pemakaman Ali Khamenei

Bagi Indonesia yang berstatus net importir minyak dan pemberi subsidi BBM, penurunan harga minyak dunia ini secara langsung menurunkan risiko fiskal terhadap pelebaran defisit APBN maupun tekanan terhadap daya beli.

Dari sisi domestik, Bank Indonesia melaporkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juni 2026 turun ke level 117,8 dari bulan sebelumnya sebesar 120,9. Ini menjadikan level IKK terendah sejak September 2025. Meski turun, angka di atas 100 menunjukkan konsumen Indonesia secara umum tetap berada di zona optimistis.

Di sisi lain, Kementerian Keuangan tetap optimistis, bahkan menargetkan dana investor asing yang masuk ke Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) nantinya mampu mencapai kisaran Rp 300 triliun hingga Rp 500 triliun.

Baca JugaRisiko ”Tax Haven” Menganga, Akademisi Dorong PFII Diawasi Ketat

Untuk perdagangan Kamis (9/7/2026), IHSG diproyeksikan bergerak variatif dan masih berpotensi menguji area support atau batas bawah. WH-Project memproyeksikan estimasi pergerakan indeks berada di rentang 5.800-6.040. Senada, Phintraco Sekuritas menetapkan area support di level 5.745 dan resistance di level 6.000.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
IHSG Diproyeksi Kembali Melemah di Tengah Meningkatnya Eskalasi di Timur Tengah
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
Eksepsi Dokter Tifa: Tak Pernah Minta Jokowi Dihukum, Hanya Menuntut Ijazah Dibuktikan
• 10 jam lalurctiplus.com
thumb
Outfit Nikita Willy saat Liburan Keluarga di Eropa
• 53 menit lalubeautynesia.id
thumb
Get The Look: Tampil Chic dengan Polkadot Dress ala Jessica Mila
• 9 jam lalubeautynesia.id
thumb
OJK Harap Pusat Finansial RI (PFII) Percepat Pengembangan Universal Banking
• 3 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.