Guangxi baru-baru ini dilanda hujan lebat yang sangat ekstrem. Pada 6 Juli, empat waduk di Kota Hengzhou, Nanning, dilaporkan jebol secara beruntun, menyebabkan air bah mengalir deras dan menenggelamkan banyak kota kecil serta desa di wilayah hilir. Sejumlah orang dilaporkan hanyut bersama rumah mereka. Banyak warga terjebak selama lebih dari satu hari tanpa makanan maupun tempat berlindung.
Selain itu, Kota Qinzhou dan Kota Guigang juga telah mengalami banjir perkotaan selama dua hari. Banyak warga dilaporkan kelaparan dan belum menerima bantuan penyelamatan.
Akibat pengaruh Topan Maysak, sejak 4 Juli hujan deras terus mengguyur berbagai wilayah Guangxi.
EtIndonesia.com Pada 6 Juli 2026, Waduk Yunbiao, Sancha, dan Chayuan di Hengzhou dilaporkan jebol secara berturut-turut. Air bah dengan cepat menenggelamkan kota-kota dan desa-desa di bagian hilir, termasuk Xiaoyi, Yunbiao, Zhenlong, dan Lingzhu. Banyak rumah hancur, sementara sejumlah warga dilaporkan terseret arus banjir.
Video yang beredar di internet memperlihatkan orang-orang dan kendaraan terapung di tengah banjir dalam kondisi yang sangat berbahaya. Sebagian warga terpaksa naik ke atap rumah untuk menyelamatkan diri, dengan tubuh mereka basah kuyup.
Menurut informasi yang beredar, Waduk Liulan telah lama mengalami kerusakan dan disewakan kepada perusahaan swasta untuk budidaya ikan. Karena khawatir ikan-ikan akan lepas, air waduk disebut tidak dikurangi sebelum topan datang untuk menyediakan kapasitas tampung tambahan. Setelah permukaan air mencapai batas maksimum, air baru dilepaskan, namun bendungan akhirnya jebol dan membahayakan desa-desa di bagian hilir.
Seorang warga Kota Yunbiao mengatakan bahwa air telah mencapai ketinggian lantai dua bangunan. Ribuan warga mengungsi ke perbukitan untuk menghindari banjir, tetapi bantuan pemerintah belum juga datang sehingga mereka menghadapi kekurangan makanan dan tempat berlindung.
“Masih sangat banyak orang yang belum punya makanan. Seluruh jalan di kota sudah terendam. Permintaan bantuan membanjiri internet. Di seluruh Kota Yunbiao ada sekitar 60.000 hingga 70.000 penduduk, dan semuanya tidak mungkin diselamatkan sekaligus. Ada ribuan orang yang sekarang berlindung di gunung. Kalau ada tempat untuk tidur saja sudah dianggap sangat beruntung. Persediaan bantuan sangat kurang. Air juga belum surut, malah hujan deras turun lagi. Situasinya benar-benar sangat darurat,” ujar seorang warga Yunbiao yang menggunakan nama samaran Xiao Li.
Hengzhou memiliki lahan budidaya melati seluas 180.000 hingga 200.000 mu dan dikenal sebagai “Kampung Melati Tiongkok”.
Warga setempat mengatakan bahwa di beberapa bagian kota, banjir mencapai setinggi satu lantai bangunan sehingga hampir seluruh kebun melati mengalami kerusakan.
“Bendungan waduk jebol dan semuanya terendam. Orang-orang tua mengatakan mereka belum pernah melihat banjir sebesar ini seumur hidup mereka. Kerugiannya sangat besar. Semua kebun melati terendam. Jagung saya juga habis terendam. Mesin cuci saya hanyut terbawa banjir. Keluarga kami yang memang tidak berkecukupan kini semakin menderita,” ujar seorang warga Hengzhou bermarga Yang.
Sementara itu, Qinzhou dan Guigang mengalami banjir perkotaan berskala luas selama dua hari berturut-turut. Banyak toko dan kendaraan terendam, sementara banyak warga tidak memiliki makanan dan belum mendapatkan bantuan.
“Seluruh Qinzhou sudah kebanjiran dan hujan masih terus turun. Air laut juga masuk ke daratan, sementara waduk juga melepaskan air. Kami berada di wilayah hilir. Permukaan sungai sudah sama tinggi dengan tanggul sehingga air tidak bisa mengalir keluar. Tidak ada tim penyelamat yang datang. Kolam ikan, ikan, dan udang semuanya hanyut. Sekarang kami bertahan di lantai tiga. Lantai satu sudah terendam. Air bersih dan listrik terputus. Pemerintah tidak peduli. Saluran pengaduan pemerintah juga tidak bisa dihubungi,” ujar seorang warga Desa di Qinzhou bermarga Huang.
Seorang warga Guigang bermarga Yan mengatakan: “Air di Guigang belum surut. Kompleks perumahan kami tidak memiliki listrik maupun air bersih. Telepon seluler juga tidak bisa digunakan karena tidak ada sinyal. Sejak kemarin sampai sekarang kami belum makan. Mie instan di supermarket pun sudah habis karena semuanya diperebutkan.”
Laporan oleh Xiong Bin dan Gao Yu, New Tang Dynasty Television.





