Angkatan bersenjata Iran menyerang sejumlah infrastruktur militer Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah pada Kamis (9/7). Serangan ini merupakan balasan atas serangan AS ke wilayah selatan dan barat Iran.
Saling serang kedua negara terjadi saat Iran bersiap memakamkan jenazah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei di Mashhad. Khamenei tewas dalam serangan hari pertama AS yang didukung Israel ke Iran pada 28 Februari 2026.
Peristiwa pada 28 Februari memicu eskalasi ketegangan di Timur Tengah.
Adapun menurut keterangan Militer AS pada Rabu (8/7), serangan mereka ke Iran bertujuan menjaga Selat Hormuz tetap terbuka bagi pelayaran internasional. Sebelumnya, AS menuding Iran menyerang tiga kapal tanker di Selat Hormuz, yang kemudian mendorong Presiden Donald Trump mengakhiri gencatan senjata dengan Iran.
"Amerika Serikat meminta pertanggungjawaban Iran atas agresi tak beralasan baru-baru ini terhadap kapal-kapal komersial dan awak sipil yang bebas berlayar di jalur perairan internasional yang vital," kata Komando Pusat AS (CENTCOM) dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip Reuters.
Menurut pejabat Iran, serangan AS pada Rabu menewaskan 14 orang dan melukai 78 lainnya. Kantor berita Iran, Fars, melaporkan serangan AS juga mengenai jalur kereta perdagangan Rusia dan China yang melintasi Iran.
Sementara itu, kantor berita Iran lainnya, Mehr, melaporkan sejumlah ledakan terdengar di Provinsi Bushehr pada Kamis pagi. Di provinsi tersebut terdapat pembangkit listrik tenaga nuklir buatan Rusia.
Pada Kamis, Militer Iran mengeluarkan pernyataan bahwa serangan mereka telah menghantam sistem pertahanan AS di Kuwait, situs peringatan dini di Qatar, hingga stasiun pengisian bahan bakar militer AS di Bahrain.
Usai rangkaian serangan tersebut, Pemerintah Qatar langsung angkat bicara. Mereka mendorong agar konflik diselesaikan melalui jalur diplomasi.





