Warga Diminta Jangan Mudah Percaya Informasi yang Belum Valid soal Gunung Anak Krakatau

viva.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

Lampung Selatan, VIVA – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengimbau masyarakat terus memantau informasi resmi terkait dengan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum mendapatkan verifikasi.

Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Andi Suwardi mengatakan informasi mengenai perkembangan aktivitas vulkanik GAK hanya disampaikan melalui kanal resmi pemerintah, sehingga masyarakat diharapkan mengacu pada sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.

Baca Juga :
Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Badan Geologi Pertahankan Status Siaga dan Ingatkan Radius Aman 3 Kilometer
Tragis! Pendaki Alami Hipotermia di Kaki Gunung Rinjani, Meninggal Usai Dievakuasi

“Kami terus mengimbau warga agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau. Masyarakat diminta memperoleh informasi dari BPBD maupun instansi berwenang agar tidak menimbulkan keresahan,” kata dia di Lampung Selatan, Kamis, 9 Juli 2026.

Ia menjelaskan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau masih terus dipantau secara intensif menggunakan pemantauan visual maupun instrumental untuk mengetahui perkembangan aktivitas tersebut secara berkelanjutan.

"Pada 8 Juli kemarin memang tercatat terjadi tujuh kali erupsi sejak tengah malam hingga pukul 12.00 WIB siang. Setelah itu aktivitas kembali menurun. Karakter Gunung Anak Krakatau memang seperti itu. Ketika energinya habis, aktivitas akan kembali tenang sampai energi baru kembali terbentuk. Tetap waspada, tetapi masyarakat tidak perlu panik," katanya.

Dia menjelaskan tinggi Gunung Anak Krakatau saat ini sekitar 157 meter di atas permukaan laut (mdpl), jauh lebih rendah dibandingkan dengan saat peristiwa longsoran yang memicu tsunami pada 2018.

"Pada saat itu ketinggian gunung sekitar 338 mdpl sehingga beban di puncaknya jauh lebih besar dan mampu mendorong air laut hingga ke daratan. Saat ini ketinggiannya sekitar 157 mdpl. Mudah-mudahan apabila terjadi longsoran, dampaknya tidak akan sebesar yang pernah terjadi," ujarnya.

Dia menjelaskan ancaman yang paling berpotensi dirasakan masyarakat selama aktivitas vulkanik berlangsung berupa hujan abu apabila arah angin ke daratan Lampung.

“Dalam kondisi seperti ini, masyarakat cukup menggunakan masker untuk mengurangi dampak paparan abu vulkanik. Hingga saat ini, belum terdapat dampak langsung yang membahayakan masyarakat,” ucapnya. (Ant)

Baca Juga :
Status Gunung Anak Krakatau Ditingkatkan Jadi Siaga Level III
Adik Kelas Bongkar Kebiasaan Jokowi Saat Kuliah di UGM
Tiga Gunung Api di Maluku Utara dan NTT Meletus Pagi Ini

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ridwan Kamil Urus Hak Asuh Arkana di PA Bandung, Begini Reaksi Atalia Praratya
• 5 jam lalugrid.id
thumb
Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp 18.128 per Dolar AS, Pengamat Nilai karena Faktor Fiskal
• 4 jam lalurepublika.co.id
thumb
Hasil Drawing SEA V Cup 2026: Timnas Voli Indonesia Gabung Pool A
• 10 jam lalutvonenews.com
thumb
KPK Tahan Eks Sekjen MPR Ma’ruf Cahyono Usai Diperiksa sebagai Tersangka
• 3 jam lalukompas.com
thumb
Minuman yang Harus Dihindari saat Dehidrasi di Tengah Cuaca Panas
• 12 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.