9 Praktik Persalinan Ini Tak Lagi Direkomendasikan WHO

kumparan.com
4 hari lalu
Cover Berita

Moms setiap tahunnya, rekomendasi mengenai persalinan terus diperbarui mengikuti perkembangan bukti ilmiah. Beberapa tindakan yang dulu dianggap sebagai prosedur rutin saat melahirkan, kini sudah tidak lagi direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk dilakukan pada semua ibu.

Tapi bukan berarti tindakan tersebut dilarang sepenuhnya, hanya saja diberikan jika memang terdapat indikasi medis tertentu. Tujuannya agar proses persalinan menjadi lebih aman, nyaman, serta mengurangi tindakan yang tidak diperlukan bagi ibu maupun bayi.

Menurut dokter kandungan dan kebidanan, dr. Achmad Mediana, Sp.OG beberapa praktik ini tidak lagi digunakan di Indonesia.

Beberapa Praktik Persalinan yang Sudah Tidak Direkomendasikan

1. Manuver Kristeller atau Mendorong Perut Ibu Saat Persalinan

Salah satu tindakan yang dulu cukup sering dilakukan adalah memberikan tekanan kuat pada bagian atas perut ibu untuk membantu bayi lahir lebih cepat. Tindakan yang dikenal sebagai manuver Kristeller ini kini tidak lagi digunakan secara rutin karena berisiko menimbulkan komplikasi.

"Manuver Kristeller bisa menyebabkan robekan rahim, lepasnya plasenta, cedera pada ibu, hingga membuat lilitan tali pusat pada bayi semakin erat," kata dr. Achmad pada kumparanMOM, Kamis (9/7).

2. Minum Air Rendaman Rumput Fatimah

Di beberapa daerah, rumput Fatimah dipercaya dapat memicu kontraksi agar persalinan berlangsung lebih cepat. Namun, praktik ini tidak dianjurkan.

Menurut dr. Achmad, rumput Fatimah dapat menyebabkan kontraksi berlebihan, tetapi pembukaan jalan lahir tidak bertambah (stuck). Kondisi ini justru dapat membahayakan ibu dan janin.

3. Enema Sebelum Persalinan

Dulu, ibu hamil kerap diberikan enema atau pencahar sebelum melahirkan agar usus kosong.

Kini, WHO tidak lagi merekomendasikan tindakan ini secara rutin karena belum terbukti dapat mempercepat persalinan maupun mencegah infeksi. Enema hanya dilakukan apabila memang ada kebutuhan medis tertentu.

4. Pemasangan Infus dan CTG Terus-Menerus

Tidak semua ibu yang menjalani persalinan normal membutuhkan infus maupun pemantauan denyut jantung janin (CTG) secara terus-menerus.

WHO menganjurkan ibu tetap dapat bergerak bebas selama proses persalinan. Infus diberikan bila terdapat indikasi, seperti dehidrasi atau kondisi medis tertentu. Sementara itu, pemantauan CTG terus-menerus pada kehamilan risiko rendah belum terbukti meningkatkan luaran persalinan.

5. Pemeriksaan Dalam Terlalu Sering

Pemeriksaan pembukaan serviks memang penting untuk menilai kemajuan persalinan. Namun, pemeriksaan yang terlalu sering dapat membuat ibu merasa tidak nyaman, meningkatkan risiko infeksi, hingga menimbulkan trauma.

WHO merekomendasikan pemeriksaan dilakukan sekitar setiap empat jam atau disesuaikan dengan kondisi klinis ibu.

6. Larangan Makan, Minum, dan Harus Telentang

Ibu yang menjalani persalinan pervaginam umumnya tetap diperbolehkan mengonsumsi makanan ringan dan minum agar energi tetap terjaga serta terhindar dari dehidrasi.

Selain itu, ibu juga tidak harus terus berada dalam posisi telentang. WHO mendukung ibu memilih posisi yang paling nyaman selama persalinan, seperti berdiri, jongkok, miring, atau merangkak.

7. Dipaksa Mengejan dan Episiotomi Rutin

Ibu tidak perlu dipaksa mengejan sebelum tubuh memberikan dorongan alami untuk melahirkan.

WHO juga tidak lagi menyarankan episiotomi atau gunting jalan lahir dilakukan secara rutin pada semua persalinan. Tindakan tersebut hanya dilakukan bila memang terdapat indikasi medis.

8. Induksi Hanya karena Sudah Lewat HPL

Tanggal perkiraan lahir (HPL) bukan satu-satunya dasar untuk melakukan induksi persalinan.

Keputusan induksi perlu mempertimbangkan kondisi ibu, janin, usia kehamilan, serta hasil pemeriksaan dokter atau bidan sehingga dilakukan berdasarkan kebutuhan medis, bukan semata-mata karena melewati HPL.

9. Bayi Langsung Dipisahkan dari Ibu

Apabila kondisi ibu dan bayi stabil, WHO menganjurkan kontak kulit ke kulit (skin-to-skin contact) setidaknya selama 60 menit pertama setelah lahir.

Kontak ini membantu menjaga suhu tubuh bayi, mendukung keberhasilan menyusui, sekaligus memperkuat ikatan emosional antara ibu dan bayi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bersama Pertamina, Qarrar Firhand Torehkan Sejarah di WSK Euro Series 2026
• 14 jam lalutvonenews.com
thumb
Putri Dakka Selangkah Lagi Jadi Anggota DPR RI, Gantikan Rusdi Masse
• 9 jam laluterkini.id
thumb
Tingkatkan Kualitas Air Bersih dan PHBS, Kampus Dorong Desa Temmapaduae Jadi Percontohan Filtrasi Air Sumur
• 6 jam laluharianfajar
thumb
Mengaku Disekap dan Dianiaya Kekasih, Perempuan di Bekasi Lapor Polisi
• 11 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Frans Putros Tinggalkan Persib? Igor Tolic: Belum Ada Keputusan Pasti
• 10 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.