JAKARTA, KOMPAS– Masa perjuangan pascakemerdekaan tidak kalah penting dari masa perjuangan merebut kemerdekaan dalam sejarah bangsa Indonesia. Ingatan akan masa-masa tersebut harus terus dijaga agar maknanya tetap hidup bagi generasi mendatang.
Salah satu cara untuk merawat ingatan tersebut salah satunya dapat dikemas lewat film. Karena itu, Kementerian Kebudayaan pun menginisiasi Program Produksi Film Narasi Kepahlawanan untuk mendorong para sineas menghasilkan film kepahlawanan yang mengangkat soal masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI.
“Di tengah ekosistem film kita yang sangat baik saat ini, kita ingin mengafirmasi film-film sejarah dan kepahlawanan yang diambil dari konteks zaman peran mempertahankan kemerdekaan, yaitu pada era tahun 1945 hingga 1950,” ujar Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Jakarta, Kamis (9/7/2026).
Menurut dia, ekosistem perfilman di Indonesia saat ini sudah sangat baik. Namun, genre yang berkembang lebih banyak pada genre drama, aksi, horor, dan animasi. Sementara film bertema kepahlawanan dan sejarah kurang menarik perhatian warga sehingga nilai ekonominya belum menguntungkan secara komersial.
Karena itu, pemerintah berupaya mengafirmasi para sineas atau pembuat film di Indonesia untuk memproduksi film terkait sejarah dan kepahlawanan. Secara khusus, afirmasi akan didorong untuk menghasilkan film sejarah perjuangan pada tahun 1945-1950 karena masa ini dinilai penting dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Kita ingin mengafirmasi film-film sejarah dan kepahlawanan yang diambil dari konteks zaman peran mempertahankan kemerdekaan yaitu pada era tahun 1945 hingga 1950.
Selain itu, banyak peristiwa penting pada masa tersebut yang belum banyak diketahui oleh masyarakat. Itu mulai dari detail hari lahirnya Pancasila, peristiwa Rengasdengklok, pertempuran Surabaya 10 November, Agresi Militer Belanda, serta peristiwa Konferensi Meja Bundar. Tokoh-tokoh bangsa juga muncul pada periode tersebut.
“Jadi mozaiknya sangatlah banyak dan cerita-cerita tersebut tergambarkan. Belum lagi perjuangan-perjuangan lain di bidang ekonomi. Banyak peristiwa yang bisa diceritakan pada masa perjuangan (1945-1950) tersebut,” tutur Fadli Zon.
Program Produksi Film Narasi Kepahlawanan Indonesia Tahun 2026 akan dimulai dengan sayembara yang berlangsung pada 10 Juli 2026 hingga 10 Agustus 2026. Program ini terbuka untuk umum, antara lain rumah produksi, perusahaan perfilman, komunitas film, dan sineas perfilman.
Kementerian Kebudayaan akan mendukung pendanaan secara sekeluruhan mulai dari praproduksi, produksi, hingga pascaproduksi film. Selain pendanaan, program ini memberikan pendampingan menyeluruh, mulai dari penyempurnaan skenario, konsultasi dengan sejarawan dan budayawan, hingga pendampingan proses produksi.
Program ini rencananya akan dibuka dalam dua kategori, yakni film panjang dengan durasi minimal 75 menit dan film pendek dengan durasi 15-30 menit. Informasi lengkap dari program ini dapat diakses pada laman filmkepahlawanan.id.
Serial Artikel
Sejarah Bukan Propaganda
Sejarah semestinya ditulis secara independen oleh para akademisi, bukan digunakan sebagai alat propaganda politik oleh pemerintah.
Fadli Zon menuturkan, sebelumnya Kementerian Kebudayaan juga telah menggelar lomba penulisan skenario. Sejumlah skenario yang memang nantinya dapat disinergikan dengan program produksi film terkait kepahlawanan ini.
Produser film Kadet 1947, Tesadesrada Ryza dalam kesempatan yang sama menuturkan, dukungan dari pemerintah dalam produksi film sejarah dan kepahlawanan amat dibutuhkan di tengah minimnya minat pasar terhadap genre tersebut. Akibatnya, film bertema sejarah dan kepahlawanan pun seringkali terkendala pendanaan.
Padahal, film bertema sejarah dan kepahlawanan sangat penting untuk menjaga sejarah bangsa. Jika film-film tersebut hilang dari layar lebar, akar budaya bangsa pun bisa hilang dari ingatan generasi muda.
“Tanpa adanya film sejarah, kita sama saja kehilangan akar budaya bangsa kita. Karena kita tidak tahu sejarah kita seperti apa dulu. Semakin lama tidak ada film sejarah maka semakin banyak generasi yang lupa akan sejarah,” kata Ryza.
Sejarawan, Muhammad Yuanda Zara menambahkan, film bisa menjadi medium yang tepat untuk menanamkan ingatan sejarah bangsa. Film lebih mudah dipahami dan menarik bagi masyarakat, termasuk generasi muda.
Meski begitu, ia mengingatkan agar dalam pembuatan film sejarah tetap melibatkan sejarawan yang kredibel. Pelibatan sejarawan akan membantu setiap karya yang dihasilkan punya landasan historis yang kuat tanpa mengorbankan daya tarik cerita yang diangkat.





