VIVA – Program naturalisasi yang terus dijalankan PSSI kembali memunculkan berbagai nama pemain keturunan yang dinilai layak memperkuat Timnas Indonesia. Namun, tidak semua pemain berdarah Indonesia dapat membela skuad Garuda karena harus memenuhi ketentuan perpindahan asosiasi yang ditetapkan FIFA.
Salah satu pemain yang memiliki darah Indonesia adalah gelandang Genoa, Mikael Ellertsson. Pemain yang berkarier di Serie A Italia itu memang memiliki garis keturunan Indonesia, tetapi peluangnya untuk dinaturalisasi dan membela Timnas Indonesia kini nyaris tertutup.
Mikael lahir di Reykjavík, Islandia, pada 11 Maret 2002 dan berposisi sebagai gelandang serang yang juga mampu bermain di sektor sayap. Darah Indonesia yang dimilikinya berasal dari sang ibu yang diadopsi ke Islandia saat masih bayi.
Fakta tersebut pernah diungkapkan langsung oleh Mikael dalam wawancara bersama FIFA. Ia menjelaskan bahwa keluarganya tetap menjaga hubungan dengan sesama keluarga asal Indonesia yang juga diadopsi ke Islandia pada periode yang sama.
- genoacfc.it
"Garis keturunan Indonesia saya berasal dari pihak ibu saya, karena dia diadopsi di Islandia ketika dia berusia kurang dari satu tahun. Ibu saya adalah salah satu dari beberapa anak yang diadopsi dari Indonesia oleh orang tua Islandia pada saat itu, dan mereka semua tetap berhubungan selama bertahun-tahun," ungkap Mikael Ellertsson dalam wawancara di laman resmi FIFA.
Mikael juga sempat memiliki kedekatan dengan Indonesia melalui kariernya di Venezia. Saat membela klub tersebut, ia pernah satu tim dengan kapten Timnas Indonesia, Jay Idzes, sebelum akhirnya melanjutkan karier bersama Genoa.
Di level klub, performa Mikael terbilang cukup konsisten. Sepanjang musim 2025/2026, ia menjadi salah satu pemain yang rutin mendapatkan kesempatan bermain bersama Genoa.
Salah satu penampilan terbaik Mikael terjadi saat ia berhasil membobol gawang Juventus pada kompetisi Serie A musim 2024/2025. Momen itu membuat namanya semakin mencuri perhatian publik, termasuk para pencinta sepak bola di Indonesia.
Meski demikian, peluangnya membela Timnas Indonesia praktis sangat kecil. Penyebabnya bukan karena faktor keturunan atau proses naturalisasi, melainkan regulasi FIFA mengenai perpindahan federasi.





