Dari Tambang ke Baterai: Langkah ANTM dan INCO Rajut Mimpi Nikel Indonesia

katadata.co.id
5 jam lalu
Cover Berita

Industri nikel Tanah Air memasuki babak baru seiring ambisi pemerintah membangun hilirisasi komoditas tambang itu sebagai program strategis nasional. Dengan cadangan bijih nikel sekitar 5,3-5,9 miliar ton per 2025, peluang untuk mewujudkan asa itu terasa dekat. 

Lewat program strategis tersebut, wajah industri nikel di Indonesia akan berubah dari pemasok bahan mentah menjadi pemain rantai industri yang kuat mulai dari tambang, pengolahan, produksi material baterai, manufaktur sel baterai, hingga daur ulang baterai.

Dengan begitu, Indonesia diharapkan mampu memperkuat ketahanan industri EV (electric vehicle) alias kendaraan listrik nasional, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor logam yang identik dengan bahan baku baja nirkarat itu.

Indonesia saat ini sedang membangun mimpi besar menjadi produsen global dan pusat ekosistem EV lewat dua perusahaan nikel utamanya, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO).

Mimpi itu dininai dapat digapai. Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta Utama mengatakan, ada sejumlah faktor yang menopang prospek industri nikel dalam jangka panjang. Sebut saja kebijakan hilirisasi mineral oleh pemerintah; meningkatnya investasi smelter dan industri bahan baku baterai, serta; pertumbuhan kendaraan listrik global.

“Sentimen positif nikel seperti potensi peningkatan nilai tambah ekspor produk olahan dibandingkan bijih mentah serta dukungan pemerintah terhadap pengembangan rantai pasok baterai nasional,” kata Nafan kepada Katadata, Kamis (9/7).

Kendati demikian, jalan menuju cita-cita tersebut tidak sepenuhnya mulus. Nafan memandang industri nikel masih dibayangi fluktuasi harga akibat kelebihan pasokan global, perlambatan ekonomi dunia, perubahan teknologi baterai hingga ketatnya regulasi perdagangan dan lingkungan. Di sisi lain, proyek hilirisasi membutuhkan investasi yang sangat besar sehingga berpotensi menekan arus kas perusahaan pada tahap awal pembangunan.

Senada, analis Panin Sekuritas Elandry Pratama menilai prospek industri nikel Indonesia tetap menarik. Itu karena didukung cadangan yang melimpah dan arah kebijakan pemerintah yang konsisten mendorong hilirisasi. 

Menurut dia, peluang pengembangan produk bernilai tambah, khususnya bahan baku baterai kendaraan listrik, masih terbuka lebar. Namun investor tetap perlu mencermati risiko berupa volatilitas harga nikel, potensi oversupply serta perkembangan teknologi baterai yang dapat memengaruhi permintaan logam tersebut.

Lantas bagaimana dua pemain utama nikel Tanah Air, ANTM dan INCO, membangun dan menjalankan bisnis indsutri logam ini?

Ambisi ANTM Genjot Hilirisasi Nikel 

Di antara pelaku industri nasional, ANTM menjadi salah satu emiten yang berada di garis depan hilirisasi nikel. Meski selama ini lebih dikenal sebagai produsen emas, Antam sejatinya juga menjadi salah satu produsen nikel terbesar di Indonesia. Operasi pertambangannya tersebar di Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Konawe Utara, hingga Pulau Gag di Papua Barat.

Besarnya sumber daya menjadi modal utama Antam dalam mengembangkan hilirisasi. Berdasarkan laporan keuangan 2025, perseroan memiliki sumber daya nikel sebesar 1,49 miliar wet metric ton (wmt), naik 13% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. 

Cadangan nikelnya juga meningkat 8% menjadi 534,55 juta wmt. Sejalan dengan itu, produksi bijih nikel melonjak 62% menjadi 16,11 juta wmt, sementara penjualan mencapai 14,58 juta wmt atau hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

Bagi ANTM, peningkatan cadangan bukan sekadar angka dalam laporan keuangan. Ketersediaan bahan baku menjadi fondasi bagi pembangunan industri hilir yang lebih besar.

Perusahaan menargetkan mampu membangun rantai industri nikel secara utuh. Mulai dari kegiatan pertambangan, produksi nickel powder, konversi menjadi nikel sulfat, pembangunan pabrik high pressure acid leach (HPAL) untuk menghasilkan mixed hydroxide precipitate (MHP), produksi sel baterai, hingga fasilitas daur ulang baterai.

Ambisi itu diwujudkan lewat kerja sama dengan Contemporary Amperex Technology Co Limited (CATL), produsen baterai terbesar di dunia. Bersama Indonesian Battery Corporation (IBC), PLN, Pertamina dan Inalum, Antam membangun ekosistem baterai kendaraan listrik yang diperkirakan menyerap investasi hampir US$ 6 miliar. 

Proyek tersebut mencakup pembangunan smelter pirometalurgi dan hidrometalurgi di Halmahera Timur, pabrik bahan katoda, fasilitas produksi sel baterai di Karawang, hingga pabrik daur ulang baterai yang ditargetkan mulai beroperasi pada awal dekade berikutnya.

Ke depan, keberadaan fasilitas daur ulang menjadi bagian penting dari strategi tersebut. Dengan mendaur ulang baterai yang telah habis masa pakainya, Indonesia diharapkan mampu membangun sistem ekonomi sirkular sehingga rantai pasok kendaraan listrik tidak berhenti pada produksi baterai, tetapi juga mencakup pemanfaatan kembali bahan baku strategis.

Dalam RKAB 2026, ANTM menargetkan produksi bijih nikel mencapai 18,1 juta ton, naik 12,7% dari produksi ore pada 2025. 

Direktur Utama Antam, Untung Budiharto melaporkan, pada triwulan pertama 2026, segmen nikel untuk feronikel dan bijih nikel berkontribusi sebesar 15% atau Rp 4,47 triliun terhadap total penjualan, naik 19% dari Rp 3,77 triliun secara tahunan.

Produksi bijih nikel mencapai 3,88 juta wmt dengan volume penjualan sebesar 3,40 juta wmt yang seluruhnya diserap pasar domestik. Sementara itu, produksi feronikel tercatat sebesar 3.976 ton nikel dalam feronikel (TNi) dengan volume penjualan mencapai 2.803 TNi. Seluruh penjualan feronikel terserap oleh pasar ekspor.

“Dengan fondasi operasional yang solid dan kondisi keuangan yang sehat, perusahaan optimistis menjaga momentum pertumbuhan serta menghadapi dinamika global melalui strategi yang terukur dan berkelanjutan,” kata Untung dalam keterangannya.

INCO Jaga Asa Hilirisasi Berkelanjutan

Jika Antam berupaya membangun rantai industri baterai dari hulu hingga hilir, Vale Indonesia atau INCO justru mengambil peran lain. Perusahaan tambang yang telah beroperasi selama lebih dari lima dekade di Sorowako, Sulawesi Selatan, itu kini mempercepat transformasi dari produsen nikel menjadi penyedia bahan baku strategis bagi industri kendaraan listrik global.

Operasi utama INCO berada di Blok Sorowako seluas sekitar 70.566 hektare yang mencakup kegiatan eksplorasi, penambangan hingga pengolahan nikel secara terintegrasi. 

Perseroan mengolah bijih nikel saprolit menjadi nikel matte menggunakan teknologi pirometalurgi dengan pasokan listrik dari tiga pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Larona, Balambano dan Karebbe. Pemanfaatan energi rendah karbon tersebut menjadi salah satu keunggulan INCO di tengah meningkatnya tuntutan industri global terhadap praktik pertambangan yang berkelanjutan.

Namun, transformasi INCO tidak berhenti pada produksi nikel matte. Perseroan kini mengembangkan tiga proyek strategis Indonesia Growth Project (IGP) yang menjadi fondasi ekspansi hilirisasi nikel nasional. 

Salah satunya adalah IGP Sorowako Limonite. Proyek senilai US$1,9 miliar itu akan mengolah bijih limonit yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal menjadi produk bernilai tambah menggunakan teknologi HPAL. Produk tersebut akan menjadi bahan baku penting dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik.

Di Morowali, Sulawesi Tengah, INCO juga membangun proyek IGP Morowali dengan investasi sekitar US$ 2 miliar. Proyek tersebut mengintegrasikan kegiatan penambangan dengan fasilitas pengolahan HPAL untuk menghasilkan MHP, salah satu material utama dalam pembuatan baterai kendaraan listrik. 

Setelah beroperasi penuh, fasilitas ini ditargetkan mampu memproduksi sekitar 60.000 hingga 73.000 ton nikel per tahun dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok baterai global.

Komitmen INCO terhadap hilirisasi mendapat dukungan kuat dari sektor keuangan. Pada April lalu, perseroan memperoleh fasilitas sustainability-linked loan (SLL) senilai US$ 750 juta atau hampir Rp 13 triliun dengan opsi penambahan pendanaan sebesar US$ 250 juta. 

Fasilitas pinjaman sindikasi yang didukung 14 bank internasional itu bahkan mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 1,7 kali. Hal tersebut mencerminkan tingginya kepercayaan lembaga keuangan global terhadap strategi pertumbuhan Vale.

Dana tersebut akan digunakan untuk mempercepat pembangunan proyek-proyek strategis perseroan. Sekitar 50% dialokasikan untuk pengembangan IGP Pomalaa, 30% untuk IGP Morowali, dan sisanya untuk proyek IGP Sorowako Limonite. 

Pada 2027, pendanaan akan difokuskan untuk melanjutkan pembangunan proyek serta memenuhi kewajiban partisipasi pada sejumlah perusahaan patungan yang sedang dikembangkan.

Presiden Direktur sekaligus CEO Vale Indonesia, Bernardus Irmanto mengatakan, pendanaan tersebut mencerminkan komitmen perusahaan dalam mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam setiap keputusan investasi.

"Kami berkomitmen untuk terus menghadirkan nikel berkualitas tinggi dengan jejak karbon yang lebih rendah, sekaligus mendukung pengembangan industri hilirisasi nasional dan transisi energi global," ujar Bernardus.

Sementara Nafan menilai INCO memiliki sejumlah keunggulan yang membuat prospeknya tetap menarik dalam jangka panjang. Selain didukung kualitas aset tambang yang baik dan pengalaman operasional yang panjang, perseroan juga dinilai konsisten mengembangkan proyek hilirisasi serta menerapkan standar keberlanjutan yang semakin menjadi perhatian investor global.

“INCO juga sedang mengembangkan beberapa proyek pertumbuhan dan hilirisasi yang diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi dalam beberapa tahun ke depan,” ujar Nafan.

Di tengah meningkatnya permintaan nikel untuk kendaraan listrik, strategi INCO menunjukkan bahwa hilirisasi bukan semata soal meningkatkan kapasitas produksi. Transformasi itu juga menjadi upaya membangun industri nikel yang mampu memenuhi tuntutan pasar global terhadap produk yang tidak hanya bernilai tambah, tetapi juga diproduksi dengan standar lingkungan yang lebih baik.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Emas 74 Kg dan Uang Disita, Siapa Tersangkanya?
• 5 jam lalumetrotvnews.com
thumb
HUT ke-46, Dekranasda Makassar Kawal UMKM Naik Kelas
• 6 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Gubernur Riau Abdul Wahid Dituntut 8,5 Tahun Penjara, Hartanya Terancam Disita
• 38 menit lalujpnn.com
thumb
Kejar Swasembada Pangan, Kemendagri Minta Pemda-PPL Perkuat Kolaborasi
• 10 jam laludetik.com
thumb
Dokter Tifa Sebut Dakwaan JPU Lemah: Error in Persona dan Objecto
• 13 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.