JAKARTA, KOMPAS.com - Harga Rp 450.000 mungkin terdengar mahal untuk sebuah mainan anak.
Di tengah melimpahnya pilihan mainan plastik dan elektronik yang dijual dengan harga lebih murah, sebagian orang mungkin akan berpikir dua kali untuk membelinya.
Namun, anggapan itu tidak berlaku bagi sejumlah pembeli yang datang ke sebuah lapak sederhana di Jalan TMP Kalibata, Jakarta Selatan.
Di bawah atap seng yang mulai termakan usia, deretan miniatur truk, bus, dan mobil bak berbahan kayu tetap menarik perhatian.
Bagi mereka, harga ratusan ribu rupiah bukan sekadar dibayar untuk sebuah mainan, melainkan untuk karya kerajinan tangan yang memiliki nilai seni, ketelitian, dan cerita yang sulit ditemukan pada produk pabrikan.
Baca juga: Lapak Mainan Kayu Kalibata Menjaga Kenangan Masa Kecil
Lapak UD Senang Anak menjadi satu-satunya penjual mainan kayu yang masih bertahan di kawasan tersebut.
Dulu, kawasan depan Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata dikenal sebagai sentra mainan kayu dengan empat lapak yang berjajar.
Kini, etalase sederhana yang dipenuhi miniatur kendaraan berwarna merah, biru, kuning, dan hijau itu menjadi saksi bertahannya kerajinan yang perlahan terdesak oleh perubahan zaman.
Salah seorang pembeli, Eka (31), sengaja datang untuk mencari hadiah ulang tahun putranya yang berusia 10 tahun.
Ia justru tertarik ketika melihat miniatur truk berbahan kayu berukuran besar, sesuatu yang menurutnya sudah semakin sulit ditemukan di Jakarta.
"Justru karena beda. Anak-anak sekarang hampir semua mainannya plastik atau elektronik. Pas lihat mobil kayu ini saya langsung tertarik karena bentuknya unik dan jarang ditemui," kata Eka saat ditemui di rumahnya Jalan Kalibata Timur, Rabu (8/7/2026).
Menurut Eka, ia sempat mengurungkan niat ketika mengetahui harga miniatur tersebut mencapai ratusan ribu rupiah.
Namun, setelah melihat langsung kualitas pengerjaannya, pandangannya berubah.
Permukaan kayu yang halus, warna cat yang rapi, roda yang dapat berputar, hingga bak truk yang bisa dibuka membuatnya memahami mengapa harga mainan tersebut jauh berbeda dibandingkan produk pabrikan.
"Tapi setelah saya pegang langsung ternyata bahannya kokoh, finishing-nya juga rapi. Jadi menurut saya harganya masih masuk akal karena bukan mainan pabrikan biasa," ujar dia.
Baca juga: Satu Kotak Lagi, Siapa Tahu Dapat, Kala Blind Box Bikin Impulsif
Bagi Eka, miniatur itu juga memiliki umur pakai yang lebih panjang. Ketika anaknya tidak lagi memainkannya kelak, benda tersebut masih dapat menjadi pajangan atau bahkan dikenang sebagai bagian dari masa kecil.
"Kalau mainan kayu begini menurut saya punya nilai budaya juga. Mudah-mudahan tetap ada karena anak-anak sekarang juga perlu dikenalkan dengan mainan tradisional yang berkualitas," tuturnya.
Pandangan serupa diungkapkan Anggi (28) tetangga Eka yang memilih miniatur truk ukuran besar sebagai hadiah ulang tahun putranya.
Di tengah banyaknya pilihan hadiah berupa gawai maupun mainan elektronik, ia ingin memberikan sesuatu yang berbeda.
"Kebetulan anak saya sebentar lagi ulang tahun. Saya sengaja cari hadiah yang beda dari biasanya. Kalau beli mobil plastik mungkin sudah sering. Saya pikir mainan kayu ini lebih berkesan dan bisa disimpan sampai dia besar nanti," ujar Anggi.





