Bisnis.com, JAKARTA — PT Toyota Astra Motor (TAM) memilih tetap bersikap waspada dalam menghadapi sejumlah tantangan pasar otomotif pada semester II/2026, meskipun industri mulai menunjukkan pemulihan sepanjang paruh pertama tahun ini.
Marketing Director Toyota Astra Motor Bansar Maduma mengatakan, kinerja penjualan Toyota masih menunjukkan pertumbuhan, didorong oleh kepercayaan konsumen terhadap merek Toyota, dukungan jaringan penjualan yang luas, serta portofolio produk yang mencakup berbagai segmen, termasuk kendaraan elektrifikasi.
"Untuk semester II, kami tetap optimistis namun berhati-hati melihat kondisi pasar yang masih cukup menantang, terutama terkait daya beli masyarakat dan dinamika ekonomi global maupun domestik," ujar Bansar kepada Bisnis, dikutip Kamis (9/7/2026).
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan wholesales Toyota sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai 133.928 unit atau menguasai pangsa pasar sebesar 30,7%. Sementara itu, penjualan ritel Toyota pada periode yang sama tercatat sebanyak 129.925 unit.
Bansar menuturkan, model-model dengan volume penjualan terbesar masih menjadi penopang utama kinerja perseroan. Sejumlah model tersebut antara lain Kijang Innova, Avanza dan Veloz, Rush, serta Calya.
Ke depan, Toyota akan tetap berfokus menghadirkan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen Indonesia, sekaligus memperkuat layanan purnajual dan rantai nilai (value chain) perusahaan.
Baca Juga
- Pabrikan Otomotif Siapkan Amunisi Jelang GIIAS 2026
- Kesepakatan Mencakup Otomotif & Agroindustri
- Penjualan Mobil Semester I/2026: Toyota Kuasai Pasar, BYD Salip Honda
"Kami juga akan terus memperluas pilihan kendaraan rendah emisi melalui pendekatan multi-pathway agar semakin banyak masyarakat dapat memilih solusi mobilitas yang sesuai dengan kebutuhannya," pungkasnya.
Di sisi lain, pasar otomotif nasional masih mencatatkan pertumbuhan sepanjang semester I/2026. Data Gaikindo menunjukkan penjualan wholesales mencapai 436.564 unit atau meningkat 15,9% secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 376.707 unit.
Kinerja serupa juga terlihat pada penjualan ritel yang mencapai 433.848 unit selama Januari-Juni 2026. Realisasi tersebut naik 10,5% dibandingkan semester I/2025 yang tercatat sebanyak 392.778 unit.
Meski pasar mulai pulih, industri otomotif masih menghadapi sejumlah tantangan eksternal. Pelemahan nilai tukar rupiah yang bertahan di kisaran Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi meningkatkan biaya produksi kendaraan.
Selain itu, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) menjadi 5,75% juga dinilai berisiko menekan permintaan melalui meningkatnya bunga kredit kendaraan bermotor.





