Mengapa Trump Nekat Serang Iran Saat Pemakaman Ali Khamenei? Begini Analisis Pakar

metrotvnews.com
16 jam lalu
Cover Berita

Amerika Serikat kembali melancarkan serangan ke Iran di tengah prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Momen tersebut memicu berbagai spekulasi mengenai alasan di balik waktu serangan yang dipilih Washington. Pakar Hubungan Internasional President University, Teuku Rezasyah, menilai langkah itu merupakan bagian dari strategi politik dan militer Presiden AS Donald Trump. 

Ia menilai AS kemungkinan memanfaatkan momentum ketika Iran sedang berduka atas wafatnya Ali Khamenei dengan asumsi fokus pemerintah dan masyarakat Iran akan terpecah. Namun, perhitungan tersebut dinilai tidak sepenuhnya tepat.

"Trump berpikir Iran lengah karena seluruh energi dikerahkan untuk prosesi pemakaman. Padahal Iran merupakan peradaban yang sudah berusia empat ribu tahun dan dan mereka sudah terbiasa dengan naik turunnya politik di dalam negeri dan luar negeri. Dan kali ini Iran sudah berhasil mengirimkan peluru kendali ke target-target tertentu di Timur Tengah, bukan hanya di wilayah basis militer tapi juga di wilayah laut di mana kapal-kapal Amerika Serikat dan Israel berada," ujar Teuku dalam tayangan Primetime News Metro TV, Kamis 9 Juli 2026. 

Teuku juga mengaitkan serangan tersebut dengan situasi politik Donald Trump. Menurutnya, Trump sedang menghadapi tekanan politik di dalam negeri sekaligus berupaya menunjukkan kepemimpinan Amerika Serikat di hadapan negara-negara anggota NATO yang mulai meragukan dominasi Washington.

"Negara-negara NATO mulai melihat bahwa statement dari jenderal-jenderal Amerika Serikat dan statement dari kepala staf gabungan dan juga statement dari mantan-mantan menteri pertahanan itu mengatakan bahwa Amerika Serikat sekarang dipimpin oleh orang yang tidak taat konstitusi. Mereka sudah melihat sendiri direktur Counter-Terrorism sudah mengundurkan diri. Jadi untuk itu tampaknya Amerika Serikat sudah mulai melemah, maka dari itu AS melakukan unjuk gigi dengan melakukan pemboman atas titik-titik tertentu di Iran. Analogi pemikiran AS adalah dalam kondisi sedang berduka cita, Iran akan melemah. Padahal sistem pertahanan Iran di darat, laut, dan udara terus diperkuat," jelasnya.

Baca Juga :

Balas AS, Iran Akan Menutup Selat Hormuz dan Menyerang Lebih Banyak Target
Selain itu, ia menilai perundingan antara Amerika Serikat dan Iran terkait nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) masih berada dalam ketidakpastian. Meski Trump menyatakan kesepakatan tersebut telah gagal, di sisi lain perwakilan Amerika Serikat disebut masih membuka ruang negosiasi dengan Iran.

"Donald Trump mengatakan perundingan sudah gagal, tetapi di saat yang sama dia masih mengizinkan perwakilannya untuk terus berunding. Jadi Amerika Serikat bermain dua kaki," ujarnya.

Teuku memprediksi ketegangan kedua negara justru akan meningkat dalam beberapa pekan ke depan. Ia memperkirakan Agustus akan menjadi periode krusial ketika Amerika Serikat dan Iran sama-sama memperkuat kemampuan militernya sembari mengevaluasi kembali poin-poin kesepakatan yang pernah dirancang.

"Dan untuk itu ya kita berpikir 60 hari ke depan itu adalah jatuhnya pada pertengahan Agustus. Kalau begini adanya, saya pikir hari-hari ke depan akan diisi dengan pacu senjata, dengan adu kuat antara Amerika Serikat dan Iran. Dan untuk itu kemungkinan besar semua poin dari 14 tersebut akan dibahas ulang. Kalau selama ini tim negosiasi Iran tampaknya keras tapi akomodatif, tapi ke depannya kemungkinan besar Iran akan keras dan sangat tegas dan tidak akan berkompromi," terangnya. 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Daftar Terbaru 38 Bandara Internasional RI: 18 Belum Layani Rute Luar Negeri
• 22 jam lalubisnis.com
thumb
Polisi Sita Emas dan Uang Total Rp476 M di Sentul, JampidsusFebrie: Dapat Dipertanggungjawabkan!
• 6 jam lalurctiplus.com
thumb
Polisi Hadirkan Saksi dalam Penggeledahan Ruko di Cipete Jaksel
• 16 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Mendagri dukung integrasi data lewat RUU kebijakan Satu Data Indonesia
• 19 jam laluantaranews.com
thumb
Timnas Indonesia Jelang Piala AFF 2026: John Herdman Waspadai Vietnam, Ingin Rasakan Rivalitas dengan Malaysia
• 1 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.