Ekonomi Perang Rusia-Ukraina yang Semakin Mahal

kompas.id
11 jam lalu
Cover Berita

Ketika Rusia melancarkan invasi ke Ukraina pada 24 Februari 2022, Presiden Vladimir Putin dengan percaya diri menyatakan bahwa negaranya memiliki kesiapan ekonomi yang sangat kokoh untuk menghadapi segala bentuk ancaman dan sanksi Barat yang menekan Rusia dengan kekuatan ekonomi Amerika Serikat dan negara-negara Eropa.

Pidato Putin sesaat ketika militer Rusia mulai menyeberang perbatasan Ukraina menyatakan bahwa Rusia ”menyadari sepenuhnya” kekuatan ekonomi dan sumber daya negara-negara Barat, tetapi akan tetap percaya diri dan berpandangan obyektif terhadap ancaman sanksi-sanksi ekonomi yang akan diterapkan negara Barat setelah invasi dilakukan.

Catatan perekonomian dunia menunjukkan, Rusia memasuki masa perang pada 24 Februari 2022 dengan dana kekayaan negara (national wealth fund) sebesar 6,5 persen PDB yang dianggap mencukupi sebagai bantalan keuangan negara (fiskal) untuk menyerap kejutan naik turun harga minyak dunia saat itu.

Jumlah itu merupakan aset likuid yang jumlahnya sekitar 113 miliar dolar AS, dari total Dana Kekayaan Nasional Rusia yang sebesar 174,9 miliar dolar AS. Jumlah ini setara dengan 10,2 persen PDB Rusia pada 2022 dan bisa membiayai seluruh total pengeluaran anggaran negara Rusia selama 3 hingga 3,5 bulan seandainya tanpa pemasukan sekalipun.

Namun, pada Juni 2026, aset likuid dari dana kekayaan negara itu menyusut tajam hanya tersisa 48,04 miliar dolar AS. Angka ini menggambarkan penurunan tajam menjadi hanya sekitar 1,8 persen PDB atau tidak sampai sepertiga dari keadaan di awal perang.

Kondisi itu menggambarkan bantalan fiskal Rusia yang semula dianggap mencukupi kini dinilai semakin mengkhawatirkan, terutama karena Rusia dibatasi oleh banyak sanksi internasional untuk melakukan perdagangan dengan luar negeri.

Kiel Institute For World Economy dalam laporan bulan Juni 2026 yang bertajuk ”Endgame The State of The Russian Economy” menyoroti susutnya bantalan keuangan Rusia hingga jauh di bawah batas aman fiskal negara itu. Defisit anggaran negara pada paruh kuartal pertama 2026 sudah mencapai 4,6 triliun rubel, jauh melampaui target sepanjang tahun sebesar 3,8 triliun rubel hanya dalam tiga bulan.

”Pada tahun pertama perang melawan Ukraina, ekonomi Rusia terbukti lebih kokoh daripada yang banyak diperkirakan, tapi itu sekarang sudah terhabiskan,” kata Moritz Schularick, Presiden Kiel Institute For The World Economy.

Pendapatan dari ekspor minyak dan gas anjlok 45 persen pada kuartal pertama 2026 ketimbang tahun lalu, sebagai dampak ketatnya sanksi pada perusahaan-perusahaan besar energi Rusia dan juga akibat serangan drone Ukraina yang merusak infrastruktur ekspor.

Per 26 Maret 2026 Reuters melaporkan, paling tidak 40 persen kapasitas ekspor minyak sudah terhenti karena kerusakan instalasi penyulingan. Dari seluruh kapasitas pengilangan, skala yang rusak mencapai sepertiga kapasitas produksi dan produksi bensin turun 25 persen secara tahunan. Proporsi kerusakan saat ini tentu semakin besar karena jangkauan drone Ukraina sudah semakin jauh masuk ke dalam wilayah Rusia.

Keterbatasan

Serangan pada kilang minyak Rusia sudah dimulai sejak Maret dan April 2024. Saat itu Ukraina meluncurkan gelombang drone jarak jauh pertama yang sukses menghantam kilang-kilang minyak besar, seperti di wilayah Ryazan dan kilang Taneco di Tatarstan berjarak sekitar 1.300 km dari perbatasan.

Menyadari efektivitas taktik itu, sejak Agustus 2025 Ukraina memakainya dengan mengubah taktik secara agresif di mana serangan tak lagi bersifat acak pada seluruh bagian, tetapi secara cermat menyasar komponen spesifik yang tak dapat diganti, seperti unit-unit distilasi utama.

Seiring dengan semakin berkembangnya teknologi drone Ukraina, termasuk teknologi anti-jamming, kecerdasan buatan dan lahirnya rudal jelajah besar bermesin jet seperti FP-5 Flamingo, membuat Ukraina semakin leluasa menyerang target Rusia.

Tercatat, sejak Januari sampai Juli 2026 drone Ukraina sudah menghantam minimal 200 sasaran di kilang-kilang minyak Rusia, mayoritas dengan drone kamikaze FP-1 yang ditingkatkan kemampuannya. Yang terbaru adalah serangan drone jarak jauh pada 6 Juli 2026 sedalam 2.700 km dari perbatasan Ukraina yang mencapai kilang Omsk di wilayah Siberia, kilang terbesar dan semula dianggap paling aman karena terletak di balik Pegunungan Ural.

Kilang Omsk mengolah hingga 10 persen total produksi minyak Rusia dan beberapa hari lalu diserang drone tepat pada bagian pengolahan minyak utama (ELOU-AVT-11).  Sebelumnya, kilang MNPZ dekat Moskwa juga rusak berat pada unit pemrosesan utama akibat serangan drone FP-I Ukraina secara beruntun. Kilang utama lainnya, seperti Slaviansk, Ryazan, dan Sysran mengalami kebakaran dan kerusakan pada komponen pemrosesan yang memaksa pihak pengelola menghentikan operasi.

Kerusakan pada unit pengolahan primer seperti ini berdampak sangat fatal karena semua unit turunan lainnya tidak dapat beroperasi. Total sudah seluruh 11 kilang minyak utama Rusia yang diserang oleh drone Ukraina.

Taktik ini dipakai Ukraina untuk memaksa Rusia berunding tentang solusi perdamaian karena sangat sulit untuk memperbaiki bagian sesnsitif kilang yang diserang. Rusia diketahui terkendala pengadaan suku cadang teknologi tinggi dan peralatan khusus dari negara Barat akibat sanksi internasional.

Negara-negara Barat melarang ekspor alat-alat berteknologi tinggi yang dibutuhkan untuk membangun atau meningkatkan kualitas kilang minyak. Perusahaan minyak terkemuka Barat, seperti SLB, Baker Hughes, dan Halliburton, menghentikan operasionalisasi dan dukungan teknis manajemen kilang di Rusia (Financial Times, 14/1/2025).

Hal tersebut tentu menyulitkan Rusia karena sebagian besar kilang minyak modern di Rusia dibangun menggunakan cetak biru dan suku cadang buatan perusahaan-perusahaan besar Barat. Kalaupun Rusia bisa menggantinya secara mandiri, kanibalisme atau mengimpor dari negara non-Barat, kualitasnya lebih rendah.

Inflasi

Perang ini juga menciptakan tekanan inflasi pada tiga bidang anggaran Rusia, yakni belanja negara, sektor militer, dan kebutuhan domestik. Bank sentral Rusia terpaksa menurunkan suku bunga pada 19 Juni 2026 ke 14,25 persen demi menahan laju inflasi (Bank of Russia, cbr.ru, 19/6/2026).

Betapapun, tingkat suku bunga setinggi itu membuat investor menahan diri sehingga sektor manufaktur sipil ikut melemah. Per April 2026 defisit anggaran Rusia periode Januari-Maret 2026 mencapai 4,58 triliun rubel atau mencapai 1,9 persen PDB.

Ekonomi perang Rusia juga rawan oleh mobilisasi manusia yang masif dan menyedot anggaran raksasa. Hal ini karena Rusia menawarkan gaji, bonus, kompensasi kematian, dan insentif yang besar bagi sukarelawan yang mau berperang.

Rusia belum menerapkan pemaksaan semacam wajib militer bagi penduduknya karena khawatir stabilitas politik. Karena itu, pemerintah terpaksa menempuh strategi perekrutan dengan biaya tinggi, termasuk perekrutan dari daerah miskin, narapidana, dan sukarelawan asing.

Lembaga SIPRI mencatat pembiayaan pemerintah federal perang dan belanja militer Rusia pada 2025 mencapai sekitar 16 triliun rubel atau 7,5 persen dari PDB. Sedangkan untuk 2026 ini diperkirakan sedikit turun, tetapi tetap berada pada level yang sangat tinggi untuk tahun kelima perang.

Jika anggaran perang itu digabung dengan belanja keamanan nasional, beban anggarannya kian membengkak hebat menjadi sekitar 17 triliun rubel atau mencapai 41 persen total belanja anggaran sebagaimana dilaporkan Reuters (20/8/2025). Artinya, hampir separuh dari ruang fiskal Rusia kini terserap untuk pembiayaan perang, keamanan nasional, dan pembiayaan aparat negara.

Sejauh ini, meski ruang fiskal menyempit, ekonomi Rusia memang tidak berhenti karena negara itu membuat pengalihan permintaan industri skala besar ke sektor militer. Pabrik amunisi, rudal, kendaraan tempur, drone, seragam, logistik, dan elektronik bekerja dalam kapasitas tinggi menggantikan industri manufaktur sipil.

Inilah yang membuat pertumbuhan ekonomi Rusia tetap hidup semasa perang. Sektor pertahanan menjadi motor utama perekonomian di tengah melemahnya output dari sektor produktif sipil. Dengan demikian, di permukaan ekonomi Rusia masih bergerak, tetapi di bawahnya terjadi ketimpangan karena sektor perang memanas, sedangkan sektor sipil ”mendingin”.

Baca JugaRusia Larang Ekspor Solar, Harga BBM Sulit Turun
Asimetris

Banyak pengamat militer pada awalnya memperkirakan bahwa perang perlawanan oleh militer Ukraina hanya akan berlangsung selama beberapa minggu atau bahkan hari. Hal itu mengacu pada kondisi ketimpangan ukuran kemampuan militer kedua negara. Kekuatan militer Ukraina dari segi persenjataan nyaris hanya 1/20 dari Rusia, demikian pula jumlah tentara aktif yang dimiliki hanya seperlima tentara Rusia.  

Besarnya kekuatan militer, ekonomi, dan sumber daya manusia dibandingkan dengan Ukraina membuat skala peperangan hanya dianggap sebatas operasi militer khusus oleh Rusia. Para pengamat memperkirakan ibu kota Kyiv akan jatuh hanya dalam beberapa hari akibat tekanan luar biasa militer Rusia.

Selain itu, pengalaman sebelumnya menunjukkan keberhasilan mutlak pasukan Rusia ketika memasuki/menginvasi wilayah Ukraina di Semenanjung Krimea pada akhir Februari 2014. Saat itu Rusia secara kilat menduduki Krimea dan hanya dalam tiga hari sudah mengendalikan seluruh wilayah semenanjung luas itu.

Namun, perkembangan di lapangan menunjukkan hasil yang berbeda dengan perkiraan pengamat militer internasional. Alih-alih segera menyerah dan melapangkan jalan bagi pendudukan Rusia sebagaimana tahun 2014, Rusia mengalami banyak kerugian akibat perang ini. Nilai kerugian secara ekonomi, militer, dan politik menjadi yang terbesar dialami Rusia sejak Perang Dunia II.

Strategi terbaru Ukraina yang menjalankan perang asimetris dengan memanfaatkan drone dan menyerang pusat-pusat pengilangan minyak Rusia telah memberikan pukulan telak yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Ekonomi perang Rusia memang belum runtuh, tetapi daya tahan negara itu kini semakin menipis akibat bantalan fiskal yang menipis dan dampak serangan drone yang tak bisa segera dipulihkan. Perang Rusia-Ukraina mungkin masih akan berlanjut seperti tekad Presiden Vladimir Putin. Namun, kini dia harus membayar dengan harga yang semakin mahal dan tak mustahil tak tertanggungkan bagi anggaran negaranya. (LITBANG KOMPAS)

Baca JugaPerang Rusia-Ukraina Tak Kunjung Rampung


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Presiden Prabowo Akan Beri Tanda Kehormatan ke Orang yang Berjasa Buat B50
• 21 jam laluidxchannel.com
thumb
ISESS: Pejabat Kejaksaan atau Polri yang Dikaitkan Perkara Korupsi Sebaiknya Dinonaktifkan
• 1 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
IISAR 2026 Pamerkan Inovasi Penyelamatan Udara, Laut, Darat hingga Bawah Air
• 7 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Uang Assalamualaikum, Kode Fee Proyek Eks Sekjen MPR
• 21 jam laluliputan6.com
thumb
Timnas Indonesia Jelang Piala AFF 2026: John Herdman Waspadai Vietnam, Ingin Rasakan Rivalitas dengan Malaysia
• 26 menit lalubola.com
Berhasil disimpan.