Ketika Sopir Truk Meninggal Saat Antre di SPBU, Alarm Kelangkaan Solar yang Tak Didengar

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Sudah berbulan-bulan Sumatera dilanda kelangkaan solar. Sopir-sopir truk, bus, dan kendaraan lain harus antre berjam-jam, kadang berhari-hari, untuk mendapat bahan bakar. Alarm keras dampak kelangkaan solar pun datang dari Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Seorang sopir truk, Amri (50), meninggal di bangku sopir saat antre di SPBU.

Kepala Kepolisian Resor Banyuasin Ajun Komisaris Besar Risnan Aldino menuturkan, arus lalu lintas di Jalan Palembang-Pangkalan Balai macet parah, Senin (29/6/2026). Penyebabnya, antrean panjang di SPBU Limau mengular sampai ke badan jalan nasional itu.

Di jalan urat nadi ekonomi Sumatera itu juga banyak truk yang mogok. ”Hari Senin tersebut terjadi kemacetan panjang di wilayah kami,” kata Risnan, Kamis (9/7/2026).

Di tengah kemacetan lalu lintas dan antrean panjang di SPBU Limau tersebut, para sopir terkejut melihat seorang sopir mobil truk boks tergeletak di kursi sopir. Truk boks yang ditumpanginya tak kunjung bergerak.

Para sopir yang mengantre memeriksa kondisi sopir mobil boks itu. Ternyata sopirnya tidak bergerak lagi. Orang-orang langsung mengerumuni truk tersebut. Namun, tidak ada yang berani membuka pintu dan mengecek langsung kondisi Amri.

Saat itu, Kurnia (44), sopir truk yang juga sedang melintas, berhenti. ”Ketika pintu kendaraan dibuka oleh Kurnia, sopir truk tersebut, yakni Amri, sudah meninggal dalam kondisi duduk di bangku sopir. Di sampingnya ditemukan minuman berenergi,” kata Risnan.

Kisah Amri menjadi gambaran perjuangan para sopir di sepanjang jalan lintas Sumatera dari Aceh hingga Lampung. Selama berbulan-bulan, mereka kelelahan mengantre dan melewati kemacetan lalu lintas.

Para sopir truk menyebut, perjalanan Medan-Jakarta yang seharusnya 5 hari membengkak menjadi 10 hari. Mereka juga harus menanggung biaya tambahan karena perjalanan yang semakin lama dan juga tekanan stres akibat mengantre setiap hari.

Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Organisasi Angkutan Darat Kurnia Lesani Adnan menyebut, meninggalnya seorang sopir angkutan saat mengantre mengisi solar adalah puncak dari krisis solar yang sudah berbulan-bulan melanda Sumatera.

Baca JugaKelangkaan Biosolar Meluas ke Kawasan Industri Medan, Logistik Ekspor Tersendat

”Ini fakta yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah pada permasalahan kelangkaan BBM bersubsidi di daerah-daerah seluruh Indonesia,” kata Kurnia.

Kurnia mengatakan, sejak terjadi kelangkaan solar bersubsidi, sopir kendaraan harus mengantre berjam-jam, bahkan lebih dari satu malam. Akibatnya, waktu istirahat para sopir pun tersita. Para sopir mengalami kelelahan yang sangat parah karena harus antre setiap hari.

Selain itu, kata Kurnia, perusahaan logistik juga harus mengorbankan waktu pemeliharaan kendaraan. Hal ini juga menyebabkan keandalan kendaraan berkurang. Semakin banyak kendaraan mengalami kerusakan di perjalanan.

Saat ini juga banyak SPBU yang membatasi pembelian biosolar di bawah kuota. Secara aturan, truk dan bus roda enam atau lebih mendapat kuota Biosolar maksimal 200 liter per hari. Namun, kondisi saat ini, tiap SPBU menerapkan kebijakan pengisian Biosolar maksimal 100 liter setiap pengisian. Akibatnya, para sopir truk antarprovinsi harus mengantre 1-2 kali sehari.

”Kami dari Organda sangat menyayangkan sampai saat ini PT Pertamina Patra Niaga menghindar dari permasalahan kelangkaan ini. Sampai sekarang tidak ada kejelasan sikap pemerintah pada permasalahan solar bersubsidi di republik tercinta ini,” kata Kurnia.

Kurnia meminta pemerintah bersama Pertamina segera mencari solusi tentang kelangkaan solar bersubsidi yang sudah terjadi selama berbulan-bulan. Selain angkutan logistik, angkutan penumpang juga sangat terdampak pada kelangkaan solar bersubsidi.

Ini fakta yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah pada permasalahan kelangkaan BBM bersubsidi di daerah-daerah seluruh Indonesia

Tinton Hutapea, Koordinator Lapangan Bus PT Indah Halmahera Nusantara, mengatakan, banyak jadwal keberangkatan tertunda dan penumpang mengeluhkan keterlambatan perjalanan. ”Kami sangat dirugikan. Perjalanan Medan-Pekanbaru yang biasanya 15 jam kini bisa mencapai 25 jam,” kata Tinton.

Berdasarkan pantauan Kompas, di Medan, Sumut, kelangkaan solar bersubsidi juga masih terjadi. Pasokan solar bersubsidi beberapa pekan lalu sudah sempat membaik. Namun, belakangan ini, kelangkaan solar terjadi lagi.

Baca JugaTragedi Antrean Solar di SPBU Berulang, Sopir Truk Tewas Dikeroyok

Beberapa SPBU tampak kehabisan pasokan pada Rabu siang sebagaimana terjadi di SPBU di Jalan Percut, Jalan Medan-Sampali, Jalan Gatot Subroto, dan Jalan Sisingamangaraja memasang plang pengumuman Biosolar habis. Sementara di SPBU yang memiliki pasokan, antrean panjang masih terjadi.

”Saya sudah mengantre lebih dari satu jam di SPBU Jalan Cemara ini. Sebelum ke sini, saya antre dua jam di SPBU Jalan Helvetia, tetapi saat hendak giliran saya, solarnya sudah habis,” kata Warsito (50), sopir truk.

Area Manager Communication, Relations, and CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel Rusminto Wahyudi mengatakan, Pertamina melakukan koordinasi dengan Pemprov Sumsel sebagai wujud sinergi seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga kelancaran penyaluran BBM subsidi kepada masyarakat.

”Pertamina menjaga keandalan pasokan, mengoptimalkan distribusi dari terminal BBM ke SPBU sesuai kebutuhan, serta terus bersinergi dengan seluruh pemangku kepentingan agar pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan dengan baik,” ujar Rusminto dalam keterangan tertulisnya.

Sebagai bentuk komitmen dalam memperkuat tata kelola penyaluran BBM subsidi, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel terus meningkatkan pengawasan terhadap lembaga penyalur, mengatur prioritas pasokan pada SPBU dengan tingkat kebutuhan tinggi, serta mengoptimalkan distribusi BBM guna memastikan penyaluran berlangsung sesuai ketentuan.

Selain penguatan aspek operasional, Pertamina memperkuat koordinasi dengan Pemprov Sumsel, BPH Migas, Hiswana Migas, aparat penegak hukum, serta pengelola SPBU untuk memastikan penyaluran BBM subsidi berjalan baik.

Pertamina juga mengajak masyarakat untuk menggunakan BBM subsidi sesuai dengan ketentuan dan peruntukannya agar manfaat subsidi dapat dirasakan oleh masyarakat yang berhak.

Baca JugaKrisis Sumut: Solar Susah dan Listrik Mati


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Penjualan Mobil Naik 32,9 Persen di Juni 2026, Model xEV Laris Manis
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Dikaitkan Kasus Blackout Sumatra, Jampidsus Febrie: Saya Tidak Paham
• 2 menit lalumetrotvnews.com
thumb
Pantau Pasar Bangil, Satgas Pangan Polres Pasuruan Pastikan Harga Telur Ayam Stabil di Zona Aman
• 16 jam laluberitajatim.com
thumb
Cara Ajukan Pembetulan Data PBB-P2 Secara Online, Simak Syarat dan Tahapannya
• 5 jam laluliputan6.com
thumb
Langkah Polri Telusuri Dugaan Korupsi dan TPPU Dinilai Sesuai Prosedur
• 11 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.