Sebuah studi terbaru dari HSE University di Moskow, Rusia, mengungkapkan temuan menarik terkait perilaku netizen dalam memverifikasi informasi. Hasil studi tersebut menemukan kebiasaan verifikasi ini sangat dipengaruhi oleh faktor usia, tempat tinggal, hingga isi dompet.
Urgensi verifikasi informasi ini sendiri muncul di tengah ledakan informasi global. Para pakar memperkirakan jumlah data yang dikonsumsi secara harian akan melampaui 220 zettabytes pada 2026, yang juga diikuti dengan pertumbuhan konten palsu yang masif akibat teknologi AI.
Peneliti studi berjudul "Tactics for Countering Fake Information and Factors for Fact-Checking in Russia" menganalisis data survei nasional terhadap lebih dari 10.000 responden berusia 14 tahun ke atas dari 2022 hingga 2024.
Analisis mereka berfokus pada responden yang terpapar dengan informasi palsu --sekitar separuh netizen mengaku pernah menemui informasi palsu secara online. Hasilnya, lebih dari setengahnya berupaya melakukan verifikasi.
Namun, ada ketimpangan yang cukup lebar di sini. Hasil riset menunjukkan anak muda, kelompok berpenghasilan menengah ke atas, serta warga yang tinggal di kota metropolis (seperti Moskow dan St. Petersburg) terbukti lebih rajin mengecek kebenaran informasi. Menariknya, tidak ditemukan perbedaan signifikan antara warga di kota besar lainnya dengan mereka yang tinggal di pemukiman yang lebih kecil.
"Hasil penelitian ini menunjukkan adanya ketimpangan digital: orang tua, warga kota kecil atau pedesaan, serta pengguna berpenghasilan rendah lebih rentan terhadap manipulasi online," papar peneliti junior di HSE ISSEK, Liliya Kuzina.
Orang-orang yang terbuka dengan teknologi juga lebih terlindungi dari informasi palsu. Cara netizen memverifikasi informasi pun beragam.
Langkah paling umum adalah melacak sumber asli informasi (dilakukan oleh sepertiga pengguna), diikuti dengan memeriksa kredibilitas pengunggah (seperempat pengguna). Menariknya, hanya sekitar 3 persen responden yang mengandalkan situs verifikasi fakta independen seperti Snopes. Sisanya lebih memilih membandingkan berita di media lain atau berdiskusi dengan orang terdekat.
Riset ini juga mematahkan asumsi umum: Seringnya seseorang berselancar di internet tidak menjamin mereka menjadi lebih kritis. Data menunjukkan frekuensi penggunaan internet tidak berpengaruh pada keinginan melakukan verifikasi. Sebaliknya, terlalu banyak menghabiskan waktu untuk sekadar scrolling tanpa arah justru membuat kita rentan memercayai atau bahkan ikut menyebarkan hoaks.
"Penting untuk dipahami pemeriksaan fakta bukanlah konsekuensi otomatis dari aktivitas online, melainkan tindakan yang disengaja. Passive scrolling tidak akan menumbuhkan pemikiran kritis," tegas peneliti HSE ISSEK lainnya, Evgenii Popov.
Faktor lain seperti gender dan tingkat pendidikan disebut tidak berpengaruh pada keinginan untuk melakukan verifikasi informasi.
Penelitian ini pun mengangkat karakteristik ganda dari AI. Di satu sisi, AI mempermudah pembuatan hoaks yang meyakinkan. Di sisi lain, AI dapat menjadi alat yang memudahkan verifikasi informasi. Namun, penting dipahami, peneliti menekankan alat secanggih apa pun tetap memerlukan kapasitas berpikir kritis dari penggunanya.





