Program Studi Radiologi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas 'Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta mengembangkan Batako Anti-Radiasi, material alternatif pelindung radiasi untuk ruang radiologi yang telah memperoleh sertifikat paten terdaftar pada 2025 dengan nomor IDS000010054.
Inovasi Batako Anti-Radiasi tersebut diperkenalkan dalam Times Higher Education (THE) Global Sustainable Development Congress (GSDC) 2026 melalui dosen Program Studi Radiologi UNISA Yogyakarta, Fisnandya Meita Astari, yang menjadi delegasi pada forum tersebut.
Kongres yang berlangsung di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, pada 22–25 Juni 2026 itu mempertemukan akademisi, peneliti, industri, dan pembuat kebijakan dari berbagai negara untuk mendorong pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Batako Anti-Radiasi dikembangkan sebagai alternatif pelindung radiasi yang efektif menahan paparan radiasi sekaligus mendukung prinsip keberlanjutan dalam pembangunan fasilitas kesehatan.
Kebutuhan material pelindung radiasi memang menjadi bagian penting dalam pembangunan fasilitas kesehatan, sebab ruang radiologi harus memenuhi standar keselamatan bagi pasien maupun tenaga medis.
Selama ini, material pelindung konvensional umumnya belum banyak mempertimbangkan aspek ramah lingkungan dalam proses maupun bahan pembuatannya, sehingga pengembangan material yang menggabungkan fungsi proteksi radiasi dan prinsip keberlanjutan dinilai menjadi salah satu alternatif bagi fasilitas kesehatan.
Dalam forum tersebut, Fisnandya berdiskusi dengan akademisi dan praktisi dari sejumlah negara mengenai peluang kolaborasi riset, pengembangan teknologi kesehatan, serta implementasi inovasi yang mendukung target SDGs di bidang kesehatan dan lingkungan.
Wakil Rektor IV UNISA Yogyakarta, Moh Ali Imron, mengatakan hasil riset yang dikembangkan di lingkungan kampus memiliki potensi untuk menjawab tantangan yang lebih luas.
"Keikutsertaan dosen UNISA Yogyakarta pada Times Higher Education Global Sustainable Development Congress 2026 menunjukkan bahwa hasil riset yang dikembangkan di kampus tidak hanya memiliki kualitas akademik, tetapi juga mampu memberikan solusi terhadap berbagai tantangan global,” katanya.
Ali Imron menilai, Batako Anti-Radiasi menjadi salah satu contoh penerapan hasil penelitian yang dapat dimanfaatkan di sektor kesehatan.
"Inovasi Batako Anti-Radiasi menjadi contoh bagaimana penelitian dapat mendukung keselamatan layanan kesehatan sekaligus memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.
Partisipasi Program Studi Radiologi UNISA Yogyakarta dalam kongres ini juga menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring global, meningkatkan rekognisi internasional, serta mendorong hilirisasi hasil penelitian agar dapat diimplementasikan lebih luas, baik di industri maupun layanan kesehatan.
Di sisi lain, Ali Imron berharap keikutsertaan tersebut dapat membuka peluang kerja sama yang lebih luas bagi pengembangan riset.
"Kami berharap keikutsertaan ini semakin membuka peluang kolaborasi internasional dan memperkuat posisi UNISA Yogyakarta sebagai perguruan tinggi yang menghasilkan inovasi berdampak bagi masyarakat,” pungkas Ali Imron.





