Pimpinan Polri memberikan pemahaman tentang kondisi geopolitik yang dinamis dan dampaknya kepada 282 calon perwira remaja (capaja) lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) Angkatan 58. Pimpinan Polri juga menjabarkan upaya-upaya pemerintah, termasuk peran serta Korps Bhayangkara untuk menjaga stabilitas negara, terutama di sektor ekonomi.
"Dinamika geopolitik saat ini berada dalam situasi yang penuh ketidakpastian. Konflik AS-Israel dengan Iran, perang Rusia-Ukraina, persaingan hegemoni antara Amerika Serikat dan China, serta ketegangan di kawasan Timur Tengah telah berdampak terhadap stabilitas keamanan global, rantai pasok, ketahanan pangan dan energi, hingga perekonomian dunia," kata Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo saat membacakan amanat Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo di Upacara Penutupan Pendidikan Taruna Akademi Kepolisian (Akpol) Angkatan ke-58.
Upacara digelar di Lapangan Bhayangkara, Kompleks Akademi Kepolisian (Akpol), Semarang, Jawa Tengah (Jateng) pada Jumat (10/7/2026) pagi. Dia menyampaikan saat ini kondisi ketahanan pangan dunia masih berstatus rapuh, dan hal tersebut berdampak pada Indonesia yang mengalami pelemahan nilai tukar rupiah dan penurunan IHSG.
"Berdasarkan World Bank Food Security bulan Juni 2026, ketahanan pangan dan gizi dunia masih rapuh akibat kenaikan harga pupuk global sebesar 35 persen. Dampak dinamika geopolitik global tersebut turut dirasakan oleh Indonesia. Kondisi ini tercermin dari pelemahan nilai tukar rupiah dan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan," jelas Komjen Dedi.
"Pada 8 Juni 2026, nilai tukar rupiah sempat melemah hingga Rp18.171 per dolar AS, sementara IHSG turun ke level 5.594," sambung dia.
Namun, lanjut Komjen Dedi, pemerintah langsung mengambil langkah penanganan untuk menjaga stabilitas ekonomi, melindungi daya beli masyarakat, dan menjaga kepercayaan pasar. Yakni dengan kebijakan fiskal dan moneter yang terukur.
"Pemerintah juga memperkuat ketahanan ekonomi melalui berbagai program strategis, meliputi swasembada pangan dan energi, hilirisasi sektor prioritas, penguatan investasi, optimalisasi tata kelola ekspor komoditas unggulan melalui Danantara Sumberdaya Indonesia untuk mencegah praktik transfer pricing dan under-invoicing, serta peningkatan penggunaan produk dalam negeri untuk mewujudkan kemandirian bangsa dan menciptakan lapangan kerja," papar Komjen Dedi.
Hasilnya, Dedi mengatakan perekonomian Indonesia tetap terjaga, di mana ekonomi nasional tumbuh 5,61 persen atau tertinggi kedua di antara negara-negara G20 pada Triwulan I 2026. Lalu defisit APBN terkendali, dengan angka 0,76 persen terhadap PDB dan inflasi terjaga pada 3,34 persen.
"Analisis JP Morgan pada 2026, Indonesia juga menempati peringkat kedua sebagai negara yang paling tahan terhadap guncangan energi global," ucap Komjen Dedi.
Peran Polri Jaga Stabilitas RIKomjen Dedi menerangkan pelbagai Polri untuk mendukung upaya pemerintah tersebut. Prinsipnya, lanjut Dedi, program-program yang dilakukan terasa langsung dampak dan manfaatnya di masyarakat.
"Antara lain pemanfaatan lahan untuk penanaman jagung, pembangunan Gudang Ketahanan Pangan Polri, penyelenggaraan SPPG, Pelayanan Kesehatan Gratis, pembangunan Jembatan Merah Putih
Presisi," tutur Komjen Dedi.
Mantan Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum) Polri ini juga menyebutkan upaya-upaya pihaknya menjaga ketahanan energi nasional lewat penegakan hukum di sektor minyak dan gas (migas), tambang dan tenaga listrik. Pun, sambungnya, pengamanan objek vital nasional dan distribusi energi.
"Penguatan perlindungan hak-hak buruh melalui Desk Ketenagakerjaan Polri, serta pendirian SMA Kemala Taruna Bhayangkara. Seluruh upaya tersebut merupakan wujud dukungan Polri dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi, meningkatkan kualitas kesehatan dan gizi masyarakat, memperluas akses infrastruktur, serta mempersiapkan generasi muda yang unggul," jelas Komjen Dedi.
Ia menuturkan kontribusi Polri, berdasarkan hasil survei Litbang Kompas yang dirilis pada Juni 2026, berdampak positif oleh masyarakat. Tercatat kepercayaan publik kepada Polri dari 76,2 persen menjadi 80,6 persen. Diikuti keyakinan 82,4 persen responden terkait kinerja Polri di masa mendatang
"Survei Litbang Kompas yang dirilis pada Juni 2026 menyatakan bahwa terjadi peningkatan kepercayaan publik kepada Polri dari 76,2 persen menjadi 80,6 persen, serta 82,4 persen responden yakin bahwa kinerja Polri akan semakin baik di masa mendatang," pungkas Komjen Dedi.
(aud/whn)





