Apa Dampak Negatif ”Scroll” Ponsel Terus-menerus?

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita
Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
  1. Apa dampak ”scrolling” ponsel terus-menerus bagi produktivitas seseorang?
  2. Apa yang terjadi jika aktif di medsos pada malam hari?
  3. Penyakit apa saja yang mengintai dari aktivitas ”scroll” ponsel terus-menerus?
  4. Apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampak dari ”scroll” ponsel terus-menerus?
Apa dampak ”scrolling” ponsel terus-menerus bagi produktivitas seseorang?

Kebiasaan menggulir (scrolling) media sosial tanpa tujuan membuat banyak orang kehilangan waktu berjam-jam setiap hari. Louise (47), misalnya, sering menghabiskan hingga lima jam hanya untuk melihat Instagram dan Threads, bahkan menunda makan, mandi, dan pekerjaan rumah. Kebiasaan ini juga membuatnya tidur larut malam dan sulit melepaskan diri dari ponsel, terutama saat sedang stres atau memiliki waktu luang.

Pengalaman serupa dialami Tara (22) yang pernah mencatat waktu layar mencapai 15 jam sehari. Kebiasaan terus-menerus berpindah antara Instagram, Tiktok, Youtube, dan Spotify membuatnya mengalami mata lelah, sakit kepala, serta kesulitan menemukan aktivitas pengganti selain menatap layar. Sementara itu, Achmad Irfandi, pegiat Kampung Lali Gadget, mengakui dirinya sendiri masih sulit berhenti melakukan scrolling hingga larut malam meski menyadari produktivitasnya menurun.

Para pakar menyebut kondisi ini sebagai brain rot, yakni penurunan fungsi kognitif akibat konsumsi berlebihan terhadap konten digital yang cepat dan dangkal. Algoritma media sosial dirancang untuk terus menarik perhatian pengguna melalui konten yang dipersonalisasi dan fitur seperti like serta komentar yang memicu pelepasan dopamin. Akibatnya, pengguna terdorong untuk terus menggulir layar, mengalami kesulitan berkonsentrasi, produktivitas menurun, hingga muncul gejala seperti kecemasan, emosi negatif, dan terganggunya relasi sosial ketika mencoba berhenti.

Untuk mengurangi dampak tersebut, para ahli mendorong kebiasaan menggunakan media sosial secara lebih sadar. Caranya antara lain membatasi waktu layar, memperbanyak aktivitas nondigital seperti membaca, menulis, berolahraga, atau bersosialisasi, serta menyeimbangkan konsumsi konten dengan lebih banyak materi yang bermanfaat daripada hiburan. Orangtua juga didorong menerapkan pengasuhan digital yang sehat agar anak tidak terjebak dalam kebiasaan scrolling berlebihan sejak dini.

Baca Juga”Scrolling” Terus sampai Diri Tak Terurus
Apa yang terjadi jika aktif di medsos pada malam hari?

Aktivitas memosting di media sosial pada malam hari dikaitkan dengan kesehatan mental yang lebih buruk. Studi dari Universitas Bristol yang diterbitkan di Scientific Reports menemukan bahwa kebiasaan mengunggah konten di X (Twitter) pada malam hari dapat mengganggu waktu tidur, menurunkan kualitas dan durasi tidur, serta berdampak negatif pada kondisi psikologis. Pengaruhnya terhadap kesehatan mental bahkan sebanding dengan beberapa faktor risiko lain, seperti konsumsi alkohol berlebihan dan penggunaan ganja.

Penelitian yang melibatkan 310 orang dewasa dan menganalisis 18.288 twit menunjukkan bahwa hubungan antara aktivitas memosting malam hari dengan gejala depresi dan kecemasan memang tidak terlalu kuat, tetapi menjadi lebih jelas pada kelompok usia dan jenis kelamin tertentu. Studi ini menggunakan data unggahan langsung dari X dengan persetujuan partisipan sehingga mampu mengukur secara akurat waktu mereka memosting.

Berdasarkan temuan tersebut, para peneliti mendorong adanya regulasi dan fitur yang membantu pengguna mengurangi aktivitas media sosial pada malam hari. Salah satu contohnya adalah fitur wind down di Tiktok yang menampilkan konten meditasi untuk mengingatkan pengguna berhenti menggulir layar sebelum tidur. Edukasi mengenai penggunaan media sosial yang sehat juga dinilai penting, terutama bagi kelompok yang lebih rentan.

Penelitian lain dari Rumah Sakit Umum Massachusetts dan Fakultas Kedokteran Harvard turut menemukan bahwa semakin sering seseorang menggunakan dan memosting di media sosial, semakin tinggi tingkat iritabilitas atau kecenderungan mudah marah dan frustrasi. Analisis terhadap lebih dari 42.000 responden menunjukkan bahwa pengguna yang memosting beberapa kali sehari memiliki tingkat iritabilitas tertinggi, terutama di Tiktok. Meski belum membuktikan hubungan sebab-akibat, hasil ini menunjukkan adanya kemungkinan siklus timbal balik antara penggunaan media sosial yang intensif dan memburuknya kondisi emosional.

Baca JugaBermedsos di Malam Hari Memperburuk Kesehatan Mental
Penyakit apa saja yang mengintai dari aktivitas ”scroll” ponsel terus-menerus?

Penggunaan smartphone kini semakin sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, mulai dari anak-anak hingga lansia. Durasi penggunaan juga terus meningkat, bahkan menjelang tidur dan saat berada di toilet. Sejumlah penelitian mengingatkan bahwa penggunaan ponsel secara berlebihan tidak hanya memengaruhi produktivitas, tetapi juga dapat berdampak buruk pada kesehatan fisik dan mental sehingga mendorong pentingnya kebiasaan digital yang lebih sehat.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Canadian Journal of Cardiology (2024) menemukan bahwa penggunaan ponsel secara rutin berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular, terutama pada perokok aktif dan penderita diabetes. Risiko tersebut diduga dipengaruhi oleh gangguan tidur, tekanan psikologis, serta paparan medan elektromagnetik yang memicu stres oksidatif dan peradangan sehingga dapat memengaruhi kesehatan jantung dan pembuluh darah.

Riset lain dari Hamad Bin Khalifa University (2025) menunjukkan bahwa penggunaan smartphone menjelang tidur dan kebiasaan menggunakan internet secara berlebihan berkaitan dengan menurunnya kualitas, durasi, dan kontinuitas tidur. Sementara itu, studi dari Beth Israel Deaconess Medical Center menemukan bahwa penggunaan ponsel saat di toilet membuat seseorang cenderung duduk lebih lama sehingga meningkatkan tekanan pada area anus dan berpotensi memperbesar risiko wasir.

Para peneliti menilai smartphone ibarat pedang bermata dua: memberikan kemudahan akses informasi tetapi juga dapat memicu ketergantungan yang mengganggu kesehatan, produktivitas, dan hubungan sosial jika digunakan secara berlebihan. Karena itu, masyarakat disarankan menerapkan kebiasaan digital yang lebih bertanggung jawab, seperti membatasi penggunaan ponsel pada waktu-waktu tertentu dan mengganti waktu menggulir layar dengan aktivitas yang lebih bermanfaat bagi kesehatan fisik maupun mental.

Baca JugaGunakan Ponsel secara Bijak demi Kesehatan
Apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampak dari ”scroll” ponsel terus-menerus?

Kebiasaan menggulir video pendek di platform seperti Tiktok dan Instagram Reels sering membuat seseorang menghabiskan waktu jauh lebih lama dari yang direncanakan. Selain menyita waktu, aktivitas ini dikaitkan dengan menurunnya kemampuan berkonsentrasi dan mengingat. Penelitian yang dipublikasikan di Frontiers in Psychology (2026) menemukan bahwa konsumsi video pendek secara berlebihan berkaitan dengan penurunan memori kerja (working memory), yaitu kemampuan otak menyimpan informasi sementara untuk berpikir, berkonsentrasi, dan mengambil keputusan.

Penelitian lain di Communications Psychology (2026) menunjukkan bahwa video pendek juga membuat informasi lebih sulit tersimpan dalam memori jangka panjang. Pergantian topik, emosi, dan konteks yang sangat cepat memaksa otak terus berpindah perhatian sebelum sempat mengolah informasi secara mendalam. Akibatnya, informasi hanya menjadi rangsangan sesaat dan lebih mudah terlupakan daripada jika dipelajari melalui video berdurasi lebih panjang.

Hasil pemindaian otak memperlihatkan bahwa kebiasaan menonton video pendek intensif berkaitan dengan perubahan aktivitas pada korteks prefrontal, area yang berperan dalam perhatian, memori, dan kontrol kognitif. Penelitian lain juga menemukan bahwa pergantian konteks yang cepat dapat mengganggu prospective memory, yakni kemampuan mengingat tugas atau rencana yang harus dilakukan di masa depan. Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa hubungan tersebut masih bersifat observasional sehingga belum membuktikan sebab-akibat secara langsung.

Untuk mengurangi dampaknya, penelitian menunjukkan bahwa olahraga teratur dapat membantu menjaga fungsi memori kerja. Aktivitas fisik meningkatkan aliran darah ke otak dan merangsang pembentukan hubungan antarsel saraf sehingga kemampuan belajar, berkonsentrasi, dan mengingat tetap terjaga. Karena itu, video pendek tidak perlu dihindari sepenuhnya, tetapi penggunaannya sebaiknya dibatasi agar otak memiliki kesempatan mengolah informasi secara lebih mendalam dan tidak terus-menerus dibanjiri rangsangan baru.

Baca JugaMenggulir Layar Tanpa Henti Melelahkan Otak? Olahraga Bisa Menjadi Penangkal

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
IU dan Lee Jong Suk Putus Setelah 4 Tahun Pacaran
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Kena OTT KPK, Bupati Sukoharjo Etik Suryani Dibawa ke Jakarta Pagi Ini
• 11 jam lalukompas.com
thumb
Mbappe Kembali Jadi Momok! Prancis Bungkam Maroko 2-0 dan Melaju ke Semifinal Piala Dunia 2026
• 13 jam laluharianfajar
thumb
9 Praktik Persalinan Ini Tak Lagi Direkomendasikan WHO
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
Hakim Ungkap Kode Suap BC1 hingga BC4: Merujuk ke Dirjen Bea Cukai dkk
• 2 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.