JAKARTA, KOMPAS.com - Masa muda Dude (bukan nama sebenarnya, 49) diwarnai dengan penggunaan narkoba.
"Kenal narkoba sejak lulus sekolah teknik menengah (STM) sekitar usia 20 tahun," kata dia ketika diwawancarai Kompas.com di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan, Kamis (9/7/2026).
Dude mengaku mengenal narkoba dari teman-temannya yang menawarkan. Karena penasaran, ia pun mencoba.
Narkoba yang pertama kali dicobanya adalah ganja, yang memberikan efek melayang dan dinilai menyenangkan.
Kemudian, sekitar tahun 1998, marak beredar narkoba jenis baru, yakni putau berbentuk serbuk yang disuntikkan ke tubuh melalui urat nadi.
Baca juga: Cuma Ini yang Bisa Aku Banggakan ke Ibu Kisah Taubat Mantan Pengedar Narkoba di Penjara
Merasa penasaran lagi, Dude pun kembali mencoba putau tersebut bersama teman-temannya.
Seiring berjalannya waktu, muncul kembali narkoba berbentuk serbuk putih, yakni sabu-sabu.
Kebetulan saat itu, Dude sudah bekerja sehingga memiliki uang untuk membeli sabu-sabu.
"Karena sudah punya gaji, jadi sering patungan dengan teman-teman. Waktu itu harga sabu masih murah, ada paket seharga Rp 25.000 atau Rp 50.000, tergantung ketersediaan uang," tutur dia.
Kebiasaan menggunakan narkoba terus berlanjut selama sekitar 10 tahun karena Dude merasa resah, tubuh berkeringat, dan lemas ketika tidak mengonsumsinya.
Baca juga: Tiga Bandar Narkoba yang Diduga Bunuh Tiga Polisi di Katingan Ditangkap di Kalimantan Timur
Memutuskan jadi bandarRutin membeli narkoba membuatnya merasa begitu boros karena harganya yang cukup mahal.
Di sisi lain, Dude sudah menikah dan memiliki tanggungan istri serta satu anak, sehingga membutuhkan biaya.
Ia harus membayar kontrakan dan memenuhi kebutuhan keluarga. Tuntutan ekonomi itulah yang membuatnya bulat menjadi bandar narkoba.
Dude mendapat pasokan barang dari rekannya di Kampung Bahari, Jakarta Utara, yang memiliki akses ke gembong narkoba besar.
Pekerjaan sebagai bandar narkoba itu dijalaninya sekitar tiga hingga empat tahun karena keuntungan yang menjanjikan.
Baca juga: Tiga Bandar Narkoba yang Diduga Bunuh Tiga Polisi di Katingan Ditangkap di Kalimantan Timur
"Keuntungan rata-rata jutaan rupiah per hari. Paling besar bisa mencapai Rp 5 juta sampai Rp 7 juta dalam sehari," ucap Dude.
Selain untuk membeli narkoba lagi dan menghidupi keluarga, keuntungan itu digunakan untuk membuka usaha jual pakan burung.
Meski memiliki banyak uang, ia mengaku selalu cemas setiap harinya ketika menjadi bandar narkoba.
"Tentu ada rasa takut, terutama memikirkan nasib anak jika terjadi apa-apa (tertangkap)," sambung dia.
Oleh karena itu, Dude tidak menjual narkoba kepada sembarang orang. Ia hanya melayani pembeli yang memang sudah dikenalnya.
Baca juga: Tragedi 3 Polisi Tewas saat Gerebek Bandar Narkoba di Katingan, Ini Kata Menko Polkam
Biasanya, pesanan narkoba masuk melalui WhatsApp dari rekan-rekannya yang merupakan pekerja lapangan sehingga menggunakan sabu-sabu sebagai penambah stamina.





