Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah menempatkan pengembangan akal imitasi (AI) sebagai salah satu mesin pertumbuhan ekonomi baru. Saat ini Indonesia telah mengantongi rencana investasi pusat data atau data center dengan kapasitas mencapai 1,3 gigawatt (GW), jauh di atas kapasitas yang telah beroperasi saat ini.
Airlangga pun menyatakan AI akan menjadi salah satu fokus pengembangan ekonomi Indonesia di tengah disrupsi teknologi global. Namun, pengembangan AI harus ditopang oleh ekosistem digital yang kuat, mulai dari energi hijau hingga infrastruktur konektivitas.
“Terkait dengan AI itu kuncinya dari ekosistem digital. Yang pertama tentu green energy, yang kedua infrastruktur antarpulau yang kita sudah punya, yaitu fiber optik,” kata Airlangga di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Jumat (10/7).
Ia menuturkan, Indonesia terus memperkuat konektivitas internasional melalui pembangunan landing point kabel bawah laut.
Kabel Laut Penghubung Batam-Singapura dan Bitung-ASDalam waktu dekat, pemerintah akan meresmikan kerja sama landing point baru yang menghubungkan Batam dengan Singapura. Selain itu, Indonesia juga memiliki landing point di Bitung, Sulawesi Utara, yang terhubung ke Amerika Serikat.
Airlangga menyatakan, keberadaan infrastruktur tersebut menjadi modal penting untuk menarik investasi pusat data berskala besar. Kapasitas pusat data yang telah terpasang di Indonesia saat ini mencapai sekitar 580 megawatt (MW). Sementara itu, proyek-proyek yang masih berada dalam tahap pengembangan atau pipeline diperkirakan mencapai 1,3 GW.
“Kapasitas terpasang kita sekarang setara dengan 580 megawatt. Dan yang in the pipeline untuk investasi setara dengan 1,3 gigawatt. Jadi ini sebuah angka yang besar,” katanya.
Selain membangun infrastruktur, pemerintah juga tengah memperkuat sumber daya manusia di sektor AI dan semikonduktor. Airlangga mengatakan Indonesia telah menggandeng perusahaan desain cip global, Arm Ltd,untuk mengembangkan talenta digital nasional.
Ia menuturkan, Arm yang menguasai lebih dari 90% pasar desain cip dunia akan melatih sekitar 15.000 teknisi dan insinyur Indonesia dalam pengembangan ekosistem semikonduktor.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia James Riyadi mengatakan pengembangan AI menjadi salah satu informasi yang paling menarik dalam pertemuan pemerintah dengan para duta besar negara sahabat.
Ia mengungkapkan, selain pembangunan landing point di Batam dan Bitung, Indonesia juga mulai menarik investasi pembangunan pusat komputasi atau computing center yang akan menggunakan GPU berteknologi tinggi untuk mendukung pengembangan AI.
“Banyak data center yang masuk dan bahkan nanti akan ada puluhan miliar dolar yang akan masuk membangun computing center, membawa cip-cip GPU yang paling advance ke sini,” kata James.
James mengatakan, perkembangan tersebut memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu negara yang berpotensi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi digital di kawasan Asia Pasifik.




