Gerakan Sosial dalam Era Digital: Menavigasi Ruang Ketiga dan Ruang Cyberurban

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Putut Widjanarko (2020) dalam tulisannya menyatakan bahwa virtualisasi masyarakat adalah sebuah proses yang telah dibangun selama berabad-abad melalui evolusi manusia, dimulai dari penemuan alfabet fonetik dan berlanjut ke teknologi masa kini yang menopang cara-cara baru untuk berkomunikasi dan berinteraksi. Kemunculan internet dan media sosial telah merevolusi cara orang berinteraksi.

Dalam konteks gerakan sosial, inovasi media dan teknologi informasi telah secara dramatis mengubah dinamika gerakan sosial di seluruh dunia selama beberapa dekade terakhir. Beberapa konsep kunci seperti digital dualism, third space, dan ruang cyberurban dapat memberikan kerangka konseptual yang kaya untuk menganalisis dinamika gerakan sosial

Digital Dualism dan Gerakan Sosial

Konsep digital dualism mengacu pada pemisahan antara dunia fisik (ruang nyata) dan dunia digital (ruang awang-awang). Bagi banyak peneliti, dualisme ini mencerminkan cara pandang umum bahwa ruang fisik dan virtual adalah dua entitas yang terpisah (Jenkins, 2006); namun, dalam kenyataannya kedua ruang ini saling berinteraksi dan memengaruhi satu sama lain.

Dalam konteks gerakan sosial, digital dualism memungkinkan kita untuk memahami bagaimana aktivis memanfaatkan platform digital untuk memperluas jangkauan mereka dan membangun solidaritas di antara individu yang mungkin tidak dapat berkumpul secara fisik (Bennett & Segerberg dalam Cao (2016). Dalam studi tentang gerakan “Black Lives Matter”, Chong (2023) menunjukkan bahwa aktivisme di dunia maya tidak hanya melengkapi, namun juga memperkuat aksi-aksi yang terjadi di dunia nyata. Media sosial memberikan platform bagi individu untuk berbagi pengalaman dan cerita, menciptakan narasi kolektif yang dapat berdampak pada kesadaran publik. Oleh karena itu, gerakan sosial modern tidak dapat dipahami tanpa mempertimbangkan keterkaitan antara ruang fisik dan digital.

Third Space : Ruang Dialog dan Mobilisasi

Konsep third space dikembangkan oleh Edward Soja (1998), digambarkan sebagai sebuah ruang yang muncul dari interaksi antara berbagai pengaruh sosial, budaya, dan politik. Dalam konteks gerakan sosial, ruang ketiga dapat dilihat sebagai ruang di mana aktor-aktor sosial dapat berinteraksi, berdialog, dan berkolaborasi; dan keterlibatan mereka dalam ruang ini memungkinkan untuk munculnya perspektif baru dan inovasi dalam strategi mobilisasi.

Third & Collins (2016) dalam tulisannya menunjukkan bagaimana ruang ketiga dapat menciptakan ruang yang inklusif untuk partisipasi warga. Mereka menemukan bahwa platform media sosial tidak hanya menjadi tempat untuk menyebarkan pesan, tetapi juga berfungsi sebagai arena bagi diskursus dan deliberasi yang lebih luas. Artinya, teknologi media dan informasi dapat berfungsi sebagai penghubung antara berbagai suara dan perspektif dalam gerakan sosial.

Ruang Cyberurban dan Dinamika Gerakan Sosial Kontemporer

Ruang cyberurban pertama kali diperkenalkan oleh Merlyna Lim (2015), merujuk pada sebuah keadaan yang hybrid, di mana ranah virtual dan fisik telah melebur. Lim menggunakan istilah “ruang cyberurban” untuk menggambarkan lanskap spasial yang cair dan kompleks, dengan batas-batas kabur antara ruang siber dan ruang fisik, di mana partisi antara interaksi online dengan interaksi offline tidak lagi relevan. Dalam konteks ini, gerakan sosial dapat dianggap sebagai respons terhadap tantangan yang muncul dari urbanisasi dan perkembangan teknologi (Zhao et al., 2023).

Ruang cyberurban memungkinkan kolaborasi antara berbagai aktor untuk menciptakan solusi bagi isu-isu yang dihadapi oleh masyarakat perkotaan, seperti ketidakadilan sosial dan pemanasan global. Lim berargumen bahwa dalam gerakan sosial di Mesir (Arab Spring), #occupyhongkong, dan #blacklivesmatter, terjadi dua hal sekaligus: pertama, penggunaan media sosial, dan kedua, mobilisasi serta pendudukan ruang publik di perkotaan.

Hal demikian memberikan sebuah gambaran bagaimana ruang cyberurban dapat berfungsi sebagai lahan subur bagi pengembangan gerakan sosial yang responsif dan adaptif. Ruang cyberurban tidak menjadi sekadar tempat, melainkan sebuah bagian dari kontestasi kekuasaan itu sendiri.

Dari perspektif ini, dapat disimpulkan bahwa ruang cyberurban akan terus jadi bagian tak terpisahkan dari gerakan sosial kontemporer. Sebaliknya, ruang cyberurban akan terus menarik “perhatian” penguasa – terutama mereka yang menghendaki absennya kekuatan oposisi berkembang dalam masyarakat.

Kesimpulan

Menghadapi tantangan masa depan yang akan datang, termasuk pergeseran dalam cara orang berinteraksi dan berorganisasi, pemahaman terhadap gerakan sosial dalam konteks perkembangan teknologi media dan informasi saat ini memerlukan pendekatan yang terintegrasi dengan mempertimbangkan berbagai konsep kunci. Melalui perspektif yang disediakan oleh digital dualism, third space dan ruang cyberurban, aktivis dapat lebih memahami bagaimana gerakan sosial modern beroperasi dalam dunia yang semakin terhubung dan kompleks.

Pemahaman ini akan memberdayakan aktivis dalam mengembangkan strategi yang lebih efektif guna merencanakan dan melaksanakan program-program yang bertujuan meningkatkan kualitas demokrasi dan partisipasi warga digital.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menteri PU Batal ke US Usai Dokumen Dinasnya Bocor
• 14 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Chery Punya Standar Keamanan Baterai Baru, Siap Ganti Mobil Jika Terjadi Thermal Runaway
• 4 jam lalumedcom.id
thumb
RI Dorong Kompensasi Adil Karya Jurnalistik pada Konsultasi UNESCO
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Jadwal Salat Kota Bandung 10 Juli 2026
• 13 jam lalumetrotvnews.com
thumb
8 Kebiasaan yang Harus Dihindari agar Tetap Menarik di Usia Matang
• 21 menit lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.