Keunggulan komparatif yang dimiliki Indonesia sebagai negara kaya sumber daya mineral menjadi modal penting untuk mendorong hilirisasi yang lebih mendalam. Hilirisasi tidak semestinya berhenti pada pengolahan bahan baku atau produk setengah jadi, tetapi perlu diperluas hingga masuk ke sektor manufaktur yang mampu menciptakan nilai tambah lebih besar.
Dalam konteks ini, MIND ID sebagai holding (induk) BUMN pertambangan Indonesia memiliki peran strategis dalam mengorkestrasi pengembangan sektor hulu. Namun, upaya tersebut juga perlu didukung oleh kepastian regulasi, penguatan ekosistem industri, serta peningkatan kapasitas manufaktur agar hasil hilirisasi dapat terserap di dalam negeri dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas.
Associate Principal Energy Shift Institute (ESI) Ahmad Zuhdi Dwi Kusuma, di Jakarta, Jumat (10/7/2026), mengatakan, hilirisasi tidak semata-mata berkaitan dengan pertambangan nikel, melainkan merupakan bagian dari proses industrialisasi yang lebih luas. Pengembangan industri hilir harus diarahkan untuk menghasilkan produk turunan bernilai tambah tinggi, sehingga komoditas tambang tidak lagi berhenti sebagai produk setengah jadi yang berorientasi ekspor.
Pengembangan industri berbasis berbagai jenis logam (multi-metal) perlu dilakukan secara terpadu dan lintas sektor. ”Kita tahu nikel sudah memberikan contoh yang relatif berhasil, setidaknya dari sisi investasi yang masuk dan output yang dihasilkan. Namun, untuk mencapai hilirisasi yang bermakna, tidak bisa hanya bertumpu pada nikel, tetapi multi-metal,” kata Zuhdi.
Secara teknis, nikel lebih berfungsi sebagai elemen pelengkap (topping) dalam berbagai produk logam. Pada baja tahan karat (stainless steel), misalnya, kandungan nikel hanya menjadi salah satu komponennya, sedangkan sebagian besar materialnya tetap berasal dari baja.
”Oleh karena itu, jika Indonesia ingin masuk ke tahap industrialisasi yang lebih dalam, pengembangan tidak bisa hanya bertumpu pada nikel. Perlu ada pengembangan berbagai logam secara bersamaan, seperti aluminium, tembaga, timah, dan lainnya,” ujar Zuhdi.
Peran itu dijalankan MIND ID mengingat anggotanya terdiri dari sejumlah perusahaan tambang dari beragam jenis mineral dan batubara, hingga fasilitas pengolahan. Anggota MIND ID antara lain PT Bukit Asam Tbk, PT Aneka Tambang Tbk, PT Freeport Indonesia, PT Inalum, PT Timah Tbk, dan PT Vale Indonesia Tbk. Masing-masing entitas memiliki keunggulannya.
Dalam konteks tersebut, MIND ID memiliki peran strategis karena beranggotakan sejumlah perusahaan tambang dengan komoditas mineral dan batubara, sekaligus memiliki fasilitas pengolahan. Anggota MIND ID meliputi PT Bukit Asam Tbk, PT Aneka Tambang Tbk atau Antam, PT Freeport Indonesia, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), PT Timah Tbk, dan PT Vale Indonesia Tbk. Masing-masing entitas memiliki keunggulan dan potensi yang dapat saling melengkapi dalam mendukung pengembangan hilirisasi.
Menurut Zuhdi, pengembangan industri logam di Indonesia perlu lebih terintegrasi serta ada titik penghubung antara sektor pertambangan dan industri manufaktur. MIND ID memang telah berperan mengoordinasikan sektor pertambangan hingga tahap pengolahan di smelter, meskipun di sisi lain produk akhirnya masih berupa barang ekspor.
Pengembangan hilirisasi seluruh logam bisa dilakukan dengan berbagai pendekatan. Misalnya dengan penggunaan energi bersih yang membuat emisi yang dihasilkan menjadi lebih rendah. Dalam mengorkestrasi itu, tahapan berikutnya adalah membangun keterhubungan antara sektor pertambangan dengan industri manufaktur agar produk yang dihasilkan bernilai tambah lebih tinggi.
”MIND ID dapat bekerja sama dengan lembaga atau industri yang benar-benar berada di sisi manufaktur. Pada industri otomotif, misalnya. Selama ini kita memulai dari perakitan (assembly), kemudian perlahan mampu memproduksi beberapa komponen sendiri, meskipun masih didukung investasi asing (FDI). Kondisi itu sebenarnya bisa dimanfaatkan jika Indonesia memiliki hilirisasi berbasis multi-metal,” lanjut Zuhdi.
Pada akhirnya, yang utama ialah bagaimana memastikan industri manufaktur dapat menyerap hasil pertambangan serta mengubahnya menjadi produk dengan nilai tambah yang jauh lebih tinggi. Hal tersebut akan diikuti penciptaan lapangan kerja, lingkungan yang tetap terjaga, dan manfaat ekonomi lainnya. ”Value creation tidak hanya soal volume, tetapi juga kualitas nilai tambah yang dihasilkan,” katanya.
Orkestrasi yang efektif pada akhirnya perlu diwujudkan melalui kolaborasi nyata di sepanjang rantai nilai mineral. MIND ID menjadi salah satu contoh implementasi pendekatan tersebut melalui perannya sebagai penggerak strategis hilirisasi nasional. Kinerja bisnis yang positif diraih perusahaan, yang ditopang oleh sinergi antaranggota holding dalam membangun rantai nilai mineral.
Salah satunya melalui kolaborasi Antam dan PT Freeport Indonesia dalam rantai pasok hilirisasi emas nasional, serta sinergi Inalum, Antam, dan Bukit Asam dalam pengembangan bauksit–alumina–aluminium.
Sinergi serupa juga diperkuat pada hilirisasi mineral strategis lainnya, seperti nikel, tembaga, dan timah, termasuk dalam pembentukan ekosistem baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Pada ekosistem ini, Indonesia Battery Corporation (IBC) akan berperan strategis sebagai pengembang proyek baterai nasional yang mengintegrasikan industri pertambangan dengan manufaktur baterai.
Konsistensi dalam menjalankan strategi tersebut turut mendorong kinerja keuangan MIND ID. Sepanjang 2025, perusahaan membukukan pendapatan sebesar Rp 159,46 triliun, tumbuh 10 persen secara tahunan. Laba bersih mencapai Rp 29,89 triliun atau 16 persen di atas target perusahaan. Sementara itu, kontribusi kepada negara dan para pemangku kepentingan, yang mencakup pembayaran pajak, penerimaan negara bukan pajak (PNBP), royalti, serta dividen, mencapai Rp 22,6 triliun.
Sekretaris Perusahaan MIND ID Pria Utama menuturkan, pencapaian kinerja tahun buku 2025 menjadi cerminan dari kemampuan perseroan dalam menjaga ketahanan bisnis melalui strategi yang adaptif dan terintegrasi di seluruh anggota Grup MIND ID. Strategi tersebut dibutuhkan di tengah tantangan ekonomi global dan nasional yang turut mempengaruhi sektor industri pertambangan di Indonesia.
Pertumbuhan kinerja yang sehat dan bernilai tambah terus dijalankan oleh MIND ID. ”Sebab, di balik setiap ton mineral yang kami kelola, ada kewajiban untuk memberikan manfaat nyata bagi seluruh masyarakat Indonesia,” kata Pria dalam keterangannya, Jumat (12/6/2026).
Upaya mengorkestrasi rantai nilai mineral tersebut berjalan seiring dengan strategi pemerintah memperluas daya saing industri nasional di pasar global. Di sisi lain, pemerintah terus mendorong perluasan jaringan pasar industri domestik ke kancah internasional. Di antaranya melalui partisipasi aktif Indonesia sebagai negara mitra dalam pameran industri internasional INNOPROM 2026 di Yekaterinburg, Rusia.
”Indonesia membawa agenda industri yang tegas, yaitu mempercepat hilirisasi mulai dari mineral kritis dan manufaktur maju, hingga energi, ketahanan pangan, dan kawasan industri,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam sambutannya pada acara Business Forum: Russia–Indonesia Industrial Dialogue di Yekaterinburg, Rusia, dikutip dari siaran pers Kementerian Perindustrian, Kamis (9/7/2026).
Dorongan terhadap hilirisasi dan penguatan rantai pasok tersebut juga menjadi fondasi bagi pengembangan sektor manufaktur. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri pengolahan tumbuh 5,04 persen pada triwulan I-2026, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 4,55 persen. Industri pengolahan juga menjadi kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional dengan porsi 19,07 persen atau senilai Rp 1.179,62 triliun.
Pada akhirnya, orkestrasi yang kuat antarperusahaan tambang, didukung kebijakan yang konsisten, akan menjadi penentu arah pembangunan Indonesia. Dengan modal sumber daya mineral yang melimpah, Indonesia memiliki peluang besar untuk bertransformasi dari sekadar pemasok bahan baku menjadi negara industri berbasis mineral dengan nilai tambah tinggi dan daya saing global.





