JAKARTA, KOMPAS – Duet musim kemarau dan El Nino mulai memukul petani tebu di Indonesia. Tebu petani di sejumlah daerah ada yang terbakar dan mulai kekurangan air. Di tengah risiko itu, harga lelang gula petani pun mulai turun.
Di tingkat internasional, harga gula justru turun. Namun, penurunannya tidak terlalu dalam lantaran pelaku pasar khawatir produksi gula dunia turun akibat dampak El Nino.
Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Soemitro Samadikoen, Jumat (10/7/2026), mengatakan, dampak musim kemarau yang terjadi bersamaan dengan El Nino mulai terasa. Pada pekan lalu dan pekan ini, sekitar 12 hektar tanaman tebu siap panen di Nganjuk dan Kediri, Jawa Timur, terbakar.
Selain itu, tanaman tebu di beberapa daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah juga mulai kekurangan air. Hal itu bisa menyebabkan pertumbuhan tebu terhambat, bahkan batang dan daun tebu bisa mengering.
“Tanaman tebu yang kekurangan air itu akan dipanen pada Agustus, September, dan Oktober 2026. Kalaupun bisa diselamatkan, rendemen dan bobot panen tebu tetap turun,” ujarnya ketika dihubungi dari Jakarta.
Jika El Nino berlangsung sesuai perkiraan BMKG, yakni hingga Mei 2027, maka ketersediaan air benar-benar harus dijaga. Tebu membutuhkan air sejak mulai bongkar ratun atau fase tanam awal, fase pertumbuhan, hingga siap dipanen
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan fenomena El Nino mulai terjadi sejak Mei 2026 dan berakhir pada Mei 2027. Dalam kurun waktu tersebut, El Nino terjadi bersamaan dengan musim kemarau (April-Oktober) dan musim penghujan (Oktober-Maret) di Indonesia (Kompas, 29/6/2026).
Menurut Soemitro, tebu yang sudah terbakar mau tidak mau harus diganti dengan tanaman tebu baru. Untuk mengganti tanaman tebu lama dengan tanaman tebu baru, baik yang terbakar maupun yang telah dipanen, air juga dibutuhkan.
Sementara, tebu yang kekurangan air mulai diairi dengan mengandalkan pompanisasi dari sumber-sumber air yang masih tersedia. Bahkan, sejumlah petani telah mengeluarkan biaya tambahan sekitar Rp 50 juta untuk membuat sumur bor.
Soemitro juga mengungkapkan, khusus tebu yang ditanam di lahan Perum Perhutani, sumber airnya biasanya terbatas. Tanaman tebu itu hanya mengandalkan air hujan, embung, dan segelintir sumur bor berizin khusus.
“Jika El Nino berlangsung sesuai perkiraan BMKG, yakni hingga Mei 2027, maka ketersediaan air benar-benar harus dijaga. Ini mengingat air tersebut dibutuhkan tebu mulai saat bongkar ratun atau fase tanam awal, fase pertumbuhan, hingga siap dipanen,” ungkapnya.
Oleh karena itu, lanjut Soemitro, untuk jangka pendek, APTRI berharap pemerintah menambah bantuan pompanisasi dan sumur bor. Sementara itu, untuk jangka menengah dan panjang, pemerintah perlu merehabilitasi waduk dan bendungan beserta saluran irigasinya.
Di tengah kondisi itu, harga lelang gula petani mulai turun. Gula petani yang semula laku di atas Rp 15.550 per kilogram (kg) pelan-pelan mulai turun di kisaran Rp 15.000 per kg.
“Harga tersebut memang masih di atas harga acuan pembelian gula di tingkat petani yang dipatok Rp 14.500 per kg. Namun, kami khawatir harga lelang turun terus mendekati harga acuan tersebut,” katanya.
Menurut Soemitro, pemerintah tidak pernah menaikkan harga acuan pembelian gula di tingkat petani sejak 2024. Termasuk pada 2026, saat petani mengusulkan harga acuan itu naik menjadi Rp 16.875 per kg, pemerintah masih memberlakukan harga acuan lama.
Hal itu diatur dalam Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Nomor 330 Tahun 2026 yang diberlakukan per 21 Mei 2026. Regulasi baru itu mengatur perubahan harga acuan pembelian di tingkat produsen dan harga acuan penjualan di tingkat konsumen untuk komoditas kedelai, bawang merah, bawang putih, cabai rawit merah, cabai merah keriting, gula konsumsi, dan daging sapi/kerbau.
Serial Artikel
Tiga Tahun Harga Acuan Gula Petani Tak Naik, APTRI Protes
Harga acuan pembelian gula petani pada 2026 dipatok tetap sebesar Rp 14.500 per kg. Di sisi lain, pemerintah berencana memungut iuran atas impor gula.
Dalam regulasi itu, Bapanas menetapkan harga acuan pembelian gula di tingkat petani/produsen sebesar Rp 14.500 per kg. Sementara harga acuan penjualan gula di tingkat konsumen dipatok Rp 17.500-Rp 18.500 per kg.
Sebenarnya, lanjut Soemitro, kalau harga acuan pembelian gula petani naik Rp 1.000 per kg saja menjadi Rp 15.500 per kg pada tahun ini, petani sudah bersyukur. Namun, apabila tidak dinaikkan, lebih baik pemerintah tidak mengatur harga acuan penjualan gula di tingkat konsumen.
”Dengan diserahkannya harga acuan gula di tingkat konsumen ke mekanisme pasar, harga lelang gula petani pasti bisa lebih tinggi,” katanya.
Di kancah global, indeks harga gula pada Juni 2026 turun. Namun, laju penurunannya tidak terlalu dalam lantaran ditopang oleh sentimen negatif pasar yang mengkhawatirkan dampak El Nino terhadap penurunan produksi gula.
Pada 3 Juli 2026, Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) merilis indeks harga pangan dunia yang pada Juni 2026 turun 0,3 persen secara bulanan menjadi 130,3. Penurunan indeks harga gula dunia menjadi salah satu pemicu penurunan indeks tersebut.
Pada Juni 2026, indeks harga gula dunia tercatat sebesar 89,7. Indeks itu turun 5,7 persen dibandingkan dengan Mei 2026 dan 13,3 persen di bawah tingkat indeks pada Juni 2025. Penurunan indeks harga gula itu dipicu oleh penurunan harga etanol di Brasil selama tiga bulan berturut-turut.
Penurunan harga etanol itu mendorong alokasi tebu yang lebih besar untuk produksi gula di Brasil yang merupakan negara produsen gula terbesar dunia. Kondisi itu juga turut mendorong laju peningkatan ekspor gula Brasil, sehingga harga gula internasional semakin tertekan.
Namun, harga gula internasional tidak turun terlalu dalam. Kekhawatiran pelaku pasar terhadap penurunan produksi gula akibat dampak El Nino di negara-negara produsen utama, termasuk India dan Thailand, selama musim 2026/2027, mampu menahan penurunan harga gula.
Merujuk pada data Harga Komoditas Bank Dunia (The Pink Sheet) Juli 2026, harga rerata gula di pasar internasional pada Juni 2026 senilai 0,32 dolar AS per kg. Harga itu lebih rendah dibandingkan dengan harga gula pada Mei 2026 dan Juni 2025 yang masing-masing 0,34 dolar AS per kg dan 0,37 dolar AS per kg.
Kendati belum merilis proyeksi gula dunia pada 2026/2027, FAO memperkirakan produksi dan stok akhir gula dunia pada 2025/2026 cukup berlimpah. Kondisi itu bakal menopang ketahanan gula dunia di saat produksi gula pada 2026/2027 terdampak El Nino.
Berdasarkan data FAO Food Outlook Juni 2026, produksi gula dunia pada 2025/2026 diperkirakan naik 3,47 persen secara tahunan menjadi 183,2 juta ton. Dalam periode perbandingan yang sama, stok akhir gula dunia naik 3,18 persen menjadi 126,3 juta ton.
FAO juga meramal produksi gula di Indonesia pada 2025/2026 sebanyak 2,6 juta ton. Produksi gula tersebut turun dibandingkan 2024/2025 yang mencapai 2,7 juta ton. Dalam periode perbandingan yang sama, impor gula Indonesia diperkirakan naik dari 4,8 juta ton menjadi 4,9 juta ton.
Di Mumbai, India, Direktur Pelaksana MEIR Commodities India, Rahil Shaikh, mengatakan, pasokan gula di India sudah ketat dan sekarang El Nino muncul sebagai risiko utama. Jika curah hujan mengecewakan seperti yang diperkirakan, penanaman tebu akan terganggu.
“Kondisi tersebut bisa membuat India keluar dari pasar ekspor gula setidaknya selama tiga tahun,” katanya (Reuters, 22/6/2026).
Pada 2026/2027, India diperkirakan akan memproduksi 30,95 juta ton gula. Namun, produksi gula tersebut diperkirakan hanya mencapai 27,9 juta ton atau di bawah konsumsi tahunan sekitar 28,5 juta ton.
Sejak 13 Mei 2026, India juga memberlakukan larangan ekspor gula mentah dan gula olahan. Larangan ekspor gula tersebut berlaku hingga 30 September 2026. Pelarangan dilakukan untuk menjaga harga dan pasokan domestik di tengah tekanan konflik Amerika Serikat-Israel versus Iran dan ancaman El Nino.
Sementara itu, produksi gula di Brasil diperkirakan terpengaruh El Nino dan bakal banyak dialihkan untuk bahan baku etanol. Thailand yang juga produsen utama gula dunia juga dapat mengalami penurunan produksi gula akibat El Nino.





