Direktur Eksekutif Indonesian Packaging Federation (IPF) Henky Wibawa mengatakan konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama pertumbuhan industri kemasan. Kontribusi konsumsi terhadap produk domestik bruto (PDB) yang mencapai lebih dari 50%, ditambah pertumbuhan e-commerce dan pelaksanaan program pangan nasional, terus mendorong permintaan kemasan, terutama untuk sektor makanan dan minuman.
"Peluang konsumsi rumah tangga masih kuat. Selain menyumbang lebih dari 50% PDB, pertumbuhan e-commerce dan program pangan nasional yang mencapai sekitar 190 juta porsi makanan per hari ikut mendorong permintaan kemasan makanan dan minuman," kata Henky kepada Katadata.co.id, Jumat (10/7).
Meski demikian, dia menilai industri masih menghadapi sejumlah tantangan yang membatasi laju pertumbuhan. Salah satunya adalah dampak krisis pasokan nafta global yang sebelumnya sempat mendorong lonjakan harga biji plastik hingga 200%.
Walaupun harga bahan baku mulai mereda, dampaknya masih dirasakan pelaku industri melalui tingginya biaya input produksi. Kondisi itu, ditambah tekanan terhadap daya beli masyarakat, membuat permintaan menjadi lebih selektif.
Di sisi lain, industri juga harus beradaptasi dengan penerapan kebijakan lingkungan, seperti Extended Producer Responsibility (EPR) dan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, yang membutuhkan investasi tambahan.
"Regulasi baru terkait EPR dan pengurangan plastik sekali pakai menuntut adaptasi yang tidak mudah bagi pelaku industri," ujarnya.
Dengan berbagai tantangan tersebut, IPF memperkirakan nilai pasar industri kemasan pada 2026 tetap mampu tumbuh sekitar 5% hingga 6% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Menurut Henky, laju pertumbuhan tersebut memang lebih moderat dibandingkan ekspektasi pada awal tahun. Namun, prospeknya masih positif berkat dukungan konsumsi domestik dan investasi yang tetap berjalan.
Menghadapi kondisi tersebut, sebagian besar pelaku industri memilih menunda penambahan kapasitas produksi dan lebih fokus meningkatkan efisiensi operasional.
"Kecenderungan saat ini, pelaku usaha lebih memilih menahan ekspansi kapasitas dan fokus pada efisiensi biaya serta penyesuaian volume produksi," katanya.
Keputusan tersebut dipengaruhi oleh masih tingginya ketidakpastian harga bahan baku, risiko pelemahan daya beli masyarakat, serta meningkatnya biaya kepatuhan terhadap regulasi lingkungan.
Butuh Dukungan Kebijakan PemerintahUntuk menjaga momentum pertumbuhan industri, Henky berharap pemerintah memberikan dukungan melalui kebijakan yang dapat menciptakan kepastian usaha.
Menurut dia, stabilisasi harga energi dan bahan baku menjadi salah satu kebutuhan utama agar biaya produksi lebih terkendali. Selain itu, pelaku industri juga memerlukan insentif investasi bagi pengembangan teknologi daur ulang dan kemasan ramah lingkungan.
IPF juga mendorong pemerintah menjaga konsistensi implementasi regulasi Extended Producer Responsibility (EPR) sehingga pelaku usaha memiliki kepastian dalam menyusun rencana investasi jangka panjang.
"Selain itu, dukungan infrastruktur logistik juga diperlukan untuk memperkuat rantai pasok domestik dan meningkatkan daya saing industri kemasan nasional," ujar Henky.




