JAKARTA, DISWAY.ID-- Pebulu tangkis tunggal putra Indonesia, Alwi Farhan, menegaskan dirinya kini tak lagi memandang para atlet papan atas di dunia sebagai sosok yang harus ditakuti.
Baginya, begitu pertandingan dimulai, seluruh pemain memiliki kedudukan yang sama, yakni sebagai lawan yang harus dikalahkan.
BACA JUGA:Transformasi Digital Antar Bank Raya Raih Best Bank Awards 2026
Perubahan pola pikir itu menjadi salah satu kunci di balik performa impresif Alwi yang sukses menembus jajaran 10 besar dunia usai merebut gelar Indonesia Open 2026 dan Australia Open 2026.
Alwi mengakui, rasa hormat kepada para senior dan pemain elite dunia tetap ada. Namun, ia tidak ingin rasa kagum tersebut justru menghambat kepercayaan dirinya saat bertanding.
"Memang kita enggak boleh terlalu apa ya, terlalu melihat yang senior-senior itu seperti idola atau bagaimana. Karena memang ketika di lapangan juga mereka-mereka juga menjadi lawan saya," terang Alwi di Jakarta.
BACA JUGA:Pesona Hutan Mangrove Desa Modang, Destinasi Wisata Alam di Paser yang Wajib Dikunjungi
Perubahan mental tersebut mulai terbentuk ketika memperkuat Indonesia pada Sudirman Cup 2025.
Saat itu, Alwi menghadapi salah satu tunggal putra terbaik dunia, Anders Antonsen, dan mendapatkan banyak pelajaran berharga dari seniornya, Jonatan Christie.
Menurut Alwi, Jonatan memberikan nasihat sederhana yang mengubah cara pandangnya dalam menghadapi lawan-lawan elite.
"Sejak saya bertemu Anders Antonsen di Sudirman Cup. Ya, karena di belakang saya ada Ko Jonatan (Christie) juga. Jadi Ko Jo di waktu itu mungkin saya jadi tahu juga apa sih yang dipikirkan Ko Jonatan ketika bermain," terang Alwi
BACA JUGA:Prabowo Kembali Sebut Pihak Asing, Bocorkan PT Pindad dan Dirgantara Sempat Mau Dijual
Alwi masih mengingat betul pesan Jonatan yang memintanya bermain tanpa rasa takut, sekalipun menghadapi lawan dengan reputasi besar.
"Karena waktu itu Ko Jonatan juga bilang, ‘Enggak usah takut.’ Mau dia drama, mau dia, maksudnya mau dia ada nggak terima apa-apa, enggak usah sungkan," ungkap dia.
Wejangan tersebut menjadi bekal berharga bagi Alwi dalam membangun mental bertanding. Ia kini percaya bahwa setiap pemain, tanpa terkecuali, memiliki ambisi yang sama untuk memenangkan pertandingan.
- 1
- 2
- »





