Pelajaran Diplomasi dari Rachmat Gobel

detik.com
3 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Ketika seorang mahasiswa Indonesia di Tokyo tampak gugup menerjemahkan percakapan para pejabat dua negara, Rachmat Gobel tidak serta-merta mengambil alih. Ia membiarkan percakapan berlangsung beberapa saat, menyimak setiap kalimat dengan saksama. Baru setelah merasa ada beberapa pilihan kata yang belum sepenuhnya menangkap nuansa diplomasi Jepang, ia memberi isyarat halus dan mulai menerjemahkan sendiri.

Peristiwa itu kembali melintas di benak saya ketika menerima kabar Rachmat Gobel berpulang pada Jumat (10/7/2026) dini hari.

Pada pengujung November 2017, saya mendapat kesempatan mengikuti kunjungan kerja Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita ke Tokyo, Jepang, selama tiga hari. Turut dalam rombongan itu Rachmat Gobel yang saat itu menjabat Utusan Khusus Presiden untuk Jepang. Sebelumnya, ia pernah menjadi Menteri Perdagangan pada 2014-2015 sebelum estafet kepemimpinan kementerian itu dilanjutkan Enggartiasto. Keduanya sama-sama berasal dari Partai NasDem.

Selama tiga hari itulah saya melihat bagaimana dua pembantu Presiden Joko Widodo menjalankan peran yang berbeda, tetapi saling melengkapi. Enggartiasto memimpin berbagai pembicaraan resmi mengenai perdagangan dan investasi. Sementara Rachmat menghadirkan nilai tambah yang tidak dimiliki banyak orang: pemahaman mendalam tentang Jepang, mulai dari bahasa, budaya, etika, hingga jejaring yang dibangunnya selama puluhan tahun.

Salah satu pertemuan berlangsung dengan mantan Perdana Menteri Jepang Yasuo Fukuda yang ketika itu menjabat Ketua Asosiasi Jepang-Indonesia (Japinda). Kedutaan Besar Republik Indonesia menugaskan seorang mahasiswa Indonesia penerima beasiswa di Universitas Waseda sebagai penerjemah.

Mahasiswa itu tampak tenang, tetapi sesekali kegugupan terlihat dari raut wajahnya. Wajar saja. Menerjemahkan percakapan di hadapan mantan perdana menteri dan para pejabat tinggi kedua negara bukan pekerjaan sederhana.

Di situlah saya menyaksikan kemampuan yang selama ini hanya saya dengar dari banyak orang.
Bahasa Jepang Rachmat mengalir begitu alami. Ia tidak sekadar fasih berbicara, melainkan memahami tingkatan bahasa, pilihan diksi, hingga nuansa kesopanan yang menjadi bagian penting dalam budaya Jepang. Ia tahu kapan sebuah kalimat harus disampaikan secara lugas, kapan harus dipilih ungkapan yang lebih halus agar maknanya tetap sampai tanpa mengurangi rasa hormat kepada lawan bicara.

Kemampuan itu tentu tidak lahir dalam semalam. Rachmat pernah menempuh pendidikan di Chuo University, Tokyo, lalu menjalani praktik kerja di Matsushita Group sebelum membangun Gobel Group dan menjalin kemitraan panjang dengan Panasonic. Jepang bukan sekadar pasar atau mitra bisnis baginya. Negeri itu telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Namun, yang paling membekas justru terjadi setelah pertemuan berakhir. Alih-alih segera meninggalkan ruangan, Rachmat menghampiri mahasiswa tadi. Ia merangkul bahunya sambil tersenyum.

"Bahasa Jepangmu sudah baik. Tapi untuk diplomasi, pilihan kata dan cara menyampaikannya harus mengikuti kultur Jepang. Tidak bisa hanya memakai bahasa yang diajarkan di textbook."

Mahasiswa itu mengangguk hormat. "Terima kasih, Pak. Saya akan terus belajar."

Bagi saya, kalimat itu tidak terdengar sebagai teguran. Sebaliknya, saya melihat seorang senior sedang membimbing juniornya. Ia mengoreksi tanpa merendahkan, sekaligus memotivasi tanpa menggurui.

Pelajaran lain saya lihat dalam berbagai pertemuan berikutnya. Beberapa kali pembahasan membutuhkan penjelasan tambahan dari Rachmat. Namun, sebelum berbicara ia selalu menoleh lebih dahulu kepada Enggartiasto, seolah meminta persetujuan. Barulah setelah mendapat isyarat, ia menyampaikan pandangannya.

Sikap itu mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi saya sangat bermakna. Rachmat memahami posisinya sebagai Utusan Khusus Presiden dan menghormati kewenangan Menteri Perdagangan sebagai pemimpin delegasi. Ia tahu kapan harus tampil dan kapan memberi ruang kepada orang lain.

Hubungan keduanya juga terasa akrab di luar forum resmi. Saat makan siang, Rachmat seolah menjadi tuan rumah. Ia memilihkan berbagai hidangan khas Jepang. "Kalau mau wagyu yang benar-benar jempolan, nanti malam gue ajak ke restoran langganan," katanya. Enggartiasto tertawa.

Malam itu saya memilih tetap di kamar hotel untuk menulis beberapa berita yang harus segera dikirim ke redaksi di Jakarta. Keesokan paginya, Enggartiasto menggoda saya. "Eh, lu kok nggak ikut semalam? Bener-bener jempolan lho pilihan restorannya," katanya sambil melirik ke arah Rachmat. Saya hanya tertawa. "Ah, repot saya kalau makan pakai sumpit terus. Mending nulis berita."

Selama tiga hari kunjungan kerja itu, rombongan bertemu berbagai kalangan penting di Jepang. Mulai dari Presiden dan CEO Mitsubishi Corporation Takehiko Kakiuchi, Sekretaris Jenderal Liberal Democratic Party (LDP) Toshihiro Nikai, pimpinan Keidanren yang mewadahi sekitar 100 perusahaan besar Jepang, hingga jajaran direksi Aeon Group.

Dalam setiap pertemuan itu saya melihat pola yang sama. Enggartiasto memimpin jalannya diplomasi resmi, sementara Rachmat memperkuatnya melalui kedekatan personal, pemahaman budaya, dan jejaring yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun.
Kesan itu semakin terasa dalam Forum Bisnis Indonesia-Jepang. Alih-alih langsung menawarkan berbagai insentif investasi, Rachmat lebih dahulu mengajak para pelaku usaha Jepang mengenang sejarah panjang hubungan kedua negara.

Ia mengingatkan bagaimana Jepang pernah menjadi mitra penting Indonesia pada masa awal pembangunan. Gelora Bung Karno, Hotel Indonesia, Sarinah, Gedung TVRI, Jembatan Ampera, hingga berbagai proyek lain menjadi simbol eratnya kerja sama yang telah terjalin selama puluhan tahun.

Pesannya sederhana, tetapi mengena. Hubungan bisnis yang kokoh tidak hanya dibangun oleh angka perdagangan atau besarnya nilai investasi. Fondasinya adalah kepercayaan.

Hampir sembilan tahun kemudian, saya baru benar-benar memahami makna peristiwa ketika Rachmat mengoreksi terjemahan mahasiswa Indonesia di Tokyo itu. Ia tidak sedang menunjukkan bahwa dirinya lebih fasih berbahasa Jepang. Ia sedang memperlihatkan bahwa diplomasi dimulai dari hal-hal kecil: memilih kata yang tepat, memahami budaya lawan bicara, menghormati peran masing-masing, dan menjaga etika dalam setiap percakapan.

Pelajaran itulah yang saya bawa pulang dari perjalanan tiga hari di Tokyo. Selamat jalan, Pak Rachmat Gobel. Terima kasih atas teladan yang pernah saya saksikan secara langsung. Sebuah perjalanan yang hanya berlangsung tiga hari, tetapi meninggalkan pelajaran yang akan saya ingat jauh lebih lama.




(zap/zap)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KPK Tangkap 9 Orang dalam OTT Sukoharjo, Bupati hingga Pihak Swasta Dibawa ke Jakarta
• 23 jam lalurctiplus.com
thumb
Waketum PBNU KH Zulfa Mustofa Ajak Ulama Hidupkan Tradisi Menulis
• 2 jam laluviva.co.id
thumb
Bapanas pastikan ketersediaan pangan hadapi musim kemarau
• 11 jam laluantaranews.com
thumb
Saham BBRI-BBCA Cs Jadi Motor Penguatan IHSG Sepekan
• 1 jam laluidxchannel.com
thumb
TASPEN Salurkan Manfaat JKK & JKM Rp 1,08 M ke 2 Keluarga ASN di Kepri
• 16 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.