Kabar Duka kami terima pukul 04.32, Jumat (10/7/2026) di Group WhatsApp Komengsong. Nasihin Masha, wartawan senior, menyampaikan kabar duka tersebut. "Inna lillahi wa inna ilaihi Rojiun. Telah meninggal Bapak Rachmat Gobel pada Jumat, 10 Juli 2026, pada pukul 03.20 WIB. Info selanjutnya menyusul."
Kabar ini langsung direspons para wartawan senior, menteri, wakil menteri, mantan menteri, tokoh-tokoh nasional, budayawan, musisi, gubernur, dan politisi--anggota Komengsong. Rachmat termasuk anggota group WA yang dibuat wartawan senior Timbo Siahaan beberapa tahun lalu. Respons yang muncul adalah keterkejutan. Rachmat pergi selamanya dalam usia 63 tahun.
Ya Allah, begitu cepat. Tidak ada kabar sebelumnya bahwa pengusaha dan politisi baik ini sakit atau dirawat. Bahkan, menurut Bendahara Umum DPP Partai Partai Nasional Demokrat (NasDem) Ahmad Sahroni, siang sehari sebelumnya Rachmat masih ikut rapat di Fraksi NasDem. Kondisinya sehat. Menurut Sahroni, Rachmat meninggal dunia karena serangan jantung. (detik.com, Jumat (10/7).
Rachmat dipercaya menjadi Menteri Perdagangan pada era Presiden Joko Widodo. Setahun kemudian, Agustus 2015, Rachmat --yang dikenal idealis dan berintegritas tinggi-ini di-reshuffle. Rachmat digantikan Thomas Lembong. Tidak sampai setahun, Thom Lembong yang juga dikenal idealis, dicopot Jokowi pada Juli 2016.
Jenazah Rachmat dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, seusai sholat Jumat. Sejumlah tokoh nasional hadir saat pemakaman, di antaranya Wakil Presiden Ke-10 Jusuf Kalla, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie, sejumlah anggota DPR. Begitu juga di rumah duka, hadir antara lain Mantan Presiden Joko Widodo, Surya Paloh, juga beberapa pesohor.
Didikan KerasRachmat dikenal luas, mudah bergaul, dan bersahaja. Dilahirkan dari keluarga terpandang, industriawan dan politisi, 3 September 1962 di Jakarta. Status sosial ini tidak menjadikan Rachmat manja dan hidup bermewah-mewah. Ayahnya, Thayeb Mohammad Gobel --pelopor industri elektronika--mendidiknya disiplin dan keras.
Semasa SMP, saat libur sekolah, Rachmat bekerja di pabrik PT National Gobel, milik ayahnya. Tidak boleh naik mobil pribadi, harus naik angkot dan bus kota. “Saya mengepel, menyapu, membersihkan toilet, dan juga ikut kerja pabrik, sama seperti karyawan lainnya. Datang dan pergi harus mengisi absen,” kata Rachmat, yang dikutip Nasihin Masha dalam buku "Rachmat Gobel Membangun Kemakmuran".
Waktu berjalan. Rachmat diangkat ayahnya sebagai karyawan dengan jabatan ajudan direktur. Tugasnya membawa tas ayahnya, menyiapkan dokumen, ikut ke kantor Imigrasi, Kantor Pajak, dan Kantor Bea dan Cukai. Ada kalanya Rachmat menunggu di luar. Jika ada pekerjaan yang tak sesuai harapan, ayahnya menegur dengan sangat keras.
Selesai SMA, Rachmat melanjutkan pendidikan ke Jepang dan bekerja di Panasonic. Di sini, Rachmat menjadi buruh di perusahaan yang kerja sama dengan PT National Gobel. "Saya tidak diperlakukan sebagai mitra, tapi sebagai karyawan pada umumnya,” kata Rachmat.
Saat ayahnya mulai sakit-sakitan, Rachmat dipanggil ayahnya, diajak bicara secara khusus. “Ayah minta maaf atas caranya mendidik saya yang sangat keras. Saya memeluknya dan menangis. Semua rasa pedih hilang. Semua yang ayah lakukan ada maksudnya”, kenang Rachmat. “Saya dididik ayah untuk membunuh ego saya”.
Thayeb Mohammad Gobel wafat 21 Juli 1984 dalam usia 53 tahun. Semasa hidup, Mohammad Gobel dikenal sebagai pelopor industri elektronik. Pada 1950, Mohammad Gobel melalui perusahaannya, PT Transistor Radio Manufacturing, memproduksi radio transistor bermerek Tjawang. Inilah radio pertama buatan Indonesia.
Radio Tjawang --berasal dari nama Cawang, Jakarta Timur, lokasi produksi pertama radio-- dapat menangkap gelombang short wave (SW), menggunakan baterai, dan menerima siaran RRI dari Jakarta untuk seluruh pelosok wilayah Indonesia. Semangat Mohammad Thayeb Gobel, memprodukdi radio ini tidak sekadar hiburan rakyat, tapi juga menyatukan Indonesia. Semangat kebangsaan yang sangat kuat.
Sukses membuat lebih sejuta radio, Mohammad Gobel memproduksi sekitar 10 ribu televisi hitam putih menjelang Asian Games 1962 di Jakarta. Siaran Asian Games yang dipancarkan TVRI, menyebar ke seluruh Indonesia. Bekerja sama dengan Matsushita Electric Industrial Co. Jepang, usaha Gobel terus meningkat pesat.
Setelah ayahnya wafat, Rachmat dipercaya memimpin PT National Gobel saat berusia 22 tahun. National Gobel terus mengembangkan industri, di antaranya alat-alat elektronik, alat rumah tangga, kimia, properti, transportasi, juga logistik. PT Panasonic Gobel Indonesia, kemudian menjadi Gobel Group.
Selain pengusaha, darah politik ayahnya juga mengalir deras pada Rachmat. Ayahnya merupakan deklarator Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dari unsur Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) pada Januari 1973. Di PPP, Thayeb Gobel dipercaya sebagai Wakil Ketua Umum, bersama HM Mintaredja, Rusli Halil, dan Haji Masykur. Ketua Umumnya, KH Idham Chalid.
Filosofi Pohon PisangJuni 2012 sore, saya dan N Syamsuddin Ch Haesy berkunjung ke kantor Rachmat Gobel di Cawang, Jakarta Timur. Kantor satu lantai ini terkesan tua. Suasana semakin terasa di sebuah ruangan di sudut kanan kompleks perkantoran yang luas ini. Ada seperangkat kursi lama, meja kayu, lukisan, dan radio berkaki empat.
"Ini ruangan ayah saya, sejak dulu tidak berubah, bahkan posisi kursi dan meja tetap seperti dulu. Saya mempertahan keasliannya sebagai kenangan dan juga spirit," ujar Rachmat Gobel. Ruangan ini seakan jendela masa lalu.
Ketika sejumlah pengusaha membangun kantor megah, bertingkat, dan perlengkapan mewah, Rachmat justeru merawat ruangan berusia puluhan tahun di pojok kantor pusat Panasonic Gobel. Tidak hanya satu ruangan, tapi hampir semua bangunan di kompleks ini tetap berlantai satu dan desain lama --berjejer, mirip ruang-ruang sekolah.
Merawat ruangan warisan masa lalu --yang dibangun pada sekitar 1954 --merupakan bagian dari kecintaan, penghormatan, dan kebanggaan besar seorang anak pada almarhum ayahnya.
Bagi Rachmat, ayahnya adalah contoh dan teladan. Filosofi Pohon Pisang --yang dipopulerkan Thayeb Mohammad Gobel-- menjadi jalan baginya dalam bersikap dan bertindak. Pohon Pisang antara lain bermakna memberi manfaat bagi manusia, regenerasi, dan kebersamaan. Daunnya yang lebar untuk melindungi anak-anaknya yang tumbuh. Pohon pisang tidak akan mati sebelum anak-anaknya tumbuh di sekitarnya.
Filosofi ini diwariskan Rachmat pada dua anaknya, Nurfitria Sekarwillis Kusumawardhani dan Mohammad Arif Gobel. Saat masih SMA, Arief sudah belajar bekerja di pabrik. Tanpa sepengetahuan orangtuanya, ia mendaftar pelatihan untuk magang di pabrik. Selama masa pelatihan, ia tidur di asrama karyawan sebagaimana umumnya. Sehingga pas liburan sekolah ia bekerja di pabrik dan tinggal di asrama karyawan.
Walaupun anak Rachmat Gobel, Arief meniti karier dari bawah, bukan direktur di perusahaan ayahnya. “Saya menjadi sales, menjadi bagian marketing. Saya masih belajar jualan keliling Indonesia,” katanya seperti dikutip AkarpadiNews.com, 16 April 2023. Sebagai sales, kata Arief, ia belajar mengenali karakter orang-orang, belajar melakukan komunikasi dan marketing, dan belajar membangun jejaring.
Filosofi Pohon Pisang, yang mengayomi itu pula yang mendorong Yayasan Matsushita Gobel (YMG) yang dipimpin Rachmat bekerja sama dengan Sekolah Hukum Harvard Law School (HLS) untuk studi dan penelitian tentang reformasi hukum di Asia Tenggara dan Indonesia.
Perjanjian kerja sama itu ditandatangani Dekan Harvard Law School Martha Minow dan Rachmat Gobel di Cambridge, Massachusetts, AS, Senin (22/10/2012). Yayasan akan memberikan dana penelitian kepada Havard Law School (HLS) selama lima tahun, termasuk beasiswa untuk mahasiswa Harvard yang melakukan penelitian.
Kerja sama ini memperlihatkan kepedulian Rachmat Gobel pada reformasi hukum, suatu yang krusial di Indonesia. Hukum yang seharusnya untuk terjaminnya keadilan, bergeser menjadi alat pemukul efektif, tidak saja kepada lawan-lawan politik, tetapi juga orang-orang yang tidak berdaya, orang-orang miskin, dan terpinggirkan. Rakyat awam kehilangan tempat bersandar untuk keadilan.
Rachmat pergi sebelum menyaksikan hukum tegak sempurna untuk semua orang di Indonesia.
Selamat jalan sahabat, kami mencatat dan meneladani ketokohan, idealisme, dan filosofi Pak Rachmat--menyebarkan sebanyaknya kebaikan, memberi manfaat bagi banyak orang. Pergilah dengan amal jariyah yang terus mengalir selamanya, tidak putus-putusnya.
Temuilah Yang Maha Pencipta, Yang Maha Adil (Al-‘Adl).
Jakarta, 11 Juli 2026.





