Sound Horeg dan Kesehatan, Ini Detail Pengaruhnya

bisnis.com
1 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, MALANG — Tren hiburan sound horeg dengan dentuman pengeras suara berskala masif kini semakin menjamur di berbagai daerah khususnya Malang Raya sebagai sensasi hiburan yang meriah dan memuaskan. Namun demikian, di balik euforia tersebut tersimpan ancaman serius bagi kesehatan pancaindra, yakni dapat memicu kerusakan pendengaran parsial hingga level tuli permanen.

Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Indra Setiawan, mengatakan secara medis, batas aman paparan suara menurut standar Kementerian Kesehatan dan lembaga kesehatan dunia (WHO) adalah maksimal 85 desibel selama delapan jam per hari.

“Kenyataannya, tingkat kebisingan pengeras suara sound horeg umumnya berada di ambang batas ekstrem, yakni berkisar antara 120 hingga 135 desibel. Kenaikan intensitas suara ini memiliki rumus yang sangat mengkhawatirkan,” ujarnya, Sabtu (11/7/2026).

Menurutnya, setiap penambahan tiga desibel, batas waktu aman untuk mendengarkannya akan berkurang menjadi separuh. Artinya, jika seseorang terpapar suara sebesar 121 desibel, batas toleransi amannya hanyalah tujuh detik. Bahkan, jika mencapai kekuatan 130 desibel, telinga manusia hanya mampu bertahan selama 1,5 detik sebelum risiko kerusakan organ terjadi.

"Kerusakan paling rentan terjadi pada bagian telinga dalam atau koklea, tepatnya pada sel-sel rambut koklea yang berfungsi mengubah energi suara menjadi impuls listrik ke otak, dan jika sel ini rusak parah maka sifatnya permanen serta tidak bisa diperbaiki," tegasnya.

Selain kerusakan pada sel rambut, kata dia, paparan desibel tinggi membawa risiko trauma tekanan pada organ telinga tengah.

Baca Juga

  • Viral, Perahu Pengangkut Sound Horeg Raksasa Tenggelam saat Tradisi Nyadran di Sidoarjo
  • Dua Sisi Sound Horeg yang Dipuja Penikmatnya Secara Berlebihan
  • Dokter THT Paparkan Bahaya Sound Horeg bagi Pendengaran

Indra mendapati fakta memprihatinkan di lapangan saat banyak orang tua justru sengaja mengangkat balita mereka mendekati sumber suara demi kesenangan sesaat. Padahal, telinga yang berdenging setelah mendengar dentuman keras merupakan alarm bahaya pertama dari tubuh.

Berdasarkan pengalaman klinisnya, pascapergelaran acara bernuansa kebisingan tinggi di kawasan Malang, jumlah pasien yang mengeluhkan penurunan fungsi pendengaran selalu mengalami lonjakan. Ironisnya, penderita sering kali tidak menyadari bahwa dirinya mulai mengalami tuli hingga merasa kesulitan saat berinteraksi.

"Tekanan udara dari suara yang terlalu keras jika didengarkan dari jarak dekat dapat merusak tulang-tulang peredam pendengaran, bahkan berisiko membuat gendang telinga mengalami robekan yang membutuhkan tindakan operasi," urainya.

Menyikapi fenomena ini, dia mengingatkan, penggunaan alat pelindung telinga sederhana seperti penyumbat busa dinilai kurang efektif karena hanya mampu meredam sekitar 10 desibel.

Langkah preventif paling logis bagi masyarakat, terutama kelompok rentan adalah menjauhi lokasi acara. Sebagai wujud nyata pengabdian, UMM hadir menawarkan solusi taktis. Perguruan tinggi ini memiliki kelengkapan instrumen ukur kebisingan yang presisi dan siap memfasilitasi pemetaan zona aman di lingkungan warga.

"UMM memiliki alat pengukur suara yang sangat memadai, sehingga kami dari Fakultas Kedokteran sangat siap bersinergi dengan pemerintah daerah maupun institusi terkait guna memetakan jarak aman agar hiburan seni tetap bisa berjalan tanpa mengorbankan kesehatan masyarakat," ucapnya. (K24)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sugiono dan Menlu Iran Bahas Situasi Regional hingga Penguatan Hubungan Bilateral
• 12 jam lalupantau.com
thumb
B50 Diluncurkan, Mampukah Indonesia Benar-Benar Mandiri Energi?
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Menko Polkam Dukung Polri Usut 3 Kasus Korupsi: Percayakan ke Penegak Hukum
• 22 jam laludetik.com
thumb
Febrie Adriansyah Mengundurkan Diri dari Jabatan Jampidsus, Surat Sudah Diterima Jaksa Agung
• 14 jam lalukompas.tv
thumb
Polisi di Buton Tepergok Berduaan bareng Jaksa Wanita
• 21 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.