Peluncuran mahakarya bernama “Launch Ceremony of the mRNA Tetravalent Dengue Vaccine Prototype” ini digelar di Gedung Kementerian Kesehatan RI pada Rabu, 8 Juli 2026. Ini bukan sekadar riset di atas kertas, melainkan wujud nyata sinergi pentahelix (pemerintah, kampus, industri, dan mitra global) demi melepaskan ketergantungan Indonesia pada vaksin impor.
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan betapa krusialnya penguasaan teknologi vaksin secara mandiri. Mengingat, dari 13 jenis vaksin nasional, baru empat yang bahan bakunya murni dari dalam negeri.
“Kami membutuhkan dukungan para peneliti, perguruan tinggi, BRIN, kementerian yang membidangi riset, serta mitra industri agar hasil penelitian tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat diterjemahkan menjadi produk yang menyelamatkan nyawa. Indonesia harus mampu mengembangkan vaksin dari tahap riset hingga diproduksi sepenuhnya di dalam negeri,” ujar Budi dikutip dari siaran pers UI, Sabtu, 11 Juli 2026.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Prof. Stella Christie, Ph.D, turut mengapresiasi terobosan ini sebagai bukti bahwa dunia percaya pada kepiawaian periset lokal.
“Kemajuan ilmu pengetahuan akan memberikan dampak nyata apabila hasil penelitian mampu diterjemahkan menjadi inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Kolaborasi seperti ini menunjukkan bahwa riset Indonesia mampu menghasilkan solusi bagi tantangan kesehatan global,” kata Stella. Diplomasi Akademik dan Canggihnya Teknologi AI Rektor UI, Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah, S.T., M.Eng., IPU, menyoroti kemitraan lintas negara ini sebagai level tertinggi dari sebuah diplomasi akademik. “UI dan Tsinghua University membangun kerja sama akademik, sekaligus bersama-sama mengembangkan teknologi medis yang berpotensi menyelamatkan banyak nyawa. Dengan dukungan pemerintah dan industri, kami berharap inovasi ini dapat bergerak dari laboratorium menuju uji klinis hingga dimanfaatkan masyarakat,” ujar Heri.
Senada dengan hal itu, Vice President of Tsinghua University, Wu Huaqiang, menyatakan rasa optimismenya terhadap potensi teknologi mRNA. “Kolaborasi ini tidak hanya bertujuan memperkuat kapasitas riset vaksin Indonesia, tetapi juga mengembangkan talenta bioteknologi serta menjadi model kerja sama internasional dalam menghadapi ancaman penyakit infeksi di kawasan Asia,” ujarnya.
Lalu, apa yang bikin vaksin ini super canggih? Tim periset yang dipimpin oleh Prof. Dra. Beti Ernawati Dewi, Ph.D, meracik vaksin ini secara khusus menggunakan strain virus dengue asli yang beredar di Indonesia. Artinya, perlindungan yang diberikan akan jauh lebih "nyambung" dan optimal untuk masyarakat kita.
Kerennya lagi, mereka menyuntikkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk memprediksi mutasi virus di masa depan. “Pengembangan vaksin ini tidak hanya menghasilkan kandidat vaksin, tetapi juga memperkuat kapasitas peneliti Indonesia melalui transfer teknologi, pertukaran pengetahuan, dan pengembangan kompetensi di bidang vaksin generasi baru. Kami berharap inovasi ini dapat menjadi solusi bagi tingginya beban penyakit dengue di Indonesia maupun dunia,” ujar Beti.
Selain disokong AI, vaksin ini didesain dengan modifikasi fusion loop untuk mencegah risiko antibody-dependent enhancement (ADE). Sederhananya, antibodi yang dihasilkan dijamin tidak akan "berkhianat" membantu virus, melainkan akan merespons dengan kuat dan aman. Siap Merajai Dunia Vaksin Didanai penuh oleh LPDP sejak 2023 dan digarap bersama mitra industri PT Etana Biotechnologies Indonesia, riset ini ditargetkan menyelesaikan masa uji praklinisnya dalam tiga tahun ke depan, sebelum nantinya diproduksi secara massal.
Menurut Beti, Indonesia masih berpacu dengan sejumlah negara, termasuk Thailand, dalam pengembangan vaksin dengue generasi baru. Meski bukan negara dengan jumlah kasus dengue tertinggi di dunia, Indonesia memiliki angka kematian akibat dengue yang relatif tinggi.
"Karena itu, keberhasilan pengembangan kandidat vaksin ini diharapkan tidak hanya mampu menurunkan keparahan penyakit, tetapi juga menjadi tonggak penting dalam memperkuat kemandirian bangsa di bidang vaksin, teknologi biomedis, dan ketahanan kesehatan nasional,” ujar Beti.
Lompatan luar biasa dari Universitas Indonesia ini menjadi bukti valid bahwa talenta Indonesia siap memimpin barisan inovasi medis global dan menjamin ketahanan kesehatan bangsa. Keren banget, kan, Sobat Medcom?
Baca Juga :
Awas Heat Stroke! Riset UGM Ungkap Suhu di Dalam Rumah Juga Punya Potensi BahayaJadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)





