Denpasar (ANTARA) - Gubernur Bali Wayan Koster mengajukan rencana pengembangan Bandar Udara Letkol Wisnu di Buleleng ke Kementerian Perhubungan.
"Kami telah merencanakan pengembangan Bandar Udara Letkol Wisnu menjadi bandara khusus untuk melayani kebutuhan khusus, seperti pendaratan darurat apabila di Ngurah Rai mengalami problem, sebagai layanan privat jet, penerbangan carter, logistik dan peralatan,” kata Koster dalam keterangan yang diterima di Denpasar, Sabtu.
Gubernur menyampaikan sebagai bentuk keseriusan program ini, Pemprov Bali sudah membentuk badan usaha dan berencana membebaskan lahan.
Apabila ada yang hendak bergabung untuk investasi, Pemprov Bali sangat terbuka mengundang adanya investasi yang masuk.
"Untuk itulah, kami harapkan Bandar Udara Letkol Wisnu ini bisa mengatasi masalah lalu lintas udara di Bali, dan sampai saat ini belum berfikir untuk mengembangkan bandara komersial seperti Bandara Ngurah Rai,” ujarnya.
"Bali ini kecil kita harus mencegah lahan yang produktif agar tidak tergerus dan terancamnya pangan beserta ekosistem subak yang telah ada, hal ini juga bagian untuk mewujudkan quality tourism di Bali,” sambung Koster.
Dalam kesempatan tersebut, selain membahas optimalisasi Bandar Udara Letkol Wisnu untuk meringankan beban pelayanan transportasi udara di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Gubernur Koster juga menyinggung revitalisasi Pelabuhan Celukan Bawang di Kabupaten Buleleng dengan menyediakan transportasi Kapal Roro untuk memecah kepadatan arus transportasi di Denpasar-Gilimanuk di saat musim libur atau mudik Idul Fitri.
Selain itu juga membahas proses pembangunan Pelabuhan Kusamba di Kabupaten Klungkung, Pelabuhan Amed di Kabupaten Karangasem, dan Pelabuhan Sangsit di Kabupaten Buleleng.
Baca juga: PTDI siapkan SDM penerbangan andal topang Bandara Bali Utara
Terakhir mengenai pembangunan transportasi taksi laut di Kabupaten Badung untuk meningkatkan konektivitas Bandara I Gusti Ngurah Rai-Canggu, sekaligus mengurangi kemacetan dengan waktu tempuh yang sebelumnya 1,5-2 jam, menjadi 30 menit.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi kemudian menyampaikan dirinya sangat serius dengan masalah transportasi di Bali, karena Pulau Dewata merupakan magnet bagi masyarakat dunia ke Indonesia.
Menhub menyadari adanya kapasitas Bandara Ngurah Rai yang terbatas ditambah dengan kapasitas penyeberangan laut yang kurang memadai di tengah tingginya jumlah masyarakat yang berpergian ke Bali, hingga akhirnya menimbulkan kepadatan lalu lintas yang cukup besar.
Maka untuk transportasi udara, Bandar Udara Letkol Wisnu akan ditawarkan pengerjaannya kepada investor dan akan fokus di bandara ini.
‘’Ini adalah pengembangan bandara eksisting, harapan kita bisa diwujudkan, agar Bali Utara bisa berkembang seperti di Bali Selatan,” ucapnya.
Menhub Dudy memastikan menutup wacana Bandara Bali Utara di Kubutambahan yang sempat ramai menjadi perdebatan.
“Saya akan pastikan di Letkol Wisnu, Buleleng menjadi fokus kami, karena kondisinya relatif clear dan tidak ada lagi mengenai masalah lahan, termasuk lingkungan hidup,” tuturnya.
Sementara itu terkait infrastruktur laut, Menhub menyampaikan pihaknya sudah meminta Pelindo yang memiliki Pelabuhan Celukan Bawang agar direvitalisasi, sehingga bisa menampung penyeberangan dari Jangkar dan Banyuwangi.
Untuk Pelabuhan Amed dan Sangsit, lahannya akan ditawarkan ke pihak swasta, dan fungsinya masih akan dipikirkan.
Menurut dia, yang terpenting ke depan, pelabuhan ini, termasuk di Kusamba, Klungkung, harus dikembangkan, karena bisa menjadi industri pariwisata yang berbeda dengan pariwisata di Bali Selatan.
Sedangkan program taksi laut di Kabupaten Badung, Dudy berharap bulan November 2026 sudah selesai fasilitasnya di kawasan Ngurah Rai.
“Mudah-mudahan ini bisa terwujud sebagai alternatif transportasi dalam mengatasi kepadatan jalan di Canggu,” ucapnya.
Baca juga: Dubes RI untuk Singapura: Bandara Bali Utara upaya pemerataan ekonomi
Baca juga: Pemprov tegaskan belum ada penentuan lokasi bandara di Bali Utara
"Kami telah merencanakan pengembangan Bandar Udara Letkol Wisnu menjadi bandara khusus untuk melayani kebutuhan khusus, seperti pendaratan darurat apabila di Ngurah Rai mengalami problem, sebagai layanan privat jet, penerbangan carter, logistik dan peralatan,” kata Koster dalam keterangan yang diterima di Denpasar, Sabtu.
Gubernur menyampaikan sebagai bentuk keseriusan program ini, Pemprov Bali sudah membentuk badan usaha dan berencana membebaskan lahan.
Apabila ada yang hendak bergabung untuk investasi, Pemprov Bali sangat terbuka mengundang adanya investasi yang masuk.
"Untuk itulah, kami harapkan Bandar Udara Letkol Wisnu ini bisa mengatasi masalah lalu lintas udara di Bali, dan sampai saat ini belum berfikir untuk mengembangkan bandara komersial seperti Bandara Ngurah Rai,” ujarnya.
"Bali ini kecil kita harus mencegah lahan yang produktif agar tidak tergerus dan terancamnya pangan beserta ekosistem subak yang telah ada, hal ini juga bagian untuk mewujudkan quality tourism di Bali,” sambung Koster.
Dalam kesempatan tersebut, selain membahas optimalisasi Bandar Udara Letkol Wisnu untuk meringankan beban pelayanan transportasi udara di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Gubernur Koster juga menyinggung revitalisasi Pelabuhan Celukan Bawang di Kabupaten Buleleng dengan menyediakan transportasi Kapal Roro untuk memecah kepadatan arus transportasi di Denpasar-Gilimanuk di saat musim libur atau mudik Idul Fitri.
Selain itu juga membahas proses pembangunan Pelabuhan Kusamba di Kabupaten Klungkung, Pelabuhan Amed di Kabupaten Karangasem, dan Pelabuhan Sangsit di Kabupaten Buleleng.
Baca juga: PTDI siapkan SDM penerbangan andal topang Bandara Bali Utara
Terakhir mengenai pembangunan transportasi taksi laut di Kabupaten Badung untuk meningkatkan konektivitas Bandara I Gusti Ngurah Rai-Canggu, sekaligus mengurangi kemacetan dengan waktu tempuh yang sebelumnya 1,5-2 jam, menjadi 30 menit.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi kemudian menyampaikan dirinya sangat serius dengan masalah transportasi di Bali, karena Pulau Dewata merupakan magnet bagi masyarakat dunia ke Indonesia.
Menhub menyadari adanya kapasitas Bandara Ngurah Rai yang terbatas ditambah dengan kapasitas penyeberangan laut yang kurang memadai di tengah tingginya jumlah masyarakat yang berpergian ke Bali, hingga akhirnya menimbulkan kepadatan lalu lintas yang cukup besar.
Maka untuk transportasi udara, Bandar Udara Letkol Wisnu akan ditawarkan pengerjaannya kepada investor dan akan fokus di bandara ini.
‘’Ini adalah pengembangan bandara eksisting, harapan kita bisa diwujudkan, agar Bali Utara bisa berkembang seperti di Bali Selatan,” ucapnya.
Menhub Dudy memastikan menutup wacana Bandara Bali Utara di Kubutambahan yang sempat ramai menjadi perdebatan.
“Saya akan pastikan di Letkol Wisnu, Buleleng menjadi fokus kami, karena kondisinya relatif clear dan tidak ada lagi mengenai masalah lahan, termasuk lingkungan hidup,” tuturnya.
Sementara itu terkait infrastruktur laut, Menhub menyampaikan pihaknya sudah meminta Pelindo yang memiliki Pelabuhan Celukan Bawang agar direvitalisasi, sehingga bisa menampung penyeberangan dari Jangkar dan Banyuwangi.
Untuk Pelabuhan Amed dan Sangsit, lahannya akan ditawarkan ke pihak swasta, dan fungsinya masih akan dipikirkan.
Menurut dia, yang terpenting ke depan, pelabuhan ini, termasuk di Kusamba, Klungkung, harus dikembangkan, karena bisa menjadi industri pariwisata yang berbeda dengan pariwisata di Bali Selatan.
Sedangkan program taksi laut di Kabupaten Badung, Dudy berharap bulan November 2026 sudah selesai fasilitasnya di kawasan Ngurah Rai.
“Mudah-mudahan ini bisa terwujud sebagai alternatif transportasi dalam mengatasi kepadatan jalan di Canggu,” ucapnya.
Baca juga: Dubes RI untuk Singapura: Bandara Bali Utara upaya pemerataan ekonomi
Baca juga: Pemprov tegaskan belum ada penentuan lokasi bandara di Bali Utara





