Moskow (ANTARA) - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengancam akan menyerang pangkalan-pangkalan musuh di Timur Tengah apabila terjadi agresi lanjutan terhadap Iran, menyusul keputusannya menutup Selat Hormuz, menurut laporan Press TV.
IRGC mengumumkan penutupan Selat Hormuz setelah sebuah kapal tak bernama berupaya melintasi selat tersebut dengan sistem identifikasi dimatikan dan menggunakan jalur yang tidak sah.
Korps elite Iran itu menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga intervensi Amerika Serikat di kawasan tersebut berakhir.
"Jika musuh melakukan tindakan agresi baru terhadap kami, tindakan itu akan dibalas dengan respons yang keras, dan pangkalan-pangkalan musuh lainnya di kawasan akan menjadi sasaran," demikian pernyataan IRGC yang dikutip oleh stasiun televisi tersebut.
Sebagaimana diwartakan, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) pada Rabu (8/7) mengonfirmasi bahwa AS telah melancarkan serangan lanjutan terhadap Iran dengan menargetkan militer Iran di Selat Hormuz.
"Atas arahan Panglima Tertinggi, pasukan Komando Pusat Amerika Serikat telah memulai serangan tambahan terhadap Iran guna semakin melemahkan kemampuannya mengancam kebebasan navigasi di Selat Hormuz," demikian pernyataan CENTCOM.
"Amerika Serikat meminta Iran bertanggung jawab atas agresi baru-baru ini yang tidak dapat dibenarkan terhadap kapal-kapal niaga dan awak sipil yang berlayar di jalur pelayaran internasional yang vital," lanjut pernyataan tersebut.
Sebelumnya pada Rabu pagi, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran sudah tidak lagi berlaku.
Beberapa jam kemudian, media Iran melaporkan terdengar ledakan di sejumlah kota di wilayah selatan negara itu.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: IRGC klaim serang pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain
Baca juga: AS mendesak Iran untuk mengakui Selat Hormuz tetap terbuka
Baca juga: Pakistan desak AS, Iran agar tidak merusak perdamaian dan stabilitas
IRGC mengumumkan penutupan Selat Hormuz setelah sebuah kapal tak bernama berupaya melintasi selat tersebut dengan sistem identifikasi dimatikan dan menggunakan jalur yang tidak sah.
Korps elite Iran itu menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga intervensi Amerika Serikat di kawasan tersebut berakhir.
"Jika musuh melakukan tindakan agresi baru terhadap kami, tindakan itu akan dibalas dengan respons yang keras, dan pangkalan-pangkalan musuh lainnya di kawasan akan menjadi sasaran," demikian pernyataan IRGC yang dikutip oleh stasiun televisi tersebut.
Sebagaimana diwartakan, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) pada Rabu (8/7) mengonfirmasi bahwa AS telah melancarkan serangan lanjutan terhadap Iran dengan menargetkan militer Iran di Selat Hormuz.
"Atas arahan Panglima Tertinggi, pasukan Komando Pusat Amerika Serikat telah memulai serangan tambahan terhadap Iran guna semakin melemahkan kemampuannya mengancam kebebasan navigasi di Selat Hormuz," demikian pernyataan CENTCOM.
"Amerika Serikat meminta Iran bertanggung jawab atas agresi baru-baru ini yang tidak dapat dibenarkan terhadap kapal-kapal niaga dan awak sipil yang berlayar di jalur pelayaran internasional yang vital," lanjut pernyataan tersebut.
Sebelumnya pada Rabu pagi, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran sudah tidak lagi berlaku.
Beberapa jam kemudian, media Iran melaporkan terdengar ledakan di sejumlah kota di wilayah selatan negara itu.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: IRGC klaim serang pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain
Baca juga: AS mendesak Iran untuk mengakui Selat Hormuz tetap terbuka
Baca juga: Pakistan desak AS, Iran agar tidak merusak perdamaian dan stabilitas





